Cerbung: Penantian di Ujung hari (3)

Fiksi36 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Lima tahun setelah Ina menikah dengan Adi, Kustri belum juga bergeming untuk mencari jodoh.  Orang tua Kustri berkali-kali mendesak Kustri supaya segera memilih jodoh.  Namun entah mengapa, Kustri selalu menolak keinginan orang tuanya itu.  Orang tua Kustri sudah usia senja, sehingga wajar kalau mereka mendesak Kustri untuk segera menikah, karena mereka pun ingin memiliki cucu yang dilahirkan dari Kustri dan istrinya nanti.  Kustri punya kakak Kusdwi yang sudah menikah dan memiliki seorang anak dari pernikahan mereka.  Kustri sebenarnya juga punya kakak perempuan, Kuswanti, tetapi meninggal saat usia remaja.

Ina tersenyum jika mengingat saat dia menentukan pilihan siapa yang ia terina pinangannya saat itu.  Dan Ina merasa tidak salah pilih.  Ina merasa Adi adalah laki-laki yang sangat mencintainya.  Perhatian Adi kepada Ina begitu besar.  Kemana pun Adi pergi mengantar tamu-tamunya, Adi selalu membelikan oleh-oleh kepada Ina.  Dari tempat Adi mengantar tamunya, Adi selalu kirim WA bertanya Ina mau dibelikan oleh-oleh apa.  Adi juga mengirim gambar-gambar barang atau makanan yang menjadi ikon khas daerah yang dikunjunginya.  Setiap kali sampai di lokasi wisata tempat Adi mengantar tamunya, Adi selalu menelpon Ina melalui video call, bercakap-cakap dengan Ina tentang banyak hal. 

Hanya saja Ina merasa kecut kalau melihat bahwa sampai lima tahun usia pernikahan mereka, Ina belum dapat memberikan keturunan kepada Adi.  Sebetulnya usai menikah, selang tiga bulan, dokter menyatakan bahwa dalam rahim Ina sudah mulai tumbuh benih hasil cinta kasih Ina dan Adi.  Betapa bahagianya Ina dan Adi.  Tidak selang lama setelah dokter kandungan mengatakan hal itu, Ina dan Adi pulang ke rumah orang tua Ina dan mengatakan bahwa mereka akan memiliki seorang anak.  Betapa senangnya hati kedua orang tua Ina.  Orang tua Ina dan tentu orang tua Adi juga berpendapat bahwa tidak lama lagi mereka akan memiliki seorang cucu.  Betapa bahagianya.

Namun sesuatu terjadi.  Ina yang harus naik motor dari rumahnya ke kantor tempat ia bekerja yang berjarak sekitar 10 kilometer itu menjadi sebabnya.  Memang jalan antara rumah Ina dan kantornya sedang dalam perbaikan.  Banyak lobang-lobang di jalan akibat air hujan yang mengguyur hampir setiap hari.  Kadang-kadang Ina diantar Adi pakai mobil jika Adi tidak keluar kota.  Tetapi karena Adi juga bekerja mengantar tamu ke luar kota, Ina kemudian berangkat sendiri ke kantornya.  Kondisi jalan yang seperti itu membuat kandungan Ina menjadi lemah.  Saat kontrol ke dokter kandungan, Ina disarankan untuk beristirahat total selama beberapa hari dan meminum obat dari dokter.  Dokter berkata, flek-flek pada Ina memungkinkan bahwa kandungan Ina dalam kondisi lemah.  Semoga benih janin dapat dipertahankan, demikian kata dokter.

Karena flek-flek yang tidak juga berhenti, tetapi terus bertambah intensitasnya, maka Ina kemudian dibawa ke rumah sakit.  Dokter kandungan rumah sakit itu, saat melihat perkembangan kandungan Ina kemudian memutuskan untuk melakukan operasi kiret.  Dengan berat hati akhirnya Ina melakukan perintah dokter tersebut karena jika dipertahankan pun bakal janin tidak akan berkembang malah membahayakan bagi sang ibu.  Akhirnya Ina menjalani operasi kiret.  Adi dan adik-adik Ina menuggui Ina selama di rumah sakit bergantian.  Operasi kiret pun berjalan dengan baik.  Sehari setelah operasi itu, Ina sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

(Bersambung)

*Spesial  untuk H, R & Rn

*) Penulis tinggal di Ambarawa, riwa-riwi ke Salatiga/ Jepara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *