KAB. JEPARA, wartaintegritas.com – Harlina (55) bersama dengan suaminya, Mulyono Tunggala (72) saat ini memiliki sebuah CV Mahkota Mulyo Manunggal. Melalui CV inilah Harlina yang memiliki 2 orang anak, Tia dan Willy dan seorang cucu ini memiliki usaha yang berkembang di bidang permebelan.
Usaha CV Mahkota Mulyo Manunggal yang berbasis lokasi di Desa Karanggondang RT 01/ RW 01 Kecamatan Mlonggo Jepara ini memproduksi mebel khususnya yang bertipikal garden. Mebel tipikal garden ini sering disebut “out door”. Ciri khasnya mebel yang wujudnya kursi, meja dan lain-lain ini tidak dilakukan pengecatan atau pemolesan yang merubah warna asli kayu. Sedang mebel yang memerlukan finishing pengecatan sehingga mengubah warna kayu, itu tipikal sebaliknya yang sering disebut mebel “in door”.
Meski Harlina dan Mulyono Tunggala berfokus pada produksi mebel out door, tetapi tidak menampik jika ada order dari pembeli untuk membuat mebel in door. Beberapa tahun yang lalu misalnya, perusahaan Harlina dan Mulyono Tunggala ini mendapat order dari sebuah hotel berbintang lima di Bali untuk mengisi mebel in door. Hal itu mereka kerjakan juga selain mengirim produksi mebel mereka ke Amerika dan Belanda serta negara-negara lainnya.
Usaha yang Berkembang
Berapa kontainer mebel yang perusahaan mereka kirim setiap bulannya? Usaha yang dirintis tahun 1997 yang lalu, awal-awal pengiriman barang dengan truk kontainer 4-5 kali pengiriman dalam sebulan. Dengan berjalannya waktu, semakin lama pengiriman bertambah.
Jangan berpikir bahwa keuntungan yang sekarang ini didapat dihasilkan dengan mudah. Seperti anak sekolah, menurut Harlina, semua dimulai dari nol kemudian terus naik kelas. “Tapi semua itu harus disertai dengan usaha keras dan mau belajar,” demikian Harlina mengungkapkan.
Semula mereka berusaha dengan tambak udang. Sebelumnya mereka memiliki tambak udang di pinggir Pantai Pailus yang terletak di Desa Karanggondang juga. Hasil tambak udang yang tidak menentu menyebabkan mereka menjual tambak udang itu kemudian berganti haluan dengan berusaha bekerja di bidang permebelan. Pada tahun 1997 di Jepara banyak orang melakukan pekerjaan mebel. Pada saat Indonesia mengalami “krismon” atau krisis moneter saat itu, yang banyak mengakibatkan usaha lokal maupun nasional kelimpungan, masyarakat Jepara justru mendapat berkah dengan usaha mebelan mereka. Di desa Karanggondang khususnya, hampir setiap rumah tangga memiliki usaha mebel, meski yang mereka hasilkan hanya kursi kayu out door. Istilahnya kursi lempit atau kursi lipat.

Pada saat itulah Harlina bersama suaminya memulai usaha mebel mereka. Hasil penjualan tambak udang dibelikan tanah, rumah beserta perangkat alat-alat produksi mebel sederhana di lokasi dekat pusat pemerintahan desa Karanggondang semula. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang permebelan, dengan bertanya dan belajar dari pengrajin mebel sekitarnya, akhirnya berhasil membuat kursi lipat dan peralatan mebel lainnya. Bersama dengan pengrajin yang lain mereka menyetor hasil produk mereka ke sebuah PT Mebel yang besar di Jepara kala itu.
Namun setelah harga yang mereka terima tidak sesuai dengan biaya produksinya, akhirnya mereka memutuskan untuk menjual sendiri. Kebetulan ada keponakan wanita yang tinggal di Bogor bersuamikan orang Belanda. Orang Belanda inilah yang kemudian memberi ide untuk membuat mebel-mebel yang laku dijual di Belanda. Beranjak dari situlah Harlina dan suaminya memproduksi mebel dan melalui keponakannyalah itu barang dikirim ke Belanda.
Saat krismon terjadi, dimana 1 dolar USA yang semula Rp. 2.500 menjadi Rp. 15.000 usaha mereka berkembang pesat. Keponakannya yang mengirim mebel ke Belanda mendapat keuntungan besar dari hasil kurs dolar USA yang melambung saat itu. Harlina dan suaminya mendapat keuntungan juga, meski tidak seberapa karena barang yang ia kirim via keponakan itu dihargai secara rupiah oleh keponakannya, sementara keponakannya menjualnya dengan kurs dolar USA. Tapi meski demikian, Harlina dan suaminya tetap merasa bersyukur karena usahanya mulai jalan. Uang yang mereka dapat mereka belikan bahan dasar mebel, yakni kayu dan tentu saja mesin-mesin yang mendukung produksi mereka.
Saatnya Menuai Hasil
Setelah bekerja sama dengan keponakannya selama 10 tahun, Harlina dan suaminya kemudian mendapatkan pembeli asing untuk produk mereka. Kalangan pengusaha mebel di Jepara menyebut pembeli asing dengan istilah ‘buyer’. Mulailah mereka mengirim mebel sendiri ke Amerika, Perancis dan lain-lain. Karena saat itu mereka belum memiliki ijin pengiriman barang ke luar negeri, mereka memakai jasa seorang pengusaha mebel di Semarang yang telah memiliki ijin pengiriman itu. Setiap pengiriman, mereka memberi uang jasa kepada teman pengusaha di Semarang tersebut.

Karena boleh dikata sudah mengirim barang ke luar negeri sendiri dan dibayar langsung oleh buyer luar negeri, maka penghasilan mereka lumayan besar seiring dengan volume dan frekuensi pengiriman mebel setiap minggu dan setiap bulannya. Harlina dan suaminya mengaku, saat sekarang ini dana yang berputar untuk usaha mereka sudah cukup besar.
Belajar Kunci Keberhasilan
Pengalaman hidup Harlina membuktikan bahwa hanya dengan belajar dan terus belajar sajalah khususnya di bidang teknologi, maka kehidupannya boleh dibilang makmur seperti saat sekarang ini. Ijasah tetap penting baginya oleh karena itulah kedua anaknya dikuliahkan hingga mencapai gelar sarjana. Namun demikian menurut Harlina yang hanya memiliki ijasah SD, usaha, ketekunan dan kerja keraslah yang lebih penting dan sangat utama jika seseorang, khususnya perempuan jika mau maju dan sukses kehidupannya yang kemudian menyebabkan pembangunan berkelanjutan.
Ketika usahanya berkembang seperti sekarang ini, Harlina belajar menata keuangan dengan baik. Selain itu tentu saja ia belajar melakukan pengelolaan manajemen yang baik dan ramah lingkungan. Pengelolaan manajemen yang ia terapkan membuat karyawannya yang saat ini berjumlah 60 orang, belum yang terhitung di luar perusahannya, menjadi betah bekerja kepadanya. Bahkan menurut pengakuan Harlina ada seorang bapak yang bekerja sejak mereka memulai usaha hingga saat ini. Bapak yang tinggal di dusun Paluan Desa Karanggondang ini sudah berumur 70-an tahun. “Prinsip saya, saya tidak akan memecat seorang karyawan. Mereka saya beri kelonggaran untuk bekerja, sampai mereka merasa tidak bisa melakukan pekerjaannya karena umur atau sakit,” demikian ujar Harlina membuktikan manajemen ramah lingkungan yang ia tengah terapkan.

Selain manajemen dan administrasi perkantoran yang ia pelajari sehingga menguasainya, Harlina juga belajar mengoperasikan mesin produksi mebel. Dia kemudian bisa mengoperasikan mesin Jointer, Tenon, Cross Cut, Spindle dan lain-lain. Di antara mesin-mesin itu, yang sering dia pegang dan gunakan adalah mesin router yang berfungsi untuk memperhalus tepian meja atau kursi sehingga menjadi halus dan tumpul. Supaya menghasilkan pekerjaan yang maksimal ia juga menggunakan mesin gerinda untuk hasil akhirnya.
Harlina menangani pekerjaan bermacam-macam. Pekerjaan kunci yang ia pegang yakni sebagai Quality Control. Ada karyawan lain yang melakukan pekerjaan Quality Control atas barang hasil produksi karyawannya dan dari pengrajin yang masuk gudang. Namun pada saat barang akan dipacking dan masuk ke truk kontainer, maka Harlinalah yang akan melakukan pengecekan bahkan sampai pada servis barang. Tidak ada barang satu pun yang luput dari pengecekannya. Harlina dan suaminya bangga bahwa barang-barang yang mereka kirim ke luar negeri, tidak dicacat oleh buyer. Memang mereka dikenal ketat oleh pengrajin di sekitar mereka. Tetapi ketika seorang pengrajin bekerja sama dengan mereka dalam produksi, maka hasil produksinya bisa dipastikan dapat diterima juga oleh perusahaan-perusahaan mebel di Jepara.
Oleh: Suyito Basuki dan Erna Widyaningsih
















