Retret GMA: Momen Basuh Kaki sebagai Simbol Kerendahan Hati dalam Penguatan Spiritual Misdinar

Peristiwa195 Dilihat

​GUNUNG KIDUL – wartaintegritas.com — Dalam upaya memperkuat komitmen pelayanan dan mengawal proses regenerasi organisasi, Misdinar Gereja Maria Assumpta (GMA) Klaten, menyelenggarakan kegiatan retret kepengurusan pada Sabtu hingga Minggu, 21-22 Februari 2026. Bertempat di Pondok Sakuntala, kawasan pantai Gunung Kidul, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi peralihan tugas dari pengurus lama kepada pengurus baru.

Frater ​Yanuarius Murdi Pangestu, sering dipanggil frater Yanu selaku pendamping retret, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar bersifat administratif, namun lebih menekankan pada penyegaran rohani bagi para anggota. “Tujuan utamanya adalah pergantian kepengurusan, sekaligus memberikan waktu bagi mereka untuk menepi sejenak dari rutinitas dan memperdalam aspek spiritualitas dalam pelayanan,” ujar Yanu.

​Meneladani Semangat Pelayanan

Mengangkat tema “Menyangkal Diri, Memikul Salib, Mengikuti Aku”, retret ini dirancang untuk membawa para peserta pada refleksi mendalam mengenai hakikat pelayanan di gereja. Rangkaian kegiatan pada hari pertama difokuskan pada penghayatan “pengalaman salib”, yang ditutup dengan prosesi pembasuhan kaki antarpengurus. Prosesi ini merupakan simbolisasi dari semangat kerendahan hati dan pelayanan yang dicontohkan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya.

​Pada hari kedua, suasana refleksi berlanjut di tepi pantai yang menggambarkan momen Yesus menemui murid-murid-Nya di tepi Danau Tiberias. Sesi ini difokuskan pada “pengalaman Paskah” dan peneguhan misi bagi pengurus baru sebelum mereka resmi menjalankan tugas perutusan di paroki.

​Harapan untuk Masa Depan

Melalui kegiatan ini, diharapkan para pengurus Misdinar Gereja Maria Assumpta (GMA) yang baru memiliki kesadaran penuh bahwa peran mereka bukan sekadar status organisasi, melainkan sebuah panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama anggota dengan tulus.
​”Kami berharap mereka tidak terjebak dalam rutinitas tugas di altar saja, tetapi memiliki kedalaman rohani yang kuat di tengah kesibukan sekolah dan aktivitas lainnya,” pungkas Yanu.

(Benyamin Hadinagoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *