Novel: Menguak Takdir Menepis Mimpi (9)

Fiksi4 Dilihat

Oleh: Erna Widyaningsih*)

            Sabtu ceria, aku bersama teman – teman SMA nonton pertunjukan theater dan musik di gedung kesenian. Selepas dari SMA, sebelum kuliah tiba ku sering nonton pertunjukan theater dan musik dengan teman – teman yang masih jomblo. Kata mereka daripada bengong di rumah. Tapi kali ini kata mereka personilnya ada yang baru, yang belum kukenal.

Dentingan piano sayup – sayup terdengar dari luar gedung kesenian, saat Mira memarkir motornya di halaman gedung dengan susah payah.

“Aduh, sudah penuh sesak, sampai parkir saja kesulitan, kamu sih tadi lama banget, jadinya begini,” gerutu Mira sambil memarkir motornya.

“Tadi kan aku sudah bilang kalau aku mager ( malas gerak )”, sahutku kalem. “Kalau penuh sesak bukan salahku”, ucapku sambil menggandeng tangan Mira.

“Ih , kamu tuh ngeles aja, nanti kalau sudah masuk dan tahu permainan cowok itu pasti nyesel tadi kenapa tidak cepet – cepet ke sini”, sahut Mira.

Mira, sahabatku sejak kelas 1 SMA memang paling tahu kalau aku suka cowok yang pinter main musik, berjiwa seni. Rasanya terhanyut dalam alunan piano atau petikan gitarnya.

Setelah aku dan Mira bisa masuk ke dalam  dan maju mendekat, aku hanya terpana melihat permainan piano cowok di depanku.

            “ Amel, lihat itu cowok yang main piano itu, cowok itu melirikmu terus”, celoteh Mira temanku yang paling centil mencubitku.

Mira gadis cantik, supel, selalu bisa menarik perhatian orang. Dia baik hati dan tidak sombong meskipun dia dari keluarga mampu, tidak pernah membeda – bedakan teman.Tapi ada satu hal yang tidak kusukai dari Mira, dia mudah jatuh cinta. Dia sudah 4 kali ganti pacar, putus dengan Bowo, ganti dengan Agus, putus lagi ganti lagi, sampai hari ini dia baru seminggu yang lalu putus dengan Nico, eh tadi dia sudah gandeng dengan Nathan.

Beda denganku, aku paling sulit jatuh cinta.

            “ Masak sih, kenal aja gak “,sahutku

            “ Cakep ya, nanti kenalan yuk “, Mira mengajakku dengan antusias.

Setelah pertunjukan usai, Mira mengajakku mencari cowok tadi, katanya mau kenalan.

            “Handoyo, panggil Hans aja”, cowok tadi sudah di hadapanku sambil mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Tiba – tiba, Mira mengulurkan tanganku karena aku hanya diam bengong. Aku kaget, tiba – tiba cowok yang dicari Mira tadi sudah berdiri di hadapanku.

            “ Huss, kok malah ngalamun to?”, kata Mira mengagetkanku karena dia menepuk dengan tangannya di dekat mukaku.

“ Amelia, panggil Amel atau Lia aja”, kataku sambil mengulurkan tanganku untuk menyambut perkenalannya.

            Degg, tiba – tiba hatiku bergemuruh, berdebar keras, ketika melihat senyumannya. Nada bicaranya sangat sopan, orangnya cakep, dewasa, mau apa lagi?

Ah, aku tidak tahu perasaan apa yang bergemuruh di dada saat bertemu dengan Hans.

            Kubuang jauh – jauh perasaan yang mendera hatiku, aku tidak mau sakit hati lagi. Saat ku mencintai Doni, dia pacar pertamaku. Saat perasaan cinta itu mulai tumbuh membara dalam dada, saat itulah aku ditinggal Doni, tanpa pesan, tanpa pamit, Doni hilang seperti ditelan bumi.

Aku berusaha mencari tahu, adakah salahku, yang membuat Doni pergi dariku. Tapi aku belum menemukan jawabnya. Apa karena aku diterima di IKIP Yogya, yang notabene akan sering bertemu denganmu karena kamu kuliah di UGM, dan menganggap aku nanti akan mengganggumu? Pertanyaan – pertanyan di kepalaku belum terjawab.

Dan aku pasrah saja. Mungkin memang Doni belum jodohku. Kalau jodoh tidak ke mana, pasti entah kapan nanti akan bertemu lagi.

            Sejak perkenalanku dengan Hans, Hans sering ke rumahku. Aku tidak tahu dari mana dia tahu rumahku, padahal aku tidak pernah kasih tahu, pasti tahu dari Mira. Aku sering enggan menemuinya, kutakut jatuh cinta dengannya. Hans umurnya terpaut 5 tahun denganku.

Aku trauma dengan cinta. Banyak cowok – cowok yang menyatakan cintanya padaku, tapi kutolak secara halus. Kita berteman saja. Tapi tidak dengan Hans, dia dengan sabar dan gigih, berusaha mencoba mendekatiku terus. Tanpa menyerah, dan aku juga tidak kuasa menolaknya. Perasaan aneh ini menderaku terus saat di dekat Hans. Apa ini yang namanya cinta?

Memang Hans belum menyatakan cintanya padaku, tapi tidak perlu kata – kata, sikap dan tingkah lakunya sudah mengatakannya.

            Akhirnya aku jadian dengan Hans. Dia menyatakan cintanya padaku. Hans sudah kerja di hotel Patra Jasa Semarang, sebagai supervisor engineering. Sikapnya dewasa banget, kebapakan, ngayomi. Bersama dengan Hans aku merasa nyaman. Aku jatuh cinta lagi, aku mencintai Hans. Aku pacaran dengan Hans sampai 3 tahun. Meski banyak halangan dan godaan tapi aku tetap bersama Hans. Kami lalui suka dan duka bersama.

Suatu sore yang gelap diiringi  hujan deras, sekitar 1 tahun setelah kujadian dengan Hans, Doni datang ke kostanku. Dia meminta maaf karena dulu tidak pamit denganku, karena waktu itu Doni dalam kebimbangan. Harus memilih  dua pilihan yang sulit. Dia harus berhenti kuliah karena orang tuanya tidak punya biaya lagi atau kuliah dan kerja. Dia malu keadaan keluarganya yang sekarang bangkrut. Usaha papanya mengalami penurunan drastis, sampai mau menggadaikan perusahaannya.

Aku tidak bisa kembali lagi dengan Doni, aku sudah punya Hans. Meski masih ada secuil cinta untuk Doni tapi aku tidak mau melukai , menyakiti hati Hans. Doni pulang dalam lebatnya hujan, dalam kelamnya langit. Dia melangkah meninggalkan tempat kostku. Mungkin waktu itu Doni bersedih.

Entahlah, semoga dia baik-baik saja.

Sampai akhirnya aku lulus, wisuda dan dapat kerjaan baru. Aku menikah bersama Hans, membangun mahligai cinta berdua, tak terpisahkan oleh apapun. Hanya maut yang memisahkan kita.

            Dan terakhir kutahu kalau Doni juga sudah berkeluarga dan tinggal di Surabaya. Biarlah itu hanya masa lalu. Syukurlah Doni bisa melupakanku, dan sudah mendapat gantiku.

            “Kringggg…. kringgg….kring ……”, suara telepon membuyarkan lamunanku.

——————————

Kuangkat telepon, ternyata suamiku, mas Hans.

“Ada apa mas, apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya, ada korban tidak? Kebakaran disebabkan apa?, apa sudah bisa diatasi?, sudah ada mobil kebakaran yang datang ?”, serentetan pertanyaan kutujukan pada mas Hans.

“ Wuk, di sini masih ramai , api baru saja berhasil dipadamkan, tidak ada korban jiwa, tapi barang – barang semua habis terbakar. Kamu tidak usah ke sini, besuk saja ya”, pinta mas Hans.

Aku menurut apa kata mas Hans, untuk kebaikan semua.

Kulihat jam dinding di kamarku, ternyata sudah menunjukkan jarum di angka 3, masih pagi sekali. Biasanya aku masih tidur, kucoba untuk berbaring dan memejamkan mata untuk tidur,tapi kenapa mata ini tak mampu terpejam.

Berbagai keingintahuan bergejolak di benakku, berkaitan dengan kebakaran barusan. Tapi belum ada jawabannya yang pasti. Tapi syukurlah tidak ada korban jiwa. Kalau harta benda masih bisa dicari . Untung mas Hans tidak berada di tempat itu saat terjadi kebakaran, untungnya mas Hans pulang ke rumahku. Tidak bisa kubayangkan kalau mas Hans tidur di tempat itu saat terjadi kebakaran. Pikiran buruk menghantuiku.

Siang harinya aku dijemput mas Hans untuk melihat rumahnya yang terbakar. Sampai di sana, aku hanya bisa tertegun. Rumah yang banyak diisi barang – barang antik koleksi suamiku sekarang sudah hancur, tinggal puing – puing.

Mas Hans banyak diam, tidak seperti biasanya penuh senda gurau. Kudekati suamiku, kugenggam tangan kekarnya saling memberi kekuatan.

“Mas, kita ikhlaskan semuanya, tidak perlu disesali, harta benda masih bisa kita cari, kita berusaha lagi ya “, hiburku pada mas Hans.

“Iya.Kita hidup apa adanya ya”, sahut mas Hans masih terlihat lesu.

Aku tahu bagaimana yang dirasakan suamiku, usaha yang didirikannya sejak dari nol, sampai sudah berkembang ,sekarang tinggal puing – puing.

            Setelah diselidiki ternyata penyebab kebakaran adalah dari nyala sebatang lilin. Mas Hans lupa mematikan lilin saat mau pulang ke rumahku, karena waktu itu listrik mati dan untuk penerangan dalam salah satu ruangan lilinnya lupa dimatikan, mas Hans terus ke rumahku. Mungkin ada kucing atau angin yang membuat nyala lilin itu menyambar gordyn atau tumpukan- tumpukan kertas . Sehingga kebakaran itu terjadi.

Untungnya kebakaran itu tidak menimbulkan korban jiwa. Dan rumah di dekatnya juga tidak ikut terbakar. Padahal jarak rumahnya satu rumah dengan yang lain saling berdekatan.

Beberapa hari berselang, aku dan mas Hans pergi ke rumah yang sudah terbakar. Kupandangi rumah tempat usaha suamiku yang tinggal puing – puing.Kumencoba mengais – kais sisa – sisa barang – barang yang terbakar.

Ternyata masih ada berkas – berkas dokumen, buku – buku yang ada di dalam almari masih tersisa meski sebagian ada yang sudah terbakar. Aku dan mas Hans saling membesarkan hati memberi kekuatan.

Biarlah ini sebagai ujian karena keteledoran kita, semoga kita bisa lebih hati – hati dan menjadikan kebakaran ini sebagai peringatan dari Tuhan atas keteledoran kita.

——————————

Adakalanya kebahagiaan

seperti seolah sekadar mampir

singgah lalu berlalu,

bersama angin

meninggalkan jejak

membiru di masa lalu

(Bersambung)

*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait