Usaha Peti Mati, Uji Mental Uka-uka?

Ekonomi Kreatif134 Dilihat

JEPARA, wartaintegritas.com – Seorang rekan yang pernah bekerja di sebuah bank dan banyak berhubungan dengan debitur di kota Solo berkomentar dalam grup WA kami ketika kami sedang membahas usaha pembuatan peti mati.  Katanya,” Aku pernah membiayai debitur usaha peti mati di Solo mas, katanya kalau besok ada yang order,  malamnya di gudang terdengar suara berisik kayak ada peti mati yang jatuh.”

Seorang teman yang lain memberi  komentar menyengat,”Uji mental uka-uka…” demikian katanya.  Mungkin kita pernah tahu ya, tayangan sebuah  stasiun televisi swasta yang punya program tayangan eksplorasi tempat mistik yang disebut tayangan Uka-uka.

Herry Yunianto (56), pengusaha peti mati dengan nama usaha Pelayanan Kedukaan Bunga Bakung di Jepara ini tidak menampik hal-hal yang berbau mistik terkait dengan usaha peti mati ini.  Ia bercerita hal yang unik berbau mistik dalam usahanya.

“Kalau ada orang meninggal di mana keluarga atau gerejanya mengambil peti mati di tempat usaha kami, maka saya atau istri saya, sehari atau beberapa hari sebelumnya akan bermimpi seolah melihat ada orang yang meninggal, ada kerumunan di rumah duka tersebut,” demikian jelas Herry yang selalu memberi persembahan kasih kepada pengurus gereja-gereja yang mengambil peti mati untuk keperluan warganya yang sedang berduka.

Peti mati kondisi mentahan, belum finishing (Foto: Herry Y)

Bermula Mengkritisi

Herry Yunianto mulai usahanya setelah mengritisi situasi serta melihat pangsa pasar dan berhasil melewati sebuah gugon tuhon yang negatif terhadap orang yang berusaha peti mati.

“Di daerah kami, di mana masyarakatnya banyak yang berusaha membuat mebel, orang tidak mau membuat peti mati. Masyarakat secara umum meyakini gugon tuhon, katanya kalau membuat peti mati maka akan mendapatkan malapetaka atau bala dan sengsara dalam kehidupannya,” demikian jelas Herry yang memiliki rumah sekaligus tempat usaha di Dukuh Kedung Penjalin, Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara ini.

Cabang Salatiga di Jl. Aliwijayan Pengilon Mangunsari Salatiga (Foto: Kumara)

Bahkan menurut penjelasannya, saat dia minta jasa tukang ukir untuk membuatkan ukiran di peti mati, orang tersebut minta jajan pasar atau sajen.

“Memang ketakutan membayang pada setiap orang mengerjakan peti mati. Padahal di beberapa tempat yang sudah bertahun-tahun masyarakatnya membuat peti mati, seperti masyarakat di daerah Langon Tahunan Jepara, tidak ada masalah bahkan ada seorang pengusaha peti mati bisa disebut sebagai orang terkaya di Kabupaten Jepara saat ini,” demikian urai Herry yang beristrikan Menik (49) dan memiliki dua orang putri Ninda yang sudah bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Kudus dan Sembi yang berkuliah di sebuah universitas swasta di Salatiga.

Awal Perjalanan

Herry Yunianto, penggemar musik keroncong ini pernah selama 10 tahun ikut perusahaan mebel milik orang Belanda di Jepara. Saat itu dia bekerja sebagai tenaga Quality Control  atau sering disingkat QC, orang yang memiliki keahlian menilai baik buruknya produk mebel sehingga melalui tenaga QC inilah maka barang dinilai layak ekspor atau tidak.

Herry Yunianto karena berniat untuk melakukan usaha mandiri, tahun 2009 dia keluar dari perusahaan orang Belanda tersebut. Tahun 2014 Herry Yunianto mulai bekerja di Pemerintahan Kabupaten Jepara. Sejak tahun 2014 itu pula ia memulai dengan usaha pembuatan peti mati.

Herry termotivasi untuk mendirikan usaha pembuatan peti mati waktu itu, karena di komunitasnya yakni masyarakat Kristen tidak ada pengrajin yang membuat peti mati tersebut.

Plang penunjuk di Klaseman Salatiga (Foto: Kumara)

“Sebelumnya di komunitas kami, khususnya di gereja kami, GITJ Kedung Penjalin selalu mengambil peti mati dari pengusaha peti mati di Langon Tahunan Jepara,” demikian ungkap Herry mengenang awal-awal saat memulai usahanya.

“Padahal orang di komunitas kami kalau mati pasti membutuhkan peti, tetapi tidak ada orang di daerah kami yang membuat peti mati untuk memenuhi kebutuhan itu,” ujar Herry menerawang perjalanan masa lalu.

Berangkat dari pemikiran itulah, Herry kemudian membuat peti mati. Pada waktu merintis dalam satu bulan hanya membuat 1 peti sesuai dengan permintaan dengan bahan dari kayu jati, durian, mahoni, atau MDF yakni kayu dari bahan yang dipress dengan mesin. 

Usaha Berkembang

Saat ini karyawan yang bekerja, meliputi tukang-tukang pembuat peti mati berjumlah 15 orang. Ruang kerja pun juga semakin diperluas. Secara kontinyu sekarang ini pengiriman peti mati ke 3 tempat rumah duka Jakarta, 1 rumah duka di NTT Flores, Kalimantan, dan Timor Leste. 

“Hanya saja harga untuk Timor Leste kurang bagus. Bosnya tidak mau memberi DP, hanya menyuruh membuat, kalau sudah jadi baru minta dikabari. Sudah 10 kali kami mengirim ke Timor Leste, bahkan bosnya pernah ke Jepara ke tempat usaha kami,” demikian urai Herry yang sebenarnya merasa kurang aman karena bos atau buyer dari Timor Leste itu tidak mau memberi DP.

Peti mati siap kirim ke luar kota (Foto: Herry Y)

“Sebetulnya yang saya minta DP-nya tidak perlu banyak, mungkin bisa 15 juta misalnya,” demikian Herry menjelaskan. Meski demikian Herry tidak menyalahkan buyer dari Timor Leste itu karena buyer tersebut pernah trauma saat bertransaksi mebel dengan pengrajin Jepara. 

Sekarang ini bekat usahanya, Herry memiliki 3 mobil ambulan untuk melayani masyarakat yang membutuhkan. Mobil-mobil ambulans itu ditempatkan di rumah pelayanan kedukaaan di Jepara, cabang Payaman Magelang, dan cabang Salatiga.  Rumah pelayanan kedukaan cabang Salatiga terletak di Jl. Aliwijayan Pengilon Mangunsari Salatiga.

Mengenai harga peti mati yang dijual harganya bervariasi. “Harga peti mati mulai dari di bawah 2 juta, 3 juta, 4,5 juta, 8,5 juta dan 20 juta,” terang Herry yang mengaku sekitar 70% gereja di Jepara yang menjalin kerja sama dalam pelayanan kedukaan dengannya.

Selain menyediakan peti mati Herry juga mendirikan pelayanan rumah duka dengan nama “Bunga Bakung”. Rumah duka ini menyediakan peti mati yang sudah dihias, dan tersedia juga ambulan. Kadang ambulan mengantar jenazah hingga ke luar kota. Pernah mengantar juga ke Malang Jawa Timur.

Untuk keperluan peti mati dan pelayanan kedukaan bisa hubungi langsung Herry Yunianto di nomor WA: 0823-1370-9450

Oleh: Suyito Basuki dan Kumara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *