Masjid dan Gereja Berbagi Kanopi, Mahasiswa Program Doktor UKSW Belajar Kerukunan di Pati dan Jepara

PATI – wartaintegritas.com — Bagaimana umat berbeda agama membangun persaudaraan, dan bagaimana sebuah komunitas bertahan memperjuangkan hak beribadah? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa Program Doktor Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, dalam kunjungan lapangan mata kuliah Christian-Muslim Relations, Senin (12/10/2026).

Dipimpin oleh dosen Sumanto Al Qurtuby, rombongan yang terdiri atas empat mahasiswa dari Myanmar, India, dan Indonesia mengunjungi GKMI (Gereja Kristen Muria Indonesia) Winong dan Masjid Al Muqorrobin di Kabupaten Pati, kemudian melanjutkan perjalanan ke GITJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) Dermolo, Kabupaten Jepara.

Winong: Tidak Ada Mayoritas dan Minoritas

Di Desa Winong, GKMI Winong dan Masjid Al Muqorrobin berdiri berhadapan dan berbagi satu kanopi. Bagi Yuhri, takmir masjid, hubungan harmonis kedua komunitas dibangun melalui kesadaran untuk saling menghormati.

“Tidak ada mayoritas dan minoritas di sini,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menarik mengingat umat Kristen di Winong berjumlah sekitar 300 orang, sedangkan umat Islam berjumlah sekitar 5.000 orang.

Yuhri menceritakan bahwa ketika Idulfitri bertepatan dengan hari Minggu, pihak gereja mempersilakan umat Islam melaksanakan salat Id terlebih dahulu, bahkan teras gereja juga dipakai sebagai tempat salat. Jadwal ibadah Minggu kemudian digeser. Sebaliknya, ketika perayaan Natal bertepatan dengan pengajian rutin, pihak masjid secara sukarela menyesuaikan jadwalnya.

Gembala jemaat GKMI Winong, Didik Hartono, juga berbagi pengalaman yang mengharukan. Ketika seorang penceramah yang diundang ke masjid menyampaikan pandangan bahwa umat Islam sebaiknya tidak mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen, pengurus masjid datang meminta maaf kepadanya setelah acara selesai, dan memastikan tidak akan mengundang lagi pembicara seperti itu.

Berfoto bersama di depan GKMI Winong (Dok.Christy Aviana Talenta Hartono)

Didik juga mengenang pengajian akbar yang menghadirkan Gus Nuril. Saat seorang peserta bertanya apakah umat Islam boleh mengucapkan selamat Natal, Gus Nuril mengajaknya berpikir melalui analogi ucapan selamat ulang tahun kepada tetangga.

Bagi Didik, kerukunan tidak cukup dibangun melalui aturan formal. Ia mengungkapkan sebuah prinsip yang menggambarkan pendekatan masyarakat Winong:

“Membangun tembok bata itu mudah runtuh, sebaliknya, tembok mangkuk lebih kuat.”

Tembok mangkuk merujuk pada kebersamaan yang tumbuh melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama, yang mempererat persaudaraan dan interaksi antarwarga.

Subandrio, pengurus masjid, menjelaskan bahwa gagasan membangun masjid berhadapan dengan gereja terinspirasi dari Masjid Istiqlal dan Katedral di Jakarta. Gagasan itu dikomunikasikan kepada Pendeta Sugondo, yang saat itu melayani GKMI Winong, dan disetujui oleh pihak gereja.

Majelis Gereja Stefanus Suharto memaknai keberadaan kedua rumah ibadah tersebut dengan mengatakan, “Ada maksud Tuhan bahwa masjid dan gereja dibangun berhadapan.”

Hal ini selaras dengan visi GKMI Winong, yaitu “menghadirkan Shalom dalam keberagaman”.

Kerukunan juga diwujudkan melalui kehidupan sosial. Didik aktif dalam berbagai kegiatan desa, termasuk pengelolaan makam yang digunakan bersama oleh umat Islam dan Kristen serta jaringan lintas agama di Pati. Gedung gereja pun dimanfaatkan sebagai tempat pelayanan posyandu. Pengalaman Winong telah menarik kunjungan peneliti, perguruan tinggi, dan komunitas dari dalam maupun luar negeri untuk belajar tentang kehidupan lintas iman.

Dermolo: Memperjuangkan Hak dengan Dialog

Berbeda dengan Winong, kunjungan ke GITJ Dermolo, Jepara, membawa mahasiswa menyelami perjuangan panjang jemaat menghadapi penolakan terhadap pembangunan dan penggunaan gereja.

Pendeta Theofilus Tumijan menjelaskan bahwa pembangunan gereja dimulai pada 2001 dan terhenti ketika bangunan baru mencapai setengah dinding. Ia menceritakan Gereja telah berupaya menjalankan proses  perizinan yang selanjutnya telah memperoleh persetujuan hingga tingkat kabupaten pada 2003. Konflik muncul pada 2006, ketika kelompok tertentu menuntut penghentian pembangunan dengan merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri yang baru diberlakukan pada tahun yang sama.

Pengurus GITJ Dermolo, mahasiswa dan dosen di dalam gedung gereja (Dok.Deddy Dharmawan Tumonggi)

Menghadapi situasi tersebut, Theofilus memilih jalan dialog dan nonkekerasan. Jemaat mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk ELSA, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Pelita, FKUB Jawa Tengah, serta komunitas lintas iman.

Pada 2021, pertemuan yang melibatkan pemerintah Kabupaten Jepara, jemaat, kelompok yang menentang gereja, dan jaringan lintas iman menghasilkan keputusan yang memungkinkan gedung GITJ Dermolo digunakan sebagai tempat ibadah.

Meski demikian, Theofilus tidak langsung menggunakan gedung tersebut. Ia terlebih dahulu membangun hubungan dengan tokoh masyarakat, termasuk pihak yang sebelumnya menentang gereja. Jemaat mulai beribadah di gedung itu setelah situasi dinilai kondusif.

Belajar Merawat Perdamaian

Kunjungan ke Winong dan Dermolo memberikan dua pelajaran penting bagi mahasiswa. Winong memperlihatkan bagaimana kerukunan dirawat melalui tindakan sehari-hari, saling memberi ruang, dan kebersamaan. Dermolo menunjukkan pentingnya dialog, solidaritas lintas iman, serta perjuangan memperoleh keadilan dan kebebasan beragama.

Tampak bangunan gereja dan masjid yang saling berhadapan (Dok.Lin Yaung Oo )

Melalui pengalaman langsung tersebut, mahasiswa belajar bahwa perdamaian bukan sekadar hidup berdampingan tanpa konflik. Perdamaian membutuhkan penghormatan terhadap hak, keberanian membangun dialog, dan kesediaan merawat hubungan di tengah perbedaan.

Dari masjid dan gereja yang berbagi kanopi di Winong hingga perjuangan jemaat GITJ Dermolo di Jepara, kunjungan ini memperlihatkan bahwa kehidupan harmonis dan perjuangan keadilan merupakan bagian penting dari dinamika relasi antaragama di Indonesia.

Oleh : Iwan Firman Widiyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *