Novel: Menguak Takdir Menepis Mimpi (3)

Fiksi71 Dilihat

Oleh: Erna Widyaningsih*)

Oh tidak, di sana juga terdapat semacam danau. Itu tempat semua orang beraktifitas. Ibu-ibu mencuci dan berendam mandi, anak-anak berenang, dan di sisi lain danau itu aku melihat orang memandikan kerbau-kerbau. Air di danau itu seperti berwarna cokelat Van Houten.

Setelah mencari ke sana kemari tempat kost, kudapat juga akhirnya tempat kost yang setidaknya seperti yang kuharapkan. Beruntung aku dapat kost di dekat sekolahan. Itu rumah besar milik ibu Nyoto yang suaminya mantan kepala desa di daerah itu. Halamannya luas, rumahnya besar terbuat dari kayu, kokoh dan tua. Rumah itu berada di dekat kantor kecamatan dan terminal kecil. Setidaknya tempat ini mudah terjangkau dan dekat dengan pusat desa. Di rumah itulah aku tinggal.

——————-

Malam pertamaku di tempat kost aku sulit bisa tidur. Tempatnya gelap dan sepi. Aku tidak biasa tidur di tempat gelap. Kulihat langit – langit kamar kostku yang remang – remang, dihiasi penuh sarang laba – laba. Warnanya menghitam seperti terkena abu dari lampu minyak tanah, atau dalam Bahasa Jawa disebut Lampu Teplok. Makanya Lampu Teplok ini aku nyalakan sampai pol, supaya kamarku ini bertambah terang.

Malam kian larut. Aku belum mampu memejamkan mata. Aku mendengar bunyi-bunyian angin dan binatang malam di luar. Mungkin itu suara tongeret atau belalang malam, jengkerik, burung hantu, pohon bambu berderit tertiup angin atau entahlah apalagi.

Aku berdoa sebisaku. Oh Tuhan, lindungi aku malam ini. Jagailah aku, jika hambamu ini tertidur.

Keesokan harinya, aku bangun tidur sekitar jam lima. Hawa dingin semalam tak membuatku tidur pulas. Waktu mau ke kamar mandi aku berpapasan dengan ibu pemilik kost.

”Mbak Lia, apa bisa tidur?” sapa ibu Nyoto sambil tersenyum.

“ Lumayan bu, baru bisa tidur jam 12 an “, jawabku. Sebelum sampai ke  kamar mandi, aku juga berpapasan dengan anak perempuan ibu Nyoto yang baru ke luar dari kamar mandi. Dia senyum – senyum melihatku sambil tertawa kecil. Dalam hatiku, ini orang baru kenal kemarin sore kok beraninya nertawain aku. Karena aku masih ditertawain sambil nunjuk – nunjuk wajahku, aku jadi salah tingkah.

”Ada apa to dik, kok tertawa, ada yang aneh ?” tanyaku agak tersinggung.

Karena aku kelihatan bingung, mereka spontan ngomong sambil cengar cengir memintaku untuk bercermin. Kulangkahkan kaki menuju cermin yang tak jauh dari tempatku berdiri. Apa yang ada di hadapanku membuatku tidak percaya. Aku mendadak malu. Ternyata ada wajah yang tidak kukenal karena tertutup hitamnya jelaga Lampu Teplok.

Lubang hidungku, wajah, tangan dan bajuku juga ternyata hitam. Ya ampun, ternyata mereka menertawakanku gara-gara aku mirip hantu, menakutkan. Sampai aku tidak mengenali wajahku sendiri.

Sambil tersenyum malu kulangkahkan kakiku untuk membersihkan diri. Ternyata tidak hanya wajah, tangan dan kakiku hitam terkena jelaga lampu teplok, tetapi seisi kamarkupun  ternyata semuanya hitam. Kisah lucu ini masih aku ingat hingga kini. Ya ampun, Gusti.

Dari kejadian itu, aku lalu beli lampu neon yang pakai accu kering. Kalau power accunya habis tinggal kuisi, kubawa ke kota.

Ada kisah-kisah lucu lainnya yang kualami saat bulan pertama aku tinggal di desa ini. Kalau mengingatnya, membuatku tertawa sendiri.

Kebetulan sekolahku tempatku mengajar adalah sekolah baru yang  sarana prasarananya belum komplit. Sekolahku belum dialiri listrik PLN. Meskipun instalasi listriknya sudah terpasang, tapi aliran listriknya belum ada.

Karena waktu itu suasana mendung, spontan kutekan saklar listrik. Ku mencoba berkali – kali untuk menyalakannya, tapi selalu sia – sia. Anak – anak di kelas pada tersenyum. Mereka seperti mau tertawa mungkin takut kalau aku marah. Tapi ada salah satu anak yang memberanikan diri ngomong.

” Ibu guru, listriknya kan belum ada kok mau hidupkan lampu listrik, ya gak bisa to ?” celetuk Mujiman muridku sambil nyengir kuda.

Ya ampun, aku baru sadar kalau sekolah ini kan belum dialiri listrik. Aku tersenyum malu dan minta maaf. Kuucapkan terimakasih pada Mujiman yang sudah mengingatkanku kalau di sini belum ada listrik.

———-

Kisah lainnya tak kalah lucu. Waktu itu hari Minggu, waktunya libur. Itulah waktuku untuk kerja bakti nyuci dan seterika. Saat mau seterika, aku pinjam seterika ibu kostku.

”Bu, bolehkah saya pinjam seterika? ” kataku.

”ya boleh, ini seterikanya”. Ibu Nyoto memberiku seterika besi berkepala motif ayam jago. Ini seterika kuno jaman dulu. Pemanasnya memakai bara api kayu arang. Setelah aku mencoba menjinjing seterika itu, ya ampun beratnya besi ini.

Karena aku belum terbiasa menyalakan bara api arang untuk seterika ini, keringat di keningku mulai meleleh. Aku hampir frustasi. Berbagai caraku sia-sia untuk bisa menyalakan bara api arang ini.

Aku pasrah, tidak sanggup menyalakannya. Maka kuminta tolong pada anak ibu kost. Aku heran mengapa dia begitu gampang menyalakan bara api untuk seterika ini. Ya sudahlah.

Tak lama seterika ayam jago besi ini sudah terisi bara arang, panasnya merata bisa kupakai untuk menyeterika. Sekali-sekali perlu aku kipasi agar nyala bara apinya tidak padam.

Karena tidak terbiasa menggunakan seterika arang yang berat itu, aku cepat lelah dan kehausan. Sambil menyeterika, karena sudah tidak kuat menahan rasa haus, maka kulangkahkan kakiku untuk mengambil air minum.

Apa yang terjadi, ya ampun. Ketika kukembali, ternyata bajuku sudah berlubang gambar seterika. Padahal belum sampai semenit kutinggal pergi. Aku menyesal kenapa tadi kutinggal minum. Tapi ya sudah. Sudah terlanjur, apa boleh buat. Bajuku bolong bermotif seterika.

———-

Suatu ketika musim kemarau tiba. Kebutuhan air yang biasanya terpenuhi dengan mudah di desa kami, sekarang jadi sulit luar biasa. Banyak warga desa harus membeli air untuk persediaan dan memasak.

Telaga dekat kostku pun sudah menjadi kering. Terpaksa kami berhemat air. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa air yang cukup, sementara di rumahku di Semarang air berlimpah dan jernih.

Tidak seperti di sini, di Gunungkidul saat musim penghujan air agak keruh, tidak jernih. Telaga Gandu tempat banyak warga desa memanfaatkan airnya, warnanya tetap cokelat Van Houten. Dan pada musim kemarau air habis seperti ditelan bumi.

Hari demi hari kulalui.

Sekarang ku menjadi terbiasa makan makanan khas berbagai tempat desa ini antara lain: gaplek,tiwul, cetot,gemblong, semuanya bahan bakunya adalah dari ketela pohon yang banyak di tanam di sini.

Saat panen singkong tiba,mereka langsung mengupas singkong di tegalan dan menjemurnya di hamparan batu – batu kapur yang terpapar oleh sinar matahari.

                Suatu ketika ku melihat anak – anak pergi ke hutan jati sekitar desa. Mereka mencari ulat kayu, kepompong dan belalang termasuk jangkrik dan gangsir. Bagi anak – anak itu adalah santapan yang lezat. Aneka binatang itu ada yang di makan mentah, ada yang di bakar atau digoreng.

Pernah aku ditawari untuk memakannya tapi aku tidak bisa untuk memakannya, tidak bisa untuk ikut menikmati makanan itu. Perutku masih belum bisa menerima makanan yang bagiku unik.

Hal yang dulu belum bisa kulakukan, sekarang menjadi bisa. Aku yang dulu belum terbiasa sekarang menjadi biasa. Tapi khusus untuk makan ulat atau belalang , aku memang tidak bisa.

Dan yang lebih penting aku bisa menikmati suasana dan keadaan masyarakat desa, yang ramah, yang perhatian, senang dan hormat padaku. Aku nyaman tinggal bersama mereka di sini, di desa ini dengan segala suka dukanya.

——————-

Bahagia dan duka apalagi

yang musti kita sulam

bersama setelah letih

Menempuh luruh

malam gulita Panjang

Di waktu yang tumbuh lurus,

selain setia menanti esok

riang bersama-Mu

mendedah petang

(Bersambung)

*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *