Tradisi Padusan: Momentum Penyucian Diri Melalui Tradisi “Merti Rogo”

Peristiwa200 Dilihat

​KLATEN – wartaintegritas.com — Ribuan warga memadati Objek Wisata Mata Air Cokro (OMAC), Cokro Tulung, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, pada Selasa (17/2/2026) dalam rangka merayakan tradisi tahunan Gebyar Padusan. Acara yang bertajuk “Merti Rogo” ini dihadiri langsung oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, sebagai simbol kesiapan spiritual masyarakat menyambut bulan suci Ramadan.

​Ritual Kirab 17 Kendi dan Siraman

​Kemeriahan acara dimulai dengan prosesi kirab 17 kendi yang berisi air suci yang diambil dari 17 sumber mata air di seluruh penjuru Klaten. Iring-iringan disertai lantunan salawat yang menambah kental nuansa religius di tengah balutan budaya Jawa.

​Dalam rangkaian inti, Bupati Klaten Hamenang melakukan prosesi siraman kepada pasangan putra-putri Mas-Mbak Klaten 2025. Ritual ini melambangkan pembersihan diri secara lahiriah dan batiniah bagi generasi muda dan masyarakat umum sebelum memasuki masa peribadatan puasa.

​Filosofi “Affuwun” dalam Gunungan Apem

​Salah satu daya tarik utama yang memicu antusiasme pengunjung adalah penyebaran gunungan kue apem. Plt. Kepala Disbudporapar Klaten, Purwanto, menjelaskan bahwa penggunaan kue apem dalam tradisi ini memiliki makna teologis yang dalam.
​”Kata ‘apem’ diyakini berasal dari bahasa Arab ‘affuwun’, yang berarti memohon maaf. Ini adalah simbol bahwa kita harus saling memaafkan dan membersihkan hati sebelum menghadap Sang Pencipta di bulan Ramadan,” ujar Purwanto.

​Peningkatan Sektor Pariwisata

​Bupati Hamenang Wajar Ismoyo menyatakan bahwa tradisi Padusan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga aset budaya yang mampu mendongkrak sektor pariwisata daerah. Beliau mencatat banyak pengunjung yang hadir justru berasal dari luar wilayah Klaten.

​”Kabupaten Klaten dianugerahi ‘1001 mata air’. Kami bersyukur tradisi ini bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana bagi masyarakat untuk bersiap diri secara fisik dan agar ibadah Ramadan nanti bisa lebih khusyuk,” tutur Bupati.

​Pelayanan Publik dan Tiket

​Meski dipadati pengunjung, pihak pengelola OMAC memastikan kenyamanan wisatawan dengan tidak menaikkan harga tiket masuk. Tiket masuk tetap harga normal, Rp15.000,00. guna memastikan tradisi ini tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kendala biaya.

​Acara berlangsung meriah dengan penyebaran apem, mengharapkan keberkahan dan kedamaian bagi seluruh warga Klaten selama menjalankan ibadah di bulan suci mendatang.

​(Benyamin Hadinagoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *