Trilogi Pertama: Sepeda yang Kenang Banyak Peristiwa

Fiksi78 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki*)

SALATIGA, wartaintegritas.com – Tiga benda yang ingin kumiliki saat remaja hanya tiga, yaitu sepeda, tustel dan mesin ketik.  Akan kutuangkan dalam trilogi, tiga cerita dalam satu ide utama.  Singkat-singkat saja ya.

Kau tahu bahwa sepeda itu bisa membawa kemana pun kita mau pergi.  Itu tergantung dengan kekuatan kaki kita dalam mengayuh pedalnya.  Sepeda harganya juga lebih murah dibanding harga motor, lebih-lebih mobil.  Sepeda akan membawa kita ke pinggir pantai, ke kaki gunung dan ke kota yang penuh hiruk pikuk ramai.  Di tempat-tempat itu kita bisa belajar dari persoalan orang-orang, selain itu kita pun bisa melihat dan menikmati berbagai pemandangan yang bisa kita kenang.

Selain itu, melihat sepeda aku selalu teringat masa kecilku ketika digoncengkan kakek belanja kulakan kebutuhan warung di Pasar Bulu Semarang yang sekarang sudah menjadi pasar digital.  Saat itu aku di goncengan sama mbakyu, aku di bagian  depan dan mbakyu yang di belakang.  Supaya kakiku tidak masuk ke jeruji sepeda, kedua kakiku diikatkan di dalangan sepeda oleh kakek dengan sebuah selendang nenek.  Jarak rumah kami dengan Pasar Bulu sekitar 8 kilometer.  Dari kampungku, Karang Kumpul setelah melewati Petompon, kemudian melewati pula Lemah Gempal baru kemudian masuk ke daerah Bulu Stalan dan akhirnya sampailah di Pasar Bulu itu.  Aku selalu berusaha menikmati berbagai pemandangan di jalan, terlebih kalau sampai di Lemah Gempal, aku akan memandangi air sungai yang mengalir di atas bangunan semen yang dibuat melandai.  Sering anak-anak remaja bermain luncuran di situ hanya dengan kaki telanjang.  Orang-orang menyebutnya daerah itu sebagai plered.

Yang paling membekas sampai sekarang adalah saat di Pasar Bulu, kakek seperti biasanya meninggalkan kami di tempat parkiran. Kakek sendirian pergi belanja masuk ke berbagai tempat yang menjual barang-barang sembako.  Pada saat itu, di jalan raya, ada rombongan reog dengan suara tabuhan gamelannya.  Rombongan itu menuju ke arah Tugu Muda, bukan ke arah parkiran sepeda.  Meski begitu aku merasa ketakutan sehingga menangislah aku kuat-kuat.  Mbakyu dan tukang parkir yang berusaha membuat aku diam bahasa jawanya ‘ngeneng-enengi’ tidak berhasil.  Saat kakek datang, barulah aku diam, meski masih sesenggukan.

Kakek memang jagoanku.  Wataknya keras, tetapi sangat sayang sama aku.  Mungkin karena sejak usia satu tahun, setelah bapak tiada seperti ditelan bumi, aku diasuh oleh ibu di rumah kakek.  Saat ibu menikah lagi, maka aku sama mbakyu diasuh oleh kakek dan nenek.  Ibuku pergi meninggalkan kami mengikuti suaminya yang baru.

Kakek tidak mau seorang pun menggangguku.  Saat aku kelas 3 SD, di lapangan kami para murid berkumpul.  Pada saat itu entah siapa yang kentut, sehingga suasana jadi heboh.  Semua saling menuduh satu sama lain.  Saat itu temanku, Wardoyo, anak Petompon, rumahnya dekat dengan penyanyi Titik Sandora  – Muchsin Alatas, menuduhku bahwa akulah yang kentut.  Perawakan Wardoyo ini dulu kulihat tinggi, tidak terlalu besar.  Tapi Wardoyo ini kami kenal sebagai murid yang jago berkelahi.  Wardoyo agak menyudutkanku dengan tuduhannya itu.  Maka aku yang memiliki tubuh paling kecil di antara rekan-rekanku, Supar, Witono, Mujiono, tiba-tiba saja ketakutan dan menangis.  Aku segera pulang ke rumah.  Sampai di rumah kakek bertanya sebab musabab aku menangis.  Setelah kakek tahu, maka serta merta dia membawa bendho, semacam sabit yang digunakan untuk membelah kayu, ke sekolah mencari Wardoyo dengan ancaman mau membelah tubuh orang yang sudah membuat ketakutan cucunya.  Gegerlah anak-anak dan guru semua.

Hai, aku kemudian berhasil membeli sebuah sepeda di Pasar Wedi Klaten saat praktek kuliah dengan pelayanan, seingatku harganya 90 ribu.  Sepeda itu kukayuh dari daerah Kalasan Yogyakarta ke tempat praktek pelayanan, di sebuah gereja Pos PI di Kecamatan Wedi selama hampir 1,5 tahun berangkat pulang.  Kalau berangkat ke ke daerah Wedi, biasanya Jumat sore, kampus kami menyebutnya saat weekend, aku masuk dalam gabungan para tukang dan kuli bangunan yang bekerja di Jogja, mereka rata-rata dari Klaten, berangkat dan pulang naik sepeda.  Rute bersepeda, setelah dari Kalasan, melewati Bogem, Prambanan, Pandan Simping belok kiri, ke arah Stasiun Sepur Srowot, Ngeringan, Pasar Wedi, Desa Canan, sampailah Dusun Ngemplak, di mana ada keluarga Pak Siswo yang menerimaku nginap, makan tidur gratis, dipelihara keluarga yang ramah itu dan jemaat selama 4 tahun, hingga lulus kuliah.  Waktu yang kugunakan bersepeda hingga sampai tujuan itu kurang lebih 90 menit.

Sesaat setelah menikah, orang menyebutnya kami pengantin baru, sepeda ini menjadi alat transportasi utama ke kampus tempat aku mengajar dan kuliah S2.  Istri bekerja di bagian keuangan universitas.  Saat jalan menanjak, memasuki jalan tanah yang berbatu, aku tidak sadar kalau istriku terperosot dari goncengan sepeda.  Hampir 100 meter kukayuh sepeda, kok malah tambah ringan?  Aku menengok ke belakang, istriku yang berbaju lengan panjang putih dan rok hijau agak lebar di bawah lutut dengan motif bunga tertawa terpingkal-pingkal.  Rambutnya yang sebahu sedikit keriting bergerak-gerak diterpa angin. Aku tunggu dia menyusul untuk kembali naik ke goncengan dan sepeda kukayuh lagi menuju rumah kontrakan kami yang sangat sederhana.  Sepanjang perjalanan kami berdua di atas sepeda bercanda dan tertawa.  Lucu dan indah kalau mengenangnya!

*) Penulis saat ini tinggal di Ambarawa Kab. Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *