KLATEN — wartaintegritas.com — Dalam suasana khidmat perayaan Ekaristi Kudus menyambut Malam 1 Suro, Romo Paroki GMA Romo Yoseph Kristanto Pr. mengajak seluruh umat yang hadir untuk merenungkan makna mendalam dari pergantian tahun Jawa.
Melalui khotbah yang sarat akan nilai budaya dan spiritual, umat diajak menanggalkan manusia lama dan menyongsong “urip anyar” (hidup baru) serta “tumindak anyar sing becik” (perbuatan baru yang baik) yang selaras dengan iman Kristiani.
Suasana perayaan liturgi di Gereja Maria Assumpta (GMA) malam itu (Senin , 15/6/2026) tampak begitu kental dengan nuansa budaya Jawa. Hampir seluruh umat mengenakan busana adat Jawa lengkap, seperti kain lurik, kebaya, dan blangkon.
Dalam awal khotbahnya, Romo Kris dengan nada jenaka namun mendalam mengagumi keserasian pakaian umat.
“Pakaiannya sopan semua, tertutup semua, mencerminkan orang Jawa sejati. Tahun baru membawa semangat hidup baru dan tindakan baru yang luhur. Itulah tujuan utama kita memperingati 1 Suro ini,” ungkapnya Romo Kris dengan hangat.
Merefleksikan bacaan Kitab Suci dari Kitab Yehezkiel tentang penyucian dari berhala dan pemberian hati yang baru, Romo mengingatkan umat akan makna baptisan. Air suci yang dipercikkan menjadi tanda pertobatan sekaligus pembersihan diri dari segala kenajisan batin.
Hal ini diperkuat dengan kutipan Injil Yohanes Bab 15 ayat 1 – 8, yang dalamnya Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Pokok Anggur yang Sejati. Romo Kris menekankan bahwa manusia hanya dapat menghasilkan buah kebajikan yang melimpah jika mereka senantiasa tinggal dan bersatu di dalam Kristus.
“Tanpa Kristus, manusia tidak dapat berbuat apa-apa”. Tegas Romo Kris.
Tiga Laku Utama: Eling, Waspada, lan Urup
Sebagai tuntunan praktis dalam memasuki tahun yang baru, Romo Kris menguraikan tiga prinsip laku utama dalam falsafah Jawa yang sangat relevan dengan kehidupan rohani Kristiani:
Pertama, Eling (Ingat): Umat diajak untuk senantiasa sadar akan asal dan tujuan hidupnya (sangkan paraning dumadi). Manusia bukanlah siapa-siapa tanpa penyelenggaraan Gusti Allah. Romo Kris mengingatkan bahwa setiap helai pakaian indah yang dikenakan umat saat ini pada akhirnya akan bermuara pada kesiapan menghadap Sang Pencipta.
“Kita semua adalah calon almarhum dan almarhumah. Pakaian terbaik yang kita kenakan malam ini adalah wujud penghormatan kita untuk sowan (menghadap) Gusti dengan hati yang pantas,” tuturnya.
Kedua, Waspada (Waspada/Mawas Diri): Laku kedua adalah menjaga hati agar tidak lengah terhadap godaan duniawi. Romo meminta umat untuk membuang jauh-jauh sifat iri hati, gengsi, suka mengeluh (ngomel), dan kebiasaan bergunjing (hibah).
Secara khusus, beliau menyoroti pentingnya keheningan (tirakat) di zaman modern ini, salah satunya dengan berani menjauhkan diri dari gawai atau HP selama ibadah. Romo Kris mengingatkan pepatah luhur:
“Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti — bahwa segala angkara murka, kekuatan, dan kejayaan duniawi akan luntur dan dikalahkan oleh budi pekerti yang luhur, welas asih, serta kelembutan hati”. Katanya
Ketiga, Urup (Menyala/Menjadi Berkat): Prinsip ketiga menegaskan bahwa hidup haruslah menyala dan membawa terang bagi sesama (urip iku urup). Romo menekankan bahwa pembaruan hidup tidak perlu muluk-muluk, melainkan dimulai dari hal terkecil di dalam keluarga dan lingkungan kerja.
“Jadilah pembawa kesejukan dan kedamaian di dalam rumah tangga. Jadilah orang yang jujur di kantor, dan jadilah orang yang sabar saat di jalan raya,” pesan Romo.
Romo Kris juga mengingatkan sebuah pepatah bijak, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Busana yang dipakai umat sudah sangat baik dan indah malam itu, maka apa yang keluar dari lathi (mulut) pun harus dipenuhi berkat, perkataan yang menguatkan, serta menjauhi perkataan kasar maupun umpatan.
Prosesi Potong Tumpeng dan Berkat Penutup
Setelah perenungan firman yang mendalam, dalam homili rangkaian perayaan dilanjutkan dengan upacara simbolis sebagai ungkapan syukur. dengan prosesi pemotongan Tumpeng oleh Romo Kris sebagai simbol berkat dan rasa syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang lalu serta permohonan perlindungan untuk tahun yang akan datang. Potongan tumpeng tersebut diserahkan kepada pimpinan karawitan dari group kerawitan Stasi Senden, sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan pujian liturgi yang indah sepanjang misa dalam penyajian lagu dan musik gamelan.
Perwakilan Dewan Paroki Julius dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh umat dalam menjaga keluhuran tradisi iman berbasis budaya ini.
Seluruh rangkaian Ekaristi Kudus Malam 1 Suro ini ditutup dengan berkat meriah dari Romo Yoseph Kristanto Pr. untuk mengutus umat kembali ke tengah masyarakat membawa semangat hidup baru yang bersih, luhur, dan menjadi berkat bagi sesama.
(Benyamin Hadinagara)










