Rabu Abu 2026: Memasuki Masa Prapaskah dengan Pertobatan Batin, Bukan Pamer Kesalehan

Peristiwa263 Dilihat

KLATEN – wartaintegritas.com – Hari ini, Rabu (18/02/2026), umat kristiani memasuki masa Prapaskah yang ditandai dengan perayaan Rabu Abu. Ritual pengolesan abu di dahi tahun ini membawa pesan kuat tentang pentingnya pembaharuan diri yang tulus, sebuah ajakan untuk kembali ke hakikat kemanusiaan yang rendah hati dan penuh kasih.

​Simbol Kefanaan dan Penyesalan

​Abu yang dioleskan di dahi bukan sekadar sisa pembakaran daun palma, melainkan simbol yang sarat makna. Sebagaimana dikutip dari teks Puncta hari ini, abu melambangkan kesementaraan, dukacita, dan penyesalan mendalam.
​”Ingatlah, engkau debu, dan akan kembali menjadi debu.” Kalimat ini menjadi pengingat bahwa hidup di dunia adalah fana.

Sebagaimana Nabi Yunus menggerakkan orang Niniwe untuk duduk di atas debu dan mengenakan kain kabung, umat diajak untuk menjadikan momen ini sebagai titik balik meninggalkan kesombongan dan kekerasan hati.

​Menghindari “Show” Kesalehan

​Mengacu pada Injil Matius 6: 1-6 dan 16-18, masa puasa tahun ini menekankan pada sikap batin daripada sekadar penampilan lahiriah.

Umat diingatkan untuk menjalankan tiga pilar hidup rohani tanpa pamrih:

  • ​Beramal: Memberi sedekah secara tersembunyi tanpa mencari pujian.
  • ​Berdoa: Membangun relasi intim dengan – di “kamar tertutup,” bukan bersandiwara di tikungan jalan agar dilihat orang.
  • ​Berpuasa: Menjaga wajah tetap ceria dan tulus, tanpa perlu menunjukkan kemuraman sebagai tanda sedang berpuasa.

​Puasa untuk Keselamatan Sesama

​Pesan penting dalam permenungan tahun ini adalah puasa yang inklusif dan toleran. Umat diajak untuk tidak menjadi penghalang bagi rezeki orang lain dengan memaksakan kehendak.
​”Tidak perlu takut ada warung atau restoran buka. Tidak perlu marah ada orang makan dan minum di depan kita saat kita berpuasa. Jangan sampai menghalangi rezeki orang supaya Tuhan tidak menghentikan rezeki kita,” tegas Rm. A. Joko Purwanto, Pr. dalam refleksinya.

​Mengendalikan Nafsu, Bukan Pesta Pora

​Di tengah dinamika ekonomi, masa Prapaskah juga dimaknai sebagai masa mati raga. Umat diimbau untuk hidup prihatin dan mengurangi nafsu konsumtif agar tidak memicu lonjakan harga kebutuhan pokok (sembako) akibat “pesta pora” terselubung selama bulan puasa.

​Masa puasa adalah perjalanan selama empat puluh hari untuk mengasah kesabaran, ketekunan, dan kasih tanpa pamrih. Dengan goresan abu yang lembut di dahi, umat mengawali perjalanan spiritual ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi Allah dan sesama.

​Selamat memasuki Masa Prapaskah.

(Benyamin Hadinagoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *