Cerbung: Lelaki Pengayun Kapak (4)

Fiksi115 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki*)

Akhirnya jadilah Herdi seorang kepala desa.  Bengkok sawahnya 15 hektar.  Belum lagi pendapatan pajak jual beli tanah di desanya yang memang karena meubel sangat ramai, banyak pengusaha luar kota dan bahkan luar negeri yang mencari tempat usaha di kota kami, termasuk di desa kami.  Jadilah Herdi seorang kepala desa yang kaya, karena usaha meubelnya juga berkembang pesat.  Dengan uang yang tak pernah berhenti mengalir, ia investasikan pada perkebunan, pesawahan, dan beternak sapi brama dan kambing etawa yang lagi ngetrend.  Hasil kebun dan sawah juga melimpah.  Lumbungnya selalu penuh, tiap waktu tak kunjung habis.

Suatu kali dia menikahkan anak gadisnya yang telah selesai kuliah di akademi kebidanan, dan telah menjadi bidan di desanya.  Rumahnya bak istana.  Tamu sudah hilir mudik seminggu sebelum acara.  Tidak hanya tamu dari desanya, tetapi juga relasi-relasi pemerintahan seperti Pak Camat dan bahkan Pak Bupati serta rekan bisnis meubelnya selama ini.  Saudara-saudaranya, tidak ada yang tersisa, semua ikut melayani dan menjadi tuan rumah di acara pernikahan itu.  Istrinya yang menawan itu sampai kelelahan menerima tamu.  Melihat istrinya seperti itu, ia lalu menghiburnya, bahwa nanti toh setelah acara selesai, bisa istirahat.  Ia menjanjikan, sesuai acara itu, dia akan membawa istrinya ke sebuah hotel mempesona di pulau Karimunjawa.  Sebagaimana biasa di desa di daerah pantai, hiburan yang pling digemari adalah Orkes Melayu.  Herdi pun memanggil sebuah grup Orkes Melayu dari kota Salatiga dengan para penyanyi ternama dari Jogja dan Blora.  Sebuah impian yang indah bukan?

“Kita harus membawa Herdi segera ke rumah sakit jiwa,” Pak Sarni kamituwo tua memberi sebuah usulan.  Mendengar itu saya sangat setuju, karena perilakunya semakin membahayakan orang lain.

“Tapi ada dua hal yang perlu aku sampaikan,” Priyo mengetengahkan suaranya.  “Yang pertama, sejak dia mau mengampak aku, lalu dia jatuh terjerembab itu, keesokan harinya Herdi tidak ada lagi di rumah, dan aku tidak tahu ke mana perginya,” terang Priyo.

“Benar, padahal malam harinya, anak itu melempari rumah saya dengan kerikil.  Entah apa sebabnya.  Akibatnya genteng-genteng ada yang bolong, serta kaca depan rumah pecah,” Mardi menimpali sambil berkeluh.

“Kamu tidak berbuat apa-apa?” Hartono yang tahu Herdi benci pada Mardi karena pernah mengusulkan suatu ketika supaya Herdi dipasung bertanya.

“Bagaimana mungkin, dia selalu memegang kapaknya…” Mardi berkata begitu sambil tersenyum pahit.

“Yang kedua…,”kata Priyo,”Aku dan keluarga terus terang tidak punya uang untuk pengobatan keponakan saya itu.  Sedangkan kalian tahu sendiri, Hesti, ibunya sudah sibuk dengan urusan keluarganya,” keluh Priyo, kali ini dengan agak terbata.

Mendengar hal itu, lalu kami membicarakan jalan keluarnya.  Keluarga dengan dibantu Pak Sarni akan mencarikan kartu Askeskin, yakni kartu yang dapat membebaskan pasien dari biaya pengobatan, karena miskin.  Hartono mendapat tugas mencarikan sumbangan dana dari lingkungan RT dan RW.  Aku kebagian mencari dana di luar desa.  Segera saja, aku ingat rekan yang bekerja di sebuah majalah yang menampung dana dermawan untuk kebutuhan orang-orang sakit.  Aku kemudian telpon rekan itu, dan secepatnya aku membuat proposal pengajuan.  Tak sampai seminggu, dana itu sudah masuk ke rekening yang aku sebutkan. 

Langkah berikutnya, Herdi harus segera dicari, jika sudah ketemu harus dibawa pulang, walau dengan paksa. Kemudian Herdi harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa di Semarang.  Tapi bagaimana mencari lelaki dengan kapak yang selalu di tangan itu?  Dimana ia?

Ketika kami bertemu untuk berembug lagi, dibagilah 2 tim di antara kami.  Hartono dengan Mardi bertugas mencari Herdi di pasar-pasar kota kecamatan dan pasar pusat kota, siapa tahu dia masih berada di lingkungan pasar di kota kami.  Pak Sarni, Priyo dan aku kebagian tugas mencari Herdi di desa-desa, di pantai, di sungai, dan di perkebunan karet serta hutan jati di kota kami.  Waktu pencarian dibatasi satu minggu.

Oleh karena itu jika kalian lihat sebuah rombongan lelaki muda sederhana dengan pakaian kaos, celana jins butut dan sandal bandol karet, serta seorang yang sudah tua, disertai dengan lelaki legam dengan muka bercak-bercak, dengan mobil kijang tua berkeliling di desa-desa, di pantai-pantai, di sungai-sungai dan di perkebunan-perkebunan karet dan hutan jati, itulah kami.  Kadang kami berhenti di hutan karet, bertanya kepada para penggembala atau pekerja perkebunan.  Kadang pula berhenti di pantai-pantai, bertanya pada nelayan atau penjual ikan.  Kadang juga kami berhenti di sebuah jembatan, dari arah jembatan saya lihat sungai dengan batu-batu gajahnya, siapa tahu Herdi lelaki gila itu tengah melamun dengan memegang kapaknya di sana?

(Selesai)

*) Pernah dimuat di Mingguan Suara Merdeka Semarang dalam bentuk Cerpen

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *