LOPIAN, wartaintegritas.com – Hamparan sawah sayuran yang kini tertutup sisa lumpur kering menjadi saksi bisu ketangguhan warga Kelurahan Lopian. Pada Minggu sore (18/1/2026), lokasi yang sempat luluh lantak akibat banjir bandang November 2025 lalu itu mendadak ramai oleh tawa dan sorak-sorai dalam kegiatan Psychological First Aid (PFA) untuk perempuan dan anak-anak.
Aksi pemulihan trauma ini menampilkan kolaborasi indah antarlembaga. Tim MDSI (Muria Damai Sentosa Indonesia) yang didukung oleh Wijna-MCC (Mennonite Central Committee) bergerak merangkul kaum perempuan dengan berbagai aktifitas permainan dan perlombaan yang menyenangkan seperti balap karung, memindahkan karet, lomba balon dan lain sebagainya. Sementara di titik yang sama, lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa hadir memberikan pendampingan anak-anak dengan mengajak bermain, menyanyi dan menari. Di tempat yang sama suasana menjadi semakin seru, nampak aktivitas sekelompok remaja laki-laki bermain bola, berteriak, tertawa, seolah-olah tidak ada lagi beban karena bencana.

Fasilitator dari MDSI, Rumian M. Turnip (27), menekankan pentingnya pendampingan bagi anak-anak di lokasi pascabencana.
“Anak-anak sangat perlu arahan dalam bermain. Saat ini mereka sering bermain di sungai, padahal situasi pascabencana dan kondisi alam saat ini masih sangat membahayakan keselamatan mereka,” ujar Rumian di sela-sela pendampingan.
Bagi warga, kehadiran tim PFA adalah oase di tengah hancurnya fasilitas hiburan baik untuk anak ataupun perempuan. Ani Wirahulu (39), salah seorang penyintas, mengaku sangat bersyukur anak-anaknya bisa terlibat dalam kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Sejak bencana, anak-anak tidak punya lagi ruang bermain yang cukup karena semuanya rusak dan tertimbun lumpur. Lewat PFA ini, mereka bisa bermain dengan ceria dan lebih terarah,” ungkap Ani. Kepala Lingkungan 1 Ali Rahman Mendrofa menyatakan bahwa, “Kebahagiaan ibu-ibu adalah obat pertama bagi pemulihan keluarga pasca banjir”.

Banjir bandang pada 25 November 2025 lalu meninggalkan luka fisik yang berat dengan sekitar 400 unit rumah rusak di empat lingkungan Kelurahan Lopian. Namun, kehadiran tim MDSI—yang sepekan sebelumnya juga telah melakukan pelayanan PFA di GPdI (Gereja Pentakosta di Indonesia) Lopian untuk ibu dan anak, mencoba untuk meminimalisir dampak trauma yang melekat sehingga mendukung pemulihann kesehatan mental masyarakat.
(Iwan Firman Widiyanto)










