KLATEN — wartaintegritas.com — Kemeriahan tradisi tahunan Yaa-Qowiyyu kembali bergulir di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten. Sebagai penanda dibukanya serangkaian acara menjelang puncak tradisi Yaa-Qowiyyu atau Sebaran Apem, kirab budaya digelar dengan meriah pada Kamis siang (23/7/2026)
Tradisi Yaa Qowiyyu telah berjalan sejak abad ke-16 atau lebih dari 4 abad yang lalu. Tradisi sebaran apem di Jatinom, Klaten ini pertama kali diperkenalkan oleh penyebar agama Islam, Ki Ageng Gribig, dan dilaksanakan setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa.
Rangkaian acara diawali sejak pagi dengan pameran seni lukis di Pasar Jatinom (sebelah Koperasi Merah Putih) serta pertunjukan seni Gejog Lesung. Memasuki siang hari pukul 13.30 WIB suasana semakin semarak saat ribuan peserta dan warga berkumpul di halaman Kantor Kecamatan Jatinom.
Sebelum rombongan kirab dilepas secara resmi, acara diawali dengan tampulan beberapa drumband dan atraksi lainnya di hadapan tamu undangan yang hadir dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat.

Kirab budaya sejauh kurang lebih empat kilometer ini kemudian diberangkatkan langsung dari depan halaman Kantor Kecamatan Jatinom menuju kawasan Oro-oro Yaa-Qowiyyu dekat Kompleks Masjid Gedhe dan Masjid Alit Jatinom.
Barisan kirab dipimpin oleh pasukan pengibar bendera (Paskibra) wilayah Jatinom, diikuti oleh jajaran Forkopimcam, perwakilan dari 17 desa dan 1 kelurahan se-Kecamatan Jatinom, atraksi seni pencak silat, pertunjukan ondel-ondel, hingga sekitar 10 grup drumband.
Sesampainya di lokasi finish di Oro-oro Yaa-Qowiyyu, acara dilanjutkan dengan seremoni pemotongan pita dan pelepasan balon.
Ketua Umum Panitia Yaa-Qowiyyu sekaligus Plt. Kepala Kelurahan Jatinom, Purwono, menjelaskan bahwa kirab budaya ini merupakan pembukaan dari sekitar sepuluh rangkaian kegiatan tradisi Yaa-Qowiyyu tahun 2026.
”Tujuan utama kegiatan ini adalah nguri-uri budaya. Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang memiliki jati diri. Tradisi ini sudah berlangsung secara terus-menerus hingga mencapai usia lebih dari empat ratus tahun,” ujar Purwono saat diwawancarai awak media di lokasi acara.

Purwono menambahkan, tingginya antusiasme warga dan pengunjung diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat lokal.
“Dengan banyaknya pengunjung yang hadir, harapannya UMKM di sekitar Kelurahan Jatinom dan Kecamatan Jatinom pada umumnya bisa mendapatkan keuntungan tersendiri,” tambahnya.
Apresiasi dan Semangat Gotong Royong
Camat Jatinom, Agus Sunyata, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat—mulai dari TNI, Polri, Puskesmas, TP PKK, pemerintah desa, PKH, Pakasa, KUA, FKUB, hingga seluruh elemen masyarakat yang bergotong-royong menyukseskan acara ini.
Agus juga menyoroti pencapaian Yaa Qowiyyu yang berhasil meraih Platform Award 2025, yang dinilainya sebagai bukti nyata dari kuatnya nilai sengkuyung (gotong royong) dan guyub rukun warga Jatinom.
”Semoga seluruh rangkaian Yaa Qowiyyu 2026 berjalan lancar, membawa keberkahan bagi masyarakat, menggerakkan perekonomian daerah, serta menjadikan Jatinom semakin gemah ripah loh jinawi,” pungkasnya.
Adapun acara puncak tradisi Yaa-Qowiyyu, yakni pembarangan atau Sebaran Apem, dijadwalkan berlangsung pada Jumat wage, 31 Juli 2026.
Sebanyak kurang lebih tujuh ton apem hasil sedekah masyarakat dari seluruh desa di Kecamatan Jatinom siap dibagikan kepada ribuan masyarakat yang hadir. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 6,5 ton.
Seluruh rangkaian peringatan Yaa-Qowiyyu tahun ini rencananya akan ditutup pada 21 Agustus 2026 mendatang dengan pagelaran wayang kulit bersama Dalang Ki Bayu Aji, yang didukung penuh oleh Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) RI dari Jakarta.
(Benyamin Hadinagara)










