Visualisasi Kisah Sengsara Yesus di Klaten: Menghayati Salib Melalui Sendratari

Peristiwa355 Dilihat

​KLATEN – wartaintegritas.com — Umat Kristiani di Klaten memperingati rangkaian Tri Hari Suci dengan cara yang mendalam melalui pementasan sendratari visualisasi kisah sengsara Yesus Kristus di Gereja Katolik, Gereja Maria Assumpta (GMA) Klaten pada Jumat Agung (3/4/226).

Pertunjukan yang melibatkan kolaborasi seniman lokal ini menjadi sarana refleksi iman sekaligus tontonan budaya yang memikat.

​Persiapan Matang Selama Tiga Bulan

​Salah satu sorotan dalam pementasan ini adalah penampilan Nicolas, pemuda yang didapuk memerankan sosok Yesus. Dalam wawancaranya, Nicolas mengungkapkan bahwa persiapan untuk peran sakral ini memakan waktu kurang lebih tiga bulan di bawah bimbingan Sanggar Tari Omah Wayang Klaten.

​”Kesulitannya adalah bagaimana mengeluarkan ekspresi dan bertingkah laku seperti Yesus yang diinginkan oleh pelatih,” ujar Nicolas. Meski menghadapi tantangan besar, ia bersyukur pementasan dapat berjalan dengan sukses dan lancar.

​Pesan Iman: Memanggul Salib Sendiri

​Pementasan ini didasarkan pada Injil Yohanes, (Injil Yohanes 19: 17 secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus memikul sendiri salib-Nya ke Golgota tanpa menyebutkan bantuan Simon dari Kirene.) Yohanes menekankan kedaulatan dan keilahian Yesus, di mana Ia memegang kendali penuh atas jalan menuju penyaliban-Nya
yang memberikan perspektif unik mengenai ketegaran Yesus. Romo Yoseph Kristanto, Pr. menjelaskan bahwa dalam versi ini, Yesus digambarkan sebagai sosok yang jaya dan raja.
​”Injil Yohanes menekankan Yesus yang tidak membutuhkan Simun dari Kirene untuk memanggul salib-Nya. Ini mengajak umat semua supaya memanggul salib sendiri, jangan diletakkan pada orang lain,” terang Romo Yoseph.

Beliau juga menambahkan bahwa iman Kristiani tidak berhenti di Golgota (kematian), melainkan berlanjut hingga kebangkitan.

​Refleksi Karakter di Sekitar Yesus

​Dalam sesi ulasan pementasan, Frater Yanuarius membedah makna dari setiap segmen pementasan yang dibagi menjadi empat bagian utama:

  • ​Segmen 1 & 4 (Taman Getsemani & Taman Makam): Menampilkan kesunyian dan kesendirian Yesus saat ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya, termasuk refleksi karakter Petrus yang sempat menyangkal Yesus.
  • Segmen 2 (Penghakiman): Menampilkan Yesus di hadapan orang-orang yang ingin menyalibkan-Nya. Di sini muncul karakter Pilatus yang digambarkan ragu-ragu dan sering melakukan tawar-menawar terhadap kebenaran karena kekacauan situasi.
  • ​Segmen 3 (Puncak/Penyaliban): Menampilkan Yesus yang membawa “takhta”-Nya, yaitu kayu salib, hingga ke puncak Golgota dan menyelesaikan misteri penebusan manusia.

​Pementasan ini juga menyoroti sosok Maria dan Yohanes sebagai gambaran gereja yang setia mendampingi Yesus meski dari kejauhan.

​Apresiasi untuk Omah Wayang

​Pementasan ditutup dengan apresiasi tinggi kepada para aktor dan tim dari Omah Wayang Klaten yang telah berhasil memvisualisasikan kisah sengsara ini dengan penuh penghayatan. Acara ini diharapkan dapat mempertebal kesetiaan umat dalam mengikuti jejak pengorbanan Yesus Kristus.

​(Benyamin Hadinagoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *