Unik, Romo Paroki di Klaten Diarak Becak Kayuh Saat Rayakan Minggu Palma

Peristiwa293 Dilihat

KLATEN – wartaintegritas.com — Ribuan umat Katolik di Klaten, Jawa Tengah, memadati Gereja Katolik Santa Maria Assumpta (GMA) untuk mengikuti Misa Minggu Palma pada Minggu pagi (29/3/2026) Perayaan yang menandai dimulainya Pekan Suci ini berlangsung khidmat dengan tradisi unik, saat Pastor Paroki diarak menggunakan becak kayuh menuju gereja.

Simbolisme Masuknya Yesus ke Yerusalem

​Misa diawali di halaman SD Kanisius yang terletak tepat di samping timur gereja. Sambil memegang daun palma, umat mengikuti prosesi pemberkatan daun dengan percikan air suci.

Momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika Pastor Paroki Santa Maria Assumpta Klaten, Romo Yoseph Kristanto, Pr. , diarak menggunakan becak.

​Arak-arakan ini bukan sekadar kemeriahan, melainkan refleksi mendalam untuk mengenang kembali peristiwa saat Yesus Kristus diarak masuk ke kota Yerusalem. Jika dahulu Yesus menunggangi keledai sebagai simbol kerendahan hati, penggunaan becak kayuh menjadi simbol kedekatan pemimpin agama dengan rakyat kecil dan tradisi lokal.

​Inti Renungan: Antara “Hosana” dan “Salibkan”

​Dalam khotbahnya, Romo Yoseph Kristanto, Pr. , yang didampingi oleh Frater Yanuarius Murdi Pangestu, mengajak umat untuk merenungkan makna mendalam di balik sorak-sorai Minggu Palma.

​Beliau menyoroti perubahan drastis sikap manusia yang tercermin dalam kisah sengsara Yesus.

​”Kita diajak merenungkan kembali kisah sengsara Yesus Kristus, saat Ia dielu-elukan dan diarak saat memasuki Yerusalem. Namun akhirnya, oleh mulut yang sama, mereka mengatakan ‘Salibkan Dia! Salibkan Dia!’,” ujar Romo Kris.

​Pesan ini menjadi pengingat bagi umat agar tetap setia pada iman, tidak hanya saat berada dalam situasi suka dan kejayaan, tetapi juga saat menghadapi penderitaan. ​

Ajakan pada Awal Pekan Suci

​Minggu Palma merupakan gerbang pembuka menuju Pekan Suci. Selama seminggu ke depan, umat Katolik akan memasuki rangkaian ibadah yang merenungkan seluruh peristiwa penebusan manusia. Romo Kris mengajak seluruh umat untuk memanfaatkan waktu ini sebagai masa refleksi diri yang mendalam.

  • ​Mengenang Sengsara: Umat diajak menghayati setiap tetes darah dan pengorbanan Yesus.
  • ​Wafat dan Kebangkitan: Mengimani bahwa melalui kematian-Nya di salib, ada kemenangan besar dalam kebangkitan.
  • ​Penebusan Dosa: Menyadari bahwa seluruh rangkaian Pekan Suci adalah bukti kasih Allah yang tak terbatas dalam menebus dosa umat manusia. ​Perayaan diakhiri dengan misa di dalam gereja yang berlangsung tertib, membawa harapan baru bagi umat untuk menjalani hari-hari selanjutnya menuju Hari Raya Paskah. (Benyamin Hadinagoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *