Oleh: Erna Widyaningsih *)
Senja ini, ditemani lembutnya angin sore yang menerpa rambutku. Kutatap laptopku tanpa berkedip. Beberapa paragraf yang sudah berhasil kutulis kuhapus kembali karena tidak sesuai seperti yang kuharapkan. Lalu aku memikirkan kalimat apa untuk mengawali menulis novelku. Kumulai menulis beberapa kalimat lagi, tapi lagi-lagi kuhapus lagi. Sudah hampir 2 jam lebih ku hanya termenung memikirkan awal menulis novelku.Tapi tak kunjung kudapat yang ku mau.
Kubaringkan tubuhku berusaha memejamkan mata, beristirahat sejenak, melepaskan penatku seharian. Sungguh melelahkan pelatihan menulis yang diselenggarakan di kampusku yang diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai jurusan. Kebetulan aku ikut mendaftar karena ingin mengembangkan hobiku menulis. Hari ke dua besok harus sudah mengumpulkan judul dan sinopsisnya. Harus kuberi judul apa ya? Untuk membuat cerita saja belum terpikirkan. Gimana nih!
“Hai, ada apa dengan dirimu Dinda?” Rahma yang sedikit syok seketika itu langsung bertanya.
“Ouh,… Apakah kau tadi salah makan sesuatu? Kau terlihat sangat berbeda dari dirimu yang sebelumnya dan itu membuat aku khawatir, benarkan Rahma?” Laras pun ikut menimpali.
“Ah gak ada apa-apa, bukannya kalian lebih senang aku jadi pendiam daripada membuat keributan?” kataku membela diri.
Rahma dan Laras saling pandang memperhatikan perubahanku yang drastis menjadi pendiam tidak seperti biasanya.
Semalam aku tidak bisa tidur, memikirkan novel perdanaku. Sampai hampir pagi baru aku bisa menemukan judul dari novel perdanaku. Aku mulai mengetik di layar putih polos laptopku. Perlahan jemariku mulai menekan tuts di laptopku tanpa berhenti. Kubuat outline seperti yang diajarkan dalam pelatihan. Ternyata menjadi penulis penuh perjuangan. Mengolah ide yang tiba-tiba macet, sangatlah sulit. Kalau hanya asal nulis siapapun bisa. Tapi untuk disajikan menjadi cerita yang layak dibaca semua orang, ternyata sangatlah sulit.
Di dalam otakku saat ini tak lagi memilkirkan harus membuat cerita yang bagus. Asal selesai judul dan sipnosis saja sudah bersyukur. Waktu terus bergulir, mataku mulai mengantuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, jariku semakin cepat mengetik. Aku sudah tidak tahu apa yang telah ku tulis saat ini, hanya yang ada dalam benakku, pengalaman hidupku. Klik. Terkirim. Aku menghela nafas lega, akhirnya bisa beristirahat.
“Apakah kamu yang bernama Dinda?” panggil seseorang mengagetkanku.
“ Ya mbak,” sahutku menoleh kearah sumber suara.
Ternyata mbak Gita yang memanggilku. Mbak Gita mendekatiku dan menanyakan tentang novelku. Mbak Gita salah satu narasumber pada pelatihan menulis di kampusku.
Hasil tulisannya sudah banyak dan bagus-bagus. Aku senang membacanya. Aku merasa ada kesempatan tanya tentang bagaimana judul dan sinopsisku yang sudah ku kirim ke panitia.Tapi mbak Gita sudah duluan tanya padaku tentang judul novelku.
“Dinda, judul novelmu bagus, sinopsisnya juga, “ kata mbak Gita kemudian.
“Ah, mbak Gita jangan bercanda,aku baru coba-coba mbak,” sahutku.
“Betul-betul bagus kok,” kata mbak Gita kemudian.
“Pasti pengalaman pribadi ya?” tanya mbak Gita.
“Ya mbak. Lebih mudah menulis pengalaman pribadi daripada pengalaman orang lain.
“Bagus itu, lanjutkan!” kata mbak Gita sambil meninggalkanku menuju depan podium.
Pelatihan menulis yang diselenggarakan selama 3 hari sudah hampir selesai. Hari ini akan diumuman 10 penulis yang sudah dibuatkan cover berdasarkan judul dan sinopsis yang sudah dikumpulkan ke panitia. Satu persatu setelah cover ditampilkan dan penulis menceritakan novelnya di depan seluruh panitia dan peserta, aku dikagetkan dengan panggilan panitia.
“Menguak Takdir Menepis Mimpi, karangan dari Dinda Kirana.” kata mas Bayu kemudian.
“Apa benar yang kudengar barusan?” deg, hatiku berdesir.
“ Tidak mimpi di siang bolong? “ bisikku dalam hati.
“Silakan ceritakan garis besar isi novel di depan ya,” kata mas Bayu kemudian.
Kemudian aku ceritakan garis besar novelku. Karena pengalaman pribadiku maka dengan lancarnya kuceritakan sesuai outline di novelku.
“Kenapa pada menangis?” tanyaku sambil kuusap air mataku sendiri.
“Aku terharu dengan cerita yang kamu buat Din!” Rahma wajahnya kusut karena tugas membuat judul dan sinopsis tidak bisa terselesaikan.
“Selamat ya Dinda, novelmu terpilih yang sudah dibuatkan cover bukunya,” kata Laras kemudian.
“Kalian jangan pesimis seperti itu ya, kalian pasti juga bisa,” kataku pada Rahma dan Laras sambil mengemasi alat tulis dan laptop, karena acara pelatihan menulis sudah berakhir.
“Kita kan diberi waktu 14 hari untuk menyelesaikan novel, waktu kita masih panjang, masih banyak kesempatan.” kataku kemudian.
“Yuk, kita mbakso dulu aja,” ajakku pada kedua sahabatku.
“Ayolah, siapa takut!” kata Rahma dan Laras sambil tertawa lebar.
Kami pun berjalan beriringan menuju warung bakso dekat kampus.
Seminggu sudah berlalu, novelku baru beberapa lembar kutulis. Aduh gimana nih!
Kemarin sibuk buat tugas kampus, jadi nulisnya gak sempat.
“Dinda, yuk kita ke mall, cari angin segar dan cari ide baru,” kata Rahma.
“Ya, nanti dulu, aku mandi dulu ya,” jawabku malas.
“Mau beli apa di mall?” tanyaku.
“Ya nanti kita lihat saja,” Rahma menimpali.
“Sudahlah, ikut saja!”
“Kau tidak ada jadwal di kampus kan?” kata Rahma kemudian.
Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi dengan enggan. Demi sahabat, aku terpaksa ikut kemauannya. Aku mandi secepat kilat agar Rahma tidak ngomel karena nunggu kelamaan. Akhirnya ritual mandi ku selesai sudah. Aku sudah siap ke mall bersama Rahma.
“Dinda….Dinda….,” terdengar orang memanggilku dari luar.
” Ya,” sahutku sambil menuju pintu masuk rumahku.
Di depan pintu kulihat Melly dengan wajah sembab air mata.
“Kenapa wajahmu kusut Melly, ada apa denganmu?” sambil kupeluk Melly dan kuajak masuk.
“Din…, Arya jahat,” sahut Melly sambil terisak.
“Memangnya Arya kenapa kok jahat?” sahutku bingung belum tahu duduk persoalannya.
” Arya, ternyata bermain api di belakangku, kemarin ada yang lihat di cafe berdua dengan cewek lain, bersenda gurau, senang sekali,” kata Melly.
“Apa sudah kamu tanyakan ke Arya siapa cewek yang bersamanya kemarin?” kataku ke Melly.
“Belum, malas omong, dia sibuk,” isak Melly.
“Ya Tuhan, kalau kamu belum tanya kenapa kamu nuduh Arya jahat!
Sekarang telpon Arya, biar tahu siapa cewek yang kamu curigai,” sahutku gemas kepada Melly.
Aku, Melly, Rahma dan Laras saling bersahabat sejak SMA, suka duka kami bagi bersama. Entahlah, diantara mereka, aku yang dituakan. Padahal kami seumuran. Mereka suka curhat apa saja padaku. Katanya paling pintar menyimpan rahasia dan petuahnya manjur. Ah, mereka itu sahabat yang baik.
“Hallo, Arya…,” suara Melly tercekat.
” Ya Mel, ada apa, kok sepertinya kamu habis nangis?” suara Arya dari seberang.
“Arya, boleh aku tanya padamu?” kata Melly kemudian.
“Tanya apa Mel?” kata Arya lembut.
“Kemarin kamu pergi ke mana? Ku hubungi gak bisa,” kata Melly kemudian.
“Aku kemarin dari kampus jemput ponakan yang akan menginap di rumahku.” kata Arya.
“Cewek?” sahut Melly.
” Iya, namanya Tiara, maaf besok baru mau kukenalkan padamu.” sahut Arya merasa bersalah.
“Ya udah Arya, sampai ketemu besok ya,” kata Melly menutup telepon.
“Apa kata Arya?” kataku penasaran.
“Ternyata hanya salah paham saja, ternyata ponakannya dari Jakarta.
Aku malu sudah nuduh Arya macam-macam. Arya masih setia denganku,” sahut Melly sambil tersenyum.
“Cemburu boleh saja, itu bumbunya orang bercinta, tapi jangan cemburu buta,” sahut Rahma yang sedari tadi mendengarkan perbincanganku dengan Melly.
“Karena sudah tidak ada masalah, yuk kita ke mall, gara-gara Melly tertunda tadi, ” ajak Rahma sambil menarik tanganku dan Melly.
“Ya maaf,” sahut Melly merona pipinya karena malu.
Waktu yang tersisa tinggal 2 hari lagi untuk menjadikan tulisanku menjadi sebuah novel. Dari kemarin ku sia-siakan waktuku hanya jalan-jalan dan melamun.
Malam ini saat ku sendiri, kuteringat untuk melanjutkan menulis. Ku raih laptop ku, ku mulai menulis lagi dan lagi.
Di saat ini tidak ada lagi waktu untuk melamun, aku harus selesaikan novel perdanaku.
Masih kurang 2 bab lagi sesuai outline ku yang berjumlah 13. Ah kata orang angka 13 angka sial. Ah itu tidak terpikirkan olehku.
Dari pengalaman pribadi membuatku mudah untuk melanjutkan menulis, meski kadang ide itu tidak muncul. Tapi aku tetap berusaha menyelesaikan semampuku.
” Dinda, gimana novelmu dah kelar?” kata Rahma saat pulang kuliah.
“Belum, kurang dikit, kamu sendiri dah selesai?” sahutku.
“Aku kelihatannya belum bisa mengumpulkan sampai besok pagi, aku masih kurang banyak,” kata Rahma sedih.
“Gimana, kalau pulang kuliah ini kita sama-sama selesaikan lembur. Ayo semangat, jangan pantang menyerah,” sahutku menghibur Rahma.
Seharian aku di kamar berkutat dengan laptop.
Menyelesaikan menulis novel perdanaku.
Aku teringat pepatah, sisakan waktu untuk menulis, jangan menulis di waktu sisa. Nasi sudah menjadi bubur, pepatah yang kuingat sudah terlanjur.
Untung masih ada hari esok. Semalaman aku tidak tidur. Deadline pengumpulan naskah nanti sore jam 4.
Sekarang jam 1 siang, saatnya makan siang, tapi aku masih kepikiran naskahku belum tak edit. Biarlah makan siangnya ditunda dulu, padahal aku sudah punya sakit maag. Apa boleh buat, mengejar deadline. Tinggal edit sana sini. Dan akhirnya selesai sudah novelku. Tinggal kirim. Klik. Terkirim.
*) Penulis guru SMA N 1 Ambarawa Mapel Fisika









