Oleh: Suyito Basuki *)
KAB. SEMARANG, wartaintegritas.com – Bulan Oktober biasanya oleh kampus-kampus yang berprogram studi bahasa dan sastra disebut sebagai bulan bahasa. Mengapa demikian? Karena Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928 itu di dalamnya ada komitmen yang diambil pada kongres pemuda pada waktu itu, yakni berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Pada bulan bahasa biasanya ada seminar-seminar terkait dengan bahasa Indonesia dan juga kegiatan pentas seni sastra para mahasiswa.
Yuk saat ini ngobrol tentang eksistensi bahasa Indonesia dalam bombardir bahasa asing. Mumpung di bulan Oktober yang adalah bulan bahasa hehehe…
Eufemisme demi kesopanan
Dulu ketika belajar di kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prodi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia dan saat baru lulus tahun 1989, segar-segarnya menjadi sarjana dan dosen muda di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, kalau berbahasa Indonesia, baik tulisan maupun lisan ya diusahakan 100 persen menggunakan kata-kata bahasa Indonesia. Lebih-lebih kalau situasinya formal, maka kata-kata yang digunakan atau diksinya harus menggunakan kata-kata baku yang bermakna denotatif, bukan konotatif.
Memang sesekali menggunakan kata asing dalam percakapan, tetapi itu dilakukan bukan karena untuk menunjukkan kepandaian berbahasa asing, tetapi lebih kepada kesopanan karena tidak mau menyinggung seseorang. Itulah gaya bahasa eufemisme. Ambil contoh, saat menggunakan kata untuk menyebut penyakit kejang-kejang yang mengarah gangguan kejiwaan atau gila, maka digunakan kata “epilepsi”. Daripada menyebut penyakit “tedhun” atau saluran kecing yang melorot, maka digunakanlah kata “hernia”. Dari pada menyebut penyakit tekanan darah tinggi, maka dipakailah kata “hipertensi”, cuci darah digunakan kata “hemodialisa” dan sebagainya.
Oleh karena itulah, pada saat itu saran dari Pusat Bahasa banyak memberikan padanan-padanan kata bahasa asing ke bahasa Indonesia. Misalnya kata complicated itu padanan katanya kata “rumit”. Sampai-sampai Anton Moeliono Kepala Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa saat itu menerbitkan buku “Santun Bahasa” (Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1984) dan Yus Badudu, seorang pakar bahasa Indonesia mengasuh rubrik “Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar” di sebuah majalah bulanan dan penyiar acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta (1977-1979). Tujuannya adalah untuk para pengguna bahasa Indonesia dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sehingga tercapailah efektifitas dalam berkomunikasi.

Absorbsi tak terelakkan
Kalau memang kata asing tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, maka kata asing itu diserap dengan ketentuan dan penulisan yang diatur oleh Ejaan yang Disempurnakan. Misalnya group, ditulis dan dibacanya grup, kemudian kata finish, ditulis dan dibacanya, finis, kata patient ditulis dan dibacanya pasien, kata quality ditulis dan dibacanya kualitas dan lain-lain.
Jika sampai kemudian percakapan terjadi dengan penyelipan bahasa asing wah saat itu bisa dikatakan sombonglah, pamerlah, sok pinterlah, kebarat-baratan atau western-lah dan sebagainya. Dalam lomba pidato misalnya, intervensinya kata-kata asing ke dalam pidato berbahasa Indonesia pastilah menjadikan peserta lomba tidak akan menjadi juara.
Sekarang ini sungguh lain situasinya. Bombardir bahasa asing, baik bahasa Inggris, bahasa Mandarin dan bahasa Arab terutama sangat dirasakan. Kemajuan teknologi, usaha perdagangan dan keagamaan tidak bisa lepas dari ketiga bahasa itu. Sering juga dalam percakapan atau tulisan di medsos juga digunakan kata milad untuk sebuah ulang tahun seseorang atau lembaga; ucapan barakallah fii umrik menggantikan selamat ultah; semoga khusnul khotimah, sebuah harapan terhadap yang meninggal supaya diterima disisi-Nya; semoga waradhah dan warohmah, ucapan disertai harapan kepada pengantin supaya penuh dengan keberkatan; kata cuan untuk menyebut uang; kata hoki untuk menyebut keberuntungan; bro untuk sapaan laki-laki muda dan sist…untuk wanita muda dan sebagainya.
Selamat datang bahasa-bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Penyerapan atau absorbsi bahasa-bahasa asing yang tak terelakkan penggunaannya dengan penyesuaian ucapan dan tulisan akan menambah kekayaan kosa kata bahasa Indonesia.
*) Penulis lulus S1 di FKIP UNS Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UNS Surakarta, S2 theologia di STII Yogyakarta










