Oleh: Erna Widyaningsih*)
5.Kebakaran
Dua tahun berlalu. Suasana keluargaku sudah tenang. Aku sering pulang ke Semarang untuk anak, suami dan ibuku. Minimal seminggu sekali. Kebetulan hari Sabtu kuminta jamnya dikosongi, jadi Jum’at sepulang sekolah aku bisa langsung pulang ke Semarang. Itu kalau tidak ada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) IPA hari Sabtunya. Kalau ada MGMP ya sepulang dari MGMP langsung pulang ke Semarang.
Tidak terasa umur anakku sudah 6 tahun. Dia sudah duduk di bangku kelas 1 SD. Supaya tidak kesepian seorang diri, aku merencanakan untuk punya anak lagi. Aku sudah lepas tidak KB beberapa bulan yang lalu, supaya bisa punya anak lagi. Dan ternyata yang kuharapkan datang juga.
Aku sudah telat tidak datang bulan 2 minggu. Aku hamil.
————————
Suatu sore yang cerah aku hanya berdua dengan Mas Hans. Kami duduk – duduk di ruang tengah sambil ngobrol – ngobrol.
“ Mas, rasanya beberapa hari ini aku kok mual terus ya, lemes, males makan”, ucapku pada suamiku.
“ Mungkin masuk angin, apa kita periksakan ke dokter aja”, kata mas Hans sambil memegang dahiku dengan tangannya.
“ Panas, dan wajahmu pucat”, ucap mas Hans.
“Apa mungkin aku hamil ya mas, aku sudah terlambat datang bulan”, ucapku lemes seperti tanpa daya. Entahlah mengapa beberapa hari ini rasanya badanku tidak karuan, lemes sekali, tidak ada gairah.
“ Ya sudah pumpung masih sore ayo kita ke dokter, biar tahu secara pasti keadaanmu”, Mas Hans mengajakku untuk segera siap – siap ke dokter.
Tibalah giliranku untuk diperiksa. Dengan diantar Mas Hans, aku masuk ruang periksa. Setelah aku utarakan sakitku dan keterlambatanku datang bulan, aku diberi test pack kehamilan. Positif.!
Hasilnya aku positif hamil. Bahagianya aku dan mas Hans dengan hasil tersebut. Karena saat kehamilan putriku yang pertama aku tidak pernah merasakan rasanya ngidam, lemes, malas makan, aku merasa seperti hamil pertama saja.
Meski hamil aku masih tetap sering bolak balik Yogya – Semarang. Tapi suamiku sekarang yang sering mengantarku ke Yogya.
—————
Waktunya periksa kandungan tiba. Usia kandunganku waktu itu sudah 7 bulan.
“ Kandungan ibu bagus, dan normal”, kata pak dokter Wawan padaku
“ Makasih dok “ jawabku sambil melirik suamiku yang dengan setia menemaniku.Dari hasil USG anak yang kukandung berjenis kelamin laki – laki. Aku dan suamiku sangat senang sekali dan membayangkan , kalau nanti sudah lahir berarti anakku sudah komplit, perempuan dan laki – laki.
“ Ma, adik Khaila cowok ya “, ucap Khaila anakku yang pertama sambil mengusap perutku.
“ Nanti kalau dah lahir, mainan Khaila tak pinjamkan pada dedek bayi ya ma !”, seru Khaila sambil lari mengambil bonekanya dan didekatkan di perutku. Aku dan mas Hans tertawa melihat polah tingkah gadis kecilku yang lucu ini.
“ Lho, dedek bayi kan cowok, masak diajak main boneka”, sahut suamiku menggoda Khaila.
Khaila jadi cemberut. Melihat itu aku kasihan pada Khaila, kudekati dia, kucium keningnya, kubisikkan di telinganya.
“ Iya mbak Khaila sayang, dedek bayi nanti diajak main boneka ya sambil main bola juga”, bisikku lembut menenangkannya, supaya tidak cemberut lagi.
“ Betul ya ma, gak bohong to?” celoteh Khaila manja dan gemeske.
“ Iya , masak mama bohong?” sahutku.
Khaila sudah tidak cemberut lagi, dia sudah melanjutkan bermain bonekanya lagi. Dia senang bermain boneka barbie yang dibelikan mas Hans pada saat Ultahnya yang ke 6 awal bulan Agustus kemarin. Diganti – ganti baju barbie sesuka hatinya, didandani, dipakaikan sepatu, bando, begitu asyiknya gadis kecilku bermain sendirian.
Betah sekali anakku kalau sudah begitu, tidak mau beranjak dari berbienya. Andai nanti anakku yang ke 2 sudah lahir, mereka bisa saling menemani, mengisi, bercanda ria bersama. Kubayangkan kegembiraan bocah kecilku, anak – anakku menemaniku, hari –hariku tidak akan sepi lagi.
————————————-
Waktu itu malam tujuh belas agustusan. Hampir setiap kampung mengadakan sarasehan. Dan mas Hans dapat jatah mendekorasi panggung untuk sarasehan bersama – sama teman –temannya di kampung mertuaku yang kebetulan masih sekecamatan denganku, hanya beda kelurahan..
Acara dimulai jam 7, panggung sudah terdekor semua, karena sudah dikerjakan sejak kemarin , dan banyak yang bantu maka semua sudah selesai sejak sore hari. Suamiku ikut sarasehan tapi tidak sampai selesai, karena dia capek dan mengantuk.
Mas Hans pulang ke rumahku, tapi sebelumnya dia mampir dulu ke rumah yang sekaligus untuk tempat usahanya. Itu semacam tempat base camp mas Hans dan teman – temannya.
Sampai di rumahku mas Hans berbaring, tapi ternyata terlelap tidur. Kulihat wajah suamiku, terlihat capek banget, kurang tidur. Kubiarkan suamiku tidur. Aku tidak ingin mengganggunya. Kuselimuti tubuh mas Hans dengan hati – hati, supaya tidak membangunkannya.
Kutengok di kamar lain, Khaila dan ibu juga sudah tidur. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan angka 10, sudah malam. Pantesan mataku juga sudah mengantuk berat, tinggal lima watt.
Kubaringkan tubuhku di samping mas Hans dengan pelan – pelan supaya tidak membangunkan dia.
“ Kringgggg, kringgggg”, terdengar suara telepon membangunkanku dan mas Hans. Segera mas Hans mengangkat hp yang ada di dekatnya.
“ Hallo pak Hans, maaf ganggu, ini pak…., ini pak “, suara dari seberang seperti gugup.
“ Ada apa, bicara yang pelan, tenang, jangan panik, ceritakan apa yang terjadi?”, sahut mas Hans menenangkan Hartono anak buah mas Hans yang kerja di tempat mas Hans.
“ Pak Hans, rumah bapak di gang III kebakaran, bapak tolong segera ke sini !” suara Hartono sudah tidak segugup dan sepanik tadi.
“ Apa? Kebakaran, kok bisa?”, sahutku panik.
“ Mas, aku ikut”, sambil memakai jaket kususul mas Hans yang hendak pergi.
“ Wuk, kamu di rumah saja, kamu sedang hamil besar, bahaya bagi kehamilanmu. Lagian Khaila juga masih tidur. Kamu jaga Khaila saja, nanti kukabari keadaan di sana”, kata mas Hans kalem.
Sifat itulah yang membuatku dulu pertama kalinya aku mencintai mas Hans. Aku teringat masa lalu…
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa






