Oleh: Suyito Basuki *)
Ruang pringgitan, siang hari Nyi Sutejo sedang menembangkan syair Ladrang Sri Slamet, sementara Danang mengiringinya dengan rebab.
Kadange dhewe jarwa surya
Ya ndhuk surya lumebeng ancala
Gones-gones srengging karsa
Kancane dhewe mung nedya nyumurupana…
Fitri masuk pintu samping dengan membawa baki.
Nyi Sutejo berhenti saat melihat Fitri,”Gimana to ndhuk, kok sampai bapak lupa dibawakan minum? Hayo taruh di dapur dulu bakinya.”
Fitri memegang kepalanya, duduk di samping ibunya,”Ntar bu, pusing saya.”
Nyi Sutejo ikut memegang kepala anak gadisnya,”Pusing kenapa? Ya kalau pusing beneran, minum obat.”
Danang menghentikan tabuhannya,”Itu lho bu, pusing ngitung jumlah mas-masnya yang lagi latihan, sama pusing ‘nglihat yang lagi ngendang itu lho, he…he…he.”
Fitri melotot,”Diam kamu Nang, tak jewer lho kupingmu.”
Danang meledek sambil berdiri,”Saking pusingnya sampai mau njewer orang segala.”
Fitri ikut berdiri, gemas,”Awas kamu!” Fitri mengejar Danang. Danang berlari ke gandhok dan ke dapur, Nyi Sutejo geleng-geleng kepala.
Bagas baru saja dari kamar kecil. Bagas akan melewati pintu yang menghubungkan dapur dan gandhok. Pintu bertirai. Hampir saja tertabrak Danang yang tengah berlari.
Danang memegang bahu Bagas,”Eit, maaf mas.” Bagas melihat Danang, Fitri menabraknya. Fitri hampir jatuh, Bagas memegang lengannya. Fitri rasa bersalah,”Eh, maaf, nggak sengaja.”
Bagas bertanya sambil melepas lengan Fitri,”Nggak apa-apa. Ngejar apa sih?”
Fitri tersenyum kecut,”Tuh, Danang yang usil.” Danang meledek dan lari lewat pintu yang menuju halaman samping.
”Eh, sekali lagi maaf.” Fitri menatap Bagas, terus berbalik masuk, Bagas menghela nafas, tersenyum.
Sebuah kampus seni yang luas. Kesibukan mahasiswa terlihat di sana-sini. Mahasiswa teater terlihat melakukan happening art di halaman fakultasnya. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk unjuk rasa di DPR minggu depan. Ada tulisan-tulisan: “Turunkan Biaya Uang Kuliah,” “Kampus melayani Rakyat!”, “Pendidikan Bukan Hanya Untuk Kaum Elit”, “Kewajiban Negara mencerdaskan Bangsa”,dan tulisan provokatif lainnya.
Terlihat Fitri bersama karibnya Vita melewati kumpulan mahasiswa-mahasiswa yang sedang sibuk itu, siang hari yang terik.
Vita memulai percakapan,”Eh, kenapa sih kamu akhir-akhir ini menjauhi si Bramastho anak teater itu? Baru ada masalah ya?”
Fitri menjawab sekenanya,”Nggak tahulah, Cuma aku merasa nggak nyaman saja. Kebiasaannya minum kambuh lagi. Aku juga mulai curiga, jangan-jangan dia juga mulai mengkonsumsi narkoba lagi.”
Vita bertanya sambil melihat wajah Fitri,”Bukankah sudah menjadi komitmenmu dulu, bahwa kamu mau menerima dia apa adanya?”
Fitri balas menatap Vita tajam,”Vita, tahukah kamu arti komitmenku dulu itu. Itu artinya aku mau menerima Bramastho yang sudah sadar dengan kesalahan masa lalunya. Aku tidak mempersoalkan masa lalunya yang tidak karuan. Aku hanya mau jalan dengan Bramastho yang sudah hidup baru. Kalau sekarang dia berbuat pada kesalahan lagi, itu persoalan lain yang di luar komitmenku. Dan aku berhak mengambil keputusan baru sehubungan dengan itu. Aku berhak menyelamatkan diriku dari kehancuranku.”
Vita bertanya penuh selidik,”Kamu yakin bahwa Bramastho seperti yang kamu gambarkan?”
“Seyakin-yakinnya. Bukankah aku sudah jalan sama dia satu tahun ini? Yang paling meyakinkan adalah info dari Tommy sabahat dekat kita. Kamu tahu kan dia sudah lepas dari kecanduan barang-barang maksiat itu? Sayang dia terbunuh mengerikan di kamar kosnya.” Fitri menyodorkan sebuah harian local yang halaman depannya tertulis: “SEORANG MAHASISWA TEWAS TERGOROK DI KAMAR KOSNYA.”
Di tengah percakapan, Bramastho dan teman-temannya: Gembrot dan Kapuk mendekat.
(Bersambung)
*) Penulis tinggal di Ambarawa
*) Gambar ilustrasi dari Radar Madiun








Asyiiikkkk…..