Mengenang Chairil Anwar di Bulan Bahasa, Dulce dan Utile Puisi Aku

Seni Budaya98 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

KAB. SEMARANG, wartaintegritas.com – Renne Welek dan Austin Waren, dalam Theory of Literature (terjemahan Noer Tugiman, 1970, h. 27) menyebutkan bahwa karya sastra memiliki fungsi dasar dulce dan utile.  Kedua kata dulce dan utile ini merupakan rumusan Horatius untuk menyebutnya semula fungsi sebuah puisi.  Istilah dulce mengisyaratkan bahwa puisi dapat memberi kesenangan tertentu baik bagi pencipta maupun pembacanya.  Puisi yang tidak membawa kesenangan bagi penciptanya, maka tak ubahnya seperti pekerjaan tukang yang monoton dan menjemukan.

Sedangkan istilah utile menjelaskan bahwa karya seni tidak dikerjakan hanya sekedar pengisi waktu luang.  Karya seni, dalam hal ini puisi dilahirkan dengan suatu maksud dan tujuan-tujuan tertentu.  Dengan demikian, maka puisi atau karya sastra yang tercipta memiliki kegunaan-kegunaan bagi pembaca.

Puisi bagaikan Agama

George Santayana, seorang filosof, novelis dan penyair Amerika kelahiran Madrid yang menghabiskan sisa hidupnya di Roma menyebutkan bahwa sastra memiliki kegunaan besar bagi pembaca.  Sastra menurutnya adalah semacam agama dalam bentuknya yang tidak jelas, tanpa memberikan petunjuk tingkah laku yang harus diperbuat pembacanya dan tanpa ekspresi ritus. (Suyitno, Sastra, tata Nilai dan Eksegesis, Yogyakarta: Hanindita, 1986, h.4)  Pada akhirnya dapat dikatakan dari segi aspek kegunaan, sastra dapat menjadi pedoman hidup bagi pembacanya.

Sastra dengan demikian memiliki tuntutan yang ideal bahwa karya sastra harus hadir sebagai bentuk yang menyenangkan bagi pembaca dan pencipta serta berguna juga bagi pembaca maupun penciptanya.  Suatu contoh, WS Rendra ketika mencipta puisi pamfletnya Potret Pembangunan dalam Puisi, memiliki arah pemikiran yang jelas terhadap karya-karyanya.  Dalam kumpulan puisinya tersebut, Rendra ingin menunjukkan realitas-realitas sosial Indonesia yang perlu lebih dipahami oleh pembaca.  Misal saja dalam sajak “Seonggok Jagung”, Rendra melukiskan suatu fenomena sosial Indonesia yang saat itu sudah tidak asing lagi bahwa banyak anak sekolah yang tercerabut dari akar budaya desanya dan resah dengan masa depannya.

Dengan membaca karya sastra ini, pembaca akan menemukan suatu kegunaan, yakni memahami realitas sosial dan menemukan kesenangan-kesenangan melalui permainan dan pemilihan kata penyair.  Bagi pencipta, sastra memiliki kegunaan sebagai pengungkap ide-idenya serta pemikirannya.  Pencipta karya sastra akan menemukan kesenangan-kesenangan ketika melakukan pemilihan kata atau diksi, mempermainkan kata dan kemudian menoreh-norehkan bait-baitnya.

Chairil Anwar dan Puisi Aku

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatra Utara, 26 Juli 1922.  Anak pasangan Toeloes dan Saleha ini meninggal 28 April 1949.  Chairil Anwar dikenal sebagai penyair  pelopor  angkatan 45.  Dalam karyanya, dia berusaha melepaskan diri dari kungkungan aturan berpuisi para penyair Pujangga Baru, angkatan sebelumnya terikat dengan persajakan bagaikan pantun.  Kemerdekaan jiwanya itulah  yang tercermin jelas pada puisinya yang berjudul “Aku”.  Puisi tersebut lengkapnya sebagai berikut:

Aku Kalau sampai waktuku/ Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu/ Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang/ Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari hingga hilang pedih peri / Dan aku akan lebih tidak peduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi 

Baik larik, maupun tema yang diusung oleh Chariril Anwar ini mengekspresikan kejiwaannya yang merdeka .  Puisi “Aku” tersebut bisa ditafsir wujud pemberontakan jiwa Chairil Anwar terhadap pemerintahan kolonial Jepang saat itu.  Dengan demikian dalam hal ini, bisa dilihat jiwa patriotisme Chairil Anwar.  Pada saat kolonial Jepang mendirikan badan Pusat Kebudayaan atau Keimin Bunka Shidoso,  Chairil Anwar enggan bergabung dengan badan kebudayaan tersebut karena ia merasa akan dijadikan corong pemerintahan Jepang saat itu untuk kepentingan kolonialismenya terhadap bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di Asia.

Fungsi Dulce dan Utile Terpenuhi

Selain itu, secara intrinsik, puisi “Aku” memiliki tema “keakuan” yang pada masa sebelumnya belum pernah ada.  Hal ini menunjukkan bahwa Chairil Anwar ingin melepaskan diri dari paradigma penyair sebelumnya yang sangat terikat dengan komunal kebersamaanya.  Oleh karenanyalah, Chairil Anwar berdasar puisi “Aku”-nya itu terkenal dengan sebutan “Binatang Jalang”, jika ditinjau dari perspektif pada waktu itu.  Sebuah sikap dan pernyataan individualisme jarang sekali ada.

Fungsi dulce dalam puisi “Aku” karya Chairil Anwar ini dapat dilihat dari segi intrinsik puisinya.  Secara intrinsik  bisa dilihat adanya penataan rima atau persajakan sangat merdu.  Bunyi akhir dari setiap baris saling bersahutan dan berkaitan.  Hal inilah yang menyebabkan puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku” ini mudah dihafal, baik mulai anak SD hingga para mahasiswa perguruan tinggi.  Hal ini menunjukkan fungsi dulce dalam puisi Chairil Anwar terpenuhi.

Sedang fungsi utile dalam puisi “Aku” karya Chairil Anwar dapat dilihat dari beberapa ungkapan.  Ungkapan kata dalam puisi tersebut: “…Aku mau hidup seribu tahun lagi…” selain menunjukkan semangat Chairil Anwar dalam pembaruan puisi, juga cerminan filsafat eksistensialisme yang kemungkinan besar dihayatinya.  Filsafat eksistensialisme selalu membicarakan makna diri seorang manusia di tengah alam raya yang serba kacau.  Romo Dick hartoko, seorang pemerhati sastra pernah mengatakan bahwa filsafat eksistensialisme masuk ke Indonesia setelah Perang Dunia II.  Romo Dick melihat karya-karya puisi Chairil Anwar ini memberi nada-nada filsafat eksistensialisme berada di dalamnya. (http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Eksistensialisme)

Ungkapan kata dalam puisi tersebut: “…Aku mau hidup seribu tahun lagi…” juga banyak dikutip orang dalam berkata-kata atau atau dalam lagu untuk membangkitkan semangat hidup.  Dengan demikian orang tidak mudah putus asa dalam menghadapi keterpurukan hidupnya sebab masih panjang kehidupan yang harus dilaluinya, “life must go on” kata orang barat yang berarti hidup masih akan terus berlanjut.  Menangislah sesekali karena kegagalan, tetapi sesegara mungkin, lupakan segala tangisan.  Jangan sia-siakan sekecil apa pun kesempatan.  Mari kita bersemangat, kita masih akan hidup “seribu tahun” lagi, kata Chairil Anwar.

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *