Menebar Cinta Kasih, Kirab Agung Waisak 2026 Hadirkan Prosesi Thudong Lintasi Ragam Perbedaan Menuju Candi Sewu

Peristiwa11 Dilihat

​KLATEN – wartaintegritas.com — Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) tahun 2026 menyajikan potret kedamaian dan kebersamaan umat beragama yang luar biasa indahnya di kawasan Candi Sewu, Prambanan, Klaten. (Minggu; 31 /5/26)

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya diselenggarakan secara eksklusif di dalam kompleks candi, kali ini Kirab Agung Waisak bertajuk “Maitri Pratnya Yatra” mengusung semangat pembaruan dengan melangkah keluar, menghubungkan Candi Plaosan hingga Candi Sewu, seraya membawa pesan mendalam tentang kelestarian alam dan toleransi antar-iman.

​Ketua Panitia Waisak Candi Sewu, Romo Daryono, menjelaskan bahwa perubahan konsep rute kirab tahun ini merupakan tindak lanjut atas arahan strategis dari Bupati Klaten pada tahun sebelumnya.

Pemerintah Kabupaten Klaten berharap agar potensi budaya yang kaya di sekitar kawasan candi-candi tersebut dapat diangkat secara optimal, sekaligus memperkenalkan keunikan tradisi luhur yang adaptif terhadap dinamika sosial kemasyarakatan.

​”Dengan semangat tersebut, kemasan tahun ini untuk Kirab Agungnya kita bawa ke luar, yaitu dari Candi Plaosan menuju Candi Sewu. Kirab yang kita lakukan ini dinamakan Kirab Agung Maitri Pratnya Yatra. Maknanya, Maitri adalah simbol ajaran cinta kasih yang bersemayam dalam Candi Plaosan, yang kemudian berjalan melebur menuju Candi Sewu hingga menembus Pratnya atau kebijaksanaan sejati,” ujar Daryono saat ditemui awak media wartaintegritas sebelum kirab dimulai.

​Daryono menambahkan, kirab ini diikuti oleh ribuan umat Buddha yang membawa kendil berisi air suci yang diambil dari berbagai sumber mata air di antero Nusantara, termasuk salah satu yang terjauh dari Danau Segara Anak di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehadiran air suci ini bukan sekadar pelengkap ritual Puja Bakti semata, melainkan manifestasi nyata komitmen Keluarga Budayana Indonesia untuk senantiasa merawat dunia melalui aksi nyata pelestarian alam dan penanaman pohon di sekitar hulu mata air.

​Sambut Hangat Perjalanan Spiritual Sangha

​Prosesi yang menempuh jarak antar candi ini juga menjadi momen spiritual yang emosional dengan tibanya rombongan Bhikkhu Thudong. Rombongan Sangha yang berjalan kaki dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu tersebut disambut dengan penuh takzim oleh jajaran Pembina Masyarakat Buddha Kementerian Agama.

​”Kami mengucapkan selamat datang kepada rombongan yang mulai mengikuti Sangha, menempuh perjalanan panjang berjalan kaki dari Sima Jepara menuju Candi Sewu. Selamat datang, hari ini telah sampai dengan selamat. Semoga perjalanan spiritual ini memberikan makna yang luar biasa mendalam bagi kita semua dalam menyambut Waisak, khususnya dari Keluarga Budayana Indonesia. Semoga dharma bisa senantiasa menjadi penjaga perdamaian dunia,” sambut Pandu Dinata, S.Kom., M.Pd. Pembina Buddha Daerah Istimewa Yogyakarta selaku Pembina Buddha Kemenag dengan hangat.

​Laskar Agung Macan Ali Cirebon: Simbol Indahnya Toleransi Nusantara

​Pemandangan yang paling memukau dan menyentuh hati sepanjang prosesi spiritual ini adalah kehadiran empat puluh personel dari Laskar Agung Macan Ali Kasultanan Cirebon mayoritas muslim. Dipimpin langsung oleh Panglima Tingginya, mereka setia berjalan kaki mengawal keselamatan para Bhikkhu sejak awal keberangkatan dari Jepara hingga titik akhir di Klaten.

​Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Nusantara Kasultanan Cirebon, Prabu Diaz, menegaskan bahwa keikutsertaan mereka dalam mengawal jalannya ritual suci umat Buddha ini didasari oleh rasa kemanusiaan yang universal dan komitmen penuh untuk merawat ideologi Pancasila serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

​”Kami berjalan kaki menemani, mengawal, dan mengamankan para Bhikkhu Thudong.
Perjalanan ini kami lakukan secara swadaya sebagai bentuk bakti kami untuk mengabarkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat toleran. Kita boleh berbeda suku, bahasa, dan kepercayaan, namun itu bukan berarti kita harus bermusuh-musuhan. Sebagaimana pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mereka yang tidak bersaudara dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Mari kita jaga perbedaan ini dengan cinta kasih,” tegas Prabu Diaz.

​Melalui perpaduan ritual suci, komitmen terhadap kelestarian alam Nusantara, serta indahnya jalinan persaudaraan lintas agama, perayaan Tri Suci Waisak 2026 di Candi Sewu ini sukses mengirimkan pesan damai yang kuat dari jantung Jawa Tengah kepada dunia: bahwa di dalam rahim Nusantara, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan untaian benang emas yang merajut harmoni kehidupan yang sejati.

(Benyamin Hadinagara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *