Writing is Healing

Fiksi100 Dilihat

Oleh: Erna Widyaningsih *)

Sore itu mendung menggelayut, tetapi aku sudah buat janji dengan teman-teman  untuk pergi ke Radio Suara Salatiga mengisi acara Bincang Komunitas. Meski mendung tidak menyurutkan langkah kami menuju lokasi yang perjalanannya memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Kebetulan saat ini perutku sakit banget, diare. Gara- gara kemarin makan ayam geprek yang pedas banget dan telat makan. Memang perutku sudah tidak normal, maag, asam lambung juga. Sudah lama ku mengalaminya. Makan pedas tidak bisa, asam tidak nyaman, apalagi terlambat makan, menyebabkan perutku rasanya tidak karuan, sakit bukan kepalang.

Rasa sakit yang kurasa kutahan karena ada rasa bahagia, sebentar lagi akan siaran di radio dengan komunitas menulisku, meskipun ada rasa cemas, takut perutku bunyi atau diare.  Ku tunggu mobil teman yang akan menjemputku dengan perasaan kacau. Takut kalau nanti pas siaran perutku bermasalah.

” Kinanti, dah lama menunggu?” ujar Ayu mengagetkanku. 

Saat itu aku sedang melamun sambil duduk di tepi jalan menikmati pemandangan kotaku yang semakin terlihat indah karena tata kota yang baru saja selesai.

“Baru sekitar 10 menit an kok, santai aja,” kataku sambil berdiri menyambutnya.

“O, iya, apa Katrin dah tahu kalau kita tunggu di sini ya?” tanya Ayu.khawatir.

“Semoga saja tahu, karena parkir mobilnya di bahu jalan, susah.” 

“Yuk kita foto-foto dulu, sambil menunggu Katrin datang,” kata Ayu yang sudah mengeluarkan gawainya jepret sana sini.

Dari kejauhan kulihat Katrin kebingungan cari aku dan Ayu.

Kulambaikan tangan kearah Katrin.

“Hai Katrin, sini!’, kataku agak berteriak.

Kami pun bertemu dan sebelum berangkat ke Salatiga kami foto-foto lagi dengan riangnya.

Setelah puas foto-foto, aku, Ayu dan Katrin masuk ke mobil yang dikendarai kakaknya Ayu. Selama perjalanan menuju Salatiga, aku banyak berdiam diri. Takut perutku berbunyi nyaring, dan terdengar yang lainnya.

Tak terasa sampailah pada tujuan di Radio Suara Salatiga. Kebetulan acara belum mulai, masih santai 

“Tia kok belum datang ya?” tanya Ayu.

“Mungkin sebentar lagi, tunggu aja dulu,” kataku menenangkan suasana yang agak tegang karena perasaan cemas mau siaran.

“Hai, Tia diantar siapa?” celetuk Ayu yang melihat Tia datang sendiri berjalan menghampiri kami.

“Ada dech,” jawab Tia kemayu.

“Eh, pacar baru ya?” kataku menyelidik.

“Dah bisa membuka hati rupanya, setelah lama jomblo,” kata Ayu menggoda.

“Ah, enggaklah, mana laku, wajahku pas-pasan, mana ada yang mau.” Kata Tia malu.

“Ah, kamu ini suka merendah, wajah glowing gitu dibilang pas-pasan, tidak mensyukuri karunia Tuhan.” selorohku pada Tia.

Kami tertawa bersama sebelum akhirnya masuk ke dalam studio.

Ternyata kami sudah ditunggu penyiar radio yang akan mendampingi bincang-bincang kami. 

“Apa khabar mbak-mbak komunitas menulis?” tanya Lucia dan Bayu penyiar radio yang akan mendampingi siaran nanti hampir bebarengan.

“Kabar baik,” jawab kami hampir serempak.

Setelah bincang-bincang dan kenalan sebentar, kami diajak masuk ke dalam studio rekaman dan ternyata karena ruangan tidak memungkinkan kalau kami masuk semua, maka kami bagi 2.Yang masuk lebih dahulu Ayu dan Tia, kemudian nanti setelah setengah waktu siaran baru gentian aku dan Katrin.

Aku dan Katrin menunggu di luar, di ruang tamu.

Saat siaran berlangsung, saat aku dan Katrin diam mendengarkan bincang-bincang Ayu, Tia dengan penyiar, perutku terasa sakit lagi, bahkan sampai berbunyi keras, terdengar di telinga Katrin.

“Maaf ya Katrin, perutku bunyi, aku agak sakit perut,” kataku agak malu.

Dan kuceritakan kenapa perutku sakit.

“Apa sudah diobati?” tanya Katrin.

“Sudah ku obati, tapi masih agak sakit, semoga nanti sewaktu siaran tidak bunyi lagi ya,” kataku harap-harap cemas.

Saat kudengarkan tanya jawab Tia dengan penyiar yang menerangkan kenapa suka menulis. Tia menjawab kalau dengan menulis itu adalah sebagai obat yang menyembuhkan sakitnya. Dulu Tia pernah di tinggal kekasih hatinya yang sakit sampai meninggal, padahal waktu itu Tia sendiri dalam keadaaan sakit. Rasa bersalah tidak bisa menunggui saat terakhirnya dan rasa sakitnya membuat Tia depresi. Pikirannya selalu tidak tenang, selalu terbayang-bayang kekasihnya.Sampai suatu hari Tia ikut acara penulisan dan menuliskan apa saja yang mengganjal hatinya.Ternyata dengan menulis bisa menyembuhkan luka batinnya.Sehingga sampai sekarang dia inginnya menulis dan menulis. Tiada hari tanpa menulis.

**

Pikiranku kembali terbayang pada Hans. Kalau waktu itu Hans tidak sakit pastilah aku masih bersamanya saat ini.

“Hans, kenapa hari ini kamu tidak bersemangat?” 

“Kamu sakit, wajahmu pucat dan keringatmu banyak banget?” tanyaku sambil mengamati wajahnya dengan serius.

“Gak ada apa-apa. Mungkin capek saja. Cuma dadaku agak sesek, sulit bernafas.” kata Hans santai.

“Apa ku antar ke dokter saja supaya tahu penyakitnya?” bujukku kemudian.

“Ah, nanti paling sembuh sendiri, dah lah gak usah ke dokter.” kata Hans malas.

Saat itu rasa khawatir pada kondisi Hans membuatku cemas.

Dan tiba-tiba Hans terjatuh di kursi panjang sambil memegangi dadanya, keringat keluar membasahi seluruh tubuhnya. Aku begitu panik, melihat pemandangan seperti itu. Kuberlari ke tetangga minta bantuan untuk membawa Hans ke rumah sakit.

“Kinan.” panggilan sayang Hans padaku.

“Ya Hans, mana yang sakit, apa yang kamu rasakan?” tanyaku sambil memegangi tangannya.

“Kinan, seandainya aku pergi, jangan menangis ya. Jaga dirimu baik-baik!” kata Hans pelan.

“Jangan bicara macam-macam dulu Hans, biarkan dokter memeriksamu dulu. Ayo Hans, tetap semangat. Perjalanan cinta kita masih panjang.”isakku memberi semangat.

Sesampai di rumah sakit, segera Hans ditangani oleh para dokter dan perawat, alat-alat kedokteran di pasang di seluruh tubuh Hans.

Satu jam berlalu, dokter sudah selesai memeriksa.

“Keluarga pasien Hans?” tanya dokter padaku.

“Iya, dok, gimana keadaannya?” kataku panik.

“Kenapa baru di bawa ke rumah sakit sekarang? Ini sudah agak terlambat, bisa fatal akibatnya. Pasien terkena sakit jantung coroner yang sudah parah.” kata dokter menjelaskan penyakit yang di derita Hans. 

Aku hanya bisa tertunduk lesu dengan penyakit yang sedang menimpa Hans.

Aku hanya bisa berdoa semoga masa kritisnya segera berlalu, segera bisa disembuhkan.

“Mbak Kinanti, yang sabar ya, mas Hans sudah tidak bersama kita lagi,” kata pak Anto tetangga yang mengantarku tadi mendekatiku dengan raut muka sedih.

“Apa pak?” tanyaku tidak percaya.

Aku menjerit, menangis, menuju Hans yang sudah terbaring tak berdaya.

Ternyata Tuhan berkehendak lain.Tuhan telah memanggil Hans.

Aku sangat terpukul dengan kepergian Hans, belum bisa menerima kenyataan kalau Hans sudah meninggalkanku. 

Mulai saat itu aku tidak mau berhubungan dengan laki-laki.Aku menjadi pendiam, tidak ceria, inginnya sendiri, malas kumpul dengan teman-teman.Dan yang lebih parah lagi aku malas makan,sering terlambat makan, sehingga sering sakit maag dan asam lambungku sering kumat.

Dan mulai saat itu aku suka menulis segala uneg-uneg di buku harianku.Apa yang kualami, kenangan bersama Hans, begitu membekas dalam ingatanku.

Dengan menuliskan dalam Diary rasanya hatiku terasa nyaman, aman, tenang.

Sakit maag dan asam lambungku juga sudah jarang kambuh. Itu membuat ku semakin semangat dalam menulis.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun,kesendirianku terusik.

Waktu itu aku dikenalkan temanku seorang pria yang merasa tertarik denganku. Mulanya aku cuek, malas menerimanya. Tapi tidak tahulah kenapa tanpa kusadari aku mulai menyukainya.

“Kinanti, perkenalkan ini Indra temanku,” kata Nia padaku.

“Nama saya Indra, tepatnya Indrajaya.” Indra mengulurkan tangannya.

Aku tersenyum dan menyambut uluran tangan Indra.Aku dan Indra kemudian berjabat tangan.

“Namaku Kinanti Larasati,” kataku memperkenalkan diri.

“Senang dapat berkenalan dengan anda, tetapi boleh saya panggil anda Kinan saja? Supaya lebih akrab dan tidak formil,” kata Indra lagi.

Deg, hatiku tiba-tiba terasa melayang jauh. Teringat dulu panggilan sayang dari Hans juga Kinan.Kenapa hatiku merasa bergetar ya, tidak biasanya aku seperti ini bila bertemu dengan laki-laki.Ada apa ini?

Beberapa kali bertemu, aku dan Indra semakin akrab, dan hari itu Indra mengungkapkan isi hatinya. Tak tahu kenapa aku merasa cocok dengan Indra. Dan kuterima dia jadi pacarku, sampai sekarang. Ternyata Indra juga punya pengalaman yang hampir sama denganku, ditinggal pergi kekasih hatinya karena sakit kanker. Dan yang kuketahui kemudian ternyata Indra juga hobi menulis.  

“Kinanti dan Katrin silahkan masuk ke studio,” kata Ayu membuyarkan lamunanku.

Ternyata sedari tadi pikiranku mengembara ke mana-mana mengenang masa yang telah lalu.

Akhirnya yang kutunggu saat siaran pun datang dan ku bersama Katrin tanya jawab, bincang-bincang dengan penyiar mbak Lucia dan mas Bayu dengan lancar.Rasa sakitku tadi ternyata sembuh sendiri.

*) Penulis mengajar di SMAN 1 Ambarawa Kab. Semarang Mapel Fisika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *