PGIW Jawa Tengah Gelar Sidang MPL di Klaten, Teguhkan Peran Gereja Mewujudkan Kedamaian dan Keharmonisan

Berita17 Dilihat

KLATEN — wartaintegritas.com — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Jawa Tengah menggelar Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Taman Doa Apius, Klaten, Jawa Tengah.

Sidang MPL PGIW Jawa Tengah tahun ini mengusung tema “Hidup Menjadi Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran” yang berlandaskan Efesus 5:8b-9. Adapun subtema yang diangkat adalah “Peran Gereja-Gereja dalam Mewujudkan Ecclesia Domestica yang Menciptakan Kedamaian dan Kerja Sama Membangun Masyarakat Harmonis di Jawa Tengah” (bdk. Efesus 6:4).

Pembukaan sidang diawali dengan ibadah dan Perjamuan Kudus yang dipimpin secara bersama oleh tiga pendeta, yakni Pdt. Lukas Suprastowo dari GKI Klaten, Pdm. Hardy Sulbet, S.Th. dari GSJA, dan Pdt. T.A. Hartono Jati, S.Si., M.Min. dari GKJ Gayamprit.

Tema tersebut menjadi pengingat bagi umat Kristen, khususnya gereja-gereja di Jawa Tengah, untuk menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran melalui kehidupan yang nyata di tengah masyarakat.

Dalam pendalaman tema, Pdt. Ira Imelda, M.Th.PC. dari PGI menjelaskan bahwa kebaikan harus diwujudkan melalui kasih yang nyata kepada sesama dan seluruh ciptaan. Sementara keadilan berarti keberpihakan kepada mereka yang lemah, memulihkan yang terluka, serta menghadirkan kesetaraan.

Adapun kebenaran, menurutnya, ditandai dengan kehidupan yang jujur dan setia kepada kebenaran, serta adanya keselarasan antara gagasan, perkataan, pengetahuan, dan kenyataan.

Gereja Dipanggil Menjadi Terang

Dalam sambutan tertulis Bupati Klaten yang dibacakan Camat Klaten Selatan, Ir. Anna Fajria Hidayati, M.Si., disampaikan harapan agar umat Kristen bersama umat beragama lainnya dapat menjadi terang di tengah berbagai persoalan kehidupan.

“Kegelapan dunia” saat ini, antara lain, tercermin dalam sikap intoleransi, praktik kekerasan antarkelompok, ketidakamanan, serta berbagai tindakan yang dapat mencederai martabat manusia.

Karena itu, gereja dipanggil untuk terus menyuarakan dan menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemerintah Kabupaten Klaten juga berharap daerah tersebut dapat benar-benar menjadi rumah besar bagi keberagaman bangsa, dengan kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan saling menghormati.

Sementara itu, Pembimas Kristen Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Siswo Martono, yang mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, mengingatkan gereja-gereja untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan, baik di antara anggota gereja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menyoroti meningkatnya persoalan perceraian dan keretakan keluarga. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama umat beragama dengan meningkatkan pembinaan keluarga secara lebih intensif.

“Gereja perlu terus menjaga kerukunan antar-gereja, antarumat beragama, serta hubungan yang harmonis antara umat beragama dan pemerintah,” pesannya.

Selain itu, gereja diharapkan semakin menjadi ruang yang ramah anak, ramah disabilitas, dan ramah bagi lanjut usia (lansia). Pada akhir sambutannya, Siswo juga menyampaikan ajakan kepada gereja-gereja untuk melakukan Gerakan Bersih (Geber) di lingkungan gereja masing-masing.

Bahas KDRT, Inklusivitas Gereja, dan Rumah Ibadah

Ketua PGIW Jawa Tengah, Pdt. Yosua Wardaya, S.Th., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sidang MPL kali ini membahas sejumlah isu penting yang perlu mendapat perhatian gereja-gereja di Jawa Tengah.

Isu pertama adalah pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masih terjadi di sejumlah keluarga, termasuk keluarga Kristen. Gereja dinilai memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan bagi keluarga yang mengalami KDRT, sekaligus memperkuat upaya pencegahan melalui pembinaan dan pendidikan keluarga.

“Gereja perlu melakukan pendampingan bagi keluarga-keluarga yang mengalami KDRT. Namun, yang lebih utama adalah melakukan pencegahan serta memberikan pemahaman tentang pentingnya membangun keharmonisan keluarga,” ujarnya.

Isu kedua adalah masih adanya eksklusivitas di antara gereja-gereja di Jawa Tengah yang dapat menyebabkan kurangnya kekompakan dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan bersama. Karena itu, semangat oikumene perlu terus diperkuat agar gereja mampu menghadirkan kesaksian bersama di tengah masyarakat.

Isu ketiga berkaitan dengan pendirian rumah ibadah atau gereja. Di sejumlah daerah masih ditemukan kendala berupa penolakan dari kelompok masyarakat tertentu. Meski demikian, secara umum kondisi di Jawa Tengah dinilai cukup kondusif karena adanya hubungan yang baik dan harmonis antara warga gereja dengan masyarakat di sekitarnya.

Memperkuat Gerakan Oikumene

Sidang MPL PGIW Jawa Tengah juga menjadi bagian dari upaya menjalankan program kerja PGIW Jawa Tengah periode 2024–2029, khususnya dalam meningkatkan peran kenabian PGIW dan gereja-gereja di wilayah Indonesia, terutama di Jawa Tengah, sekaligus memperkuat gerakan oikumene di Jawa Tengah.

Melalui sidang tersebut, gereja-gereja diharapkan tidak hanya memperkuat kehidupan internal organisasi, tetapi juga semakin hadir dalam menjawab berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.

Ketua Panitia Sidang MPL PGIW Jawa Tengah, Pdt. Sugeng Prasetya, S.Pd., M.Div. dari GKJ Klaten, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dapat terselenggara berkat kerja sama yang baik antara gereja-gereja anggota PGIW Jawa Tengah dan pihak Taman Doa Apius Klaten.

Sidang MPL PGIW Jawa Tengah diharapkan menghasilkan langkah-langkah strategis yang semakin memperkuat kesatuan gereja, pelayanan kepada masyarakat, serta kontribusi gereja dalam membangun Jawa Tengah yang damai, adil, harmonis, dan penuh kasih.

(Iskandar MZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *