Oleh: Suyito Basuki *)
Fitri tengah membaca sebuah majalah wanita di ruang tamu. Suara keprakan Bagas yang tengah berlatih sabetan, sayup-sayup masih terdengar. Fitri dikejutkan dengan kedatangan Vita.
“Hai, melamun ya,” sapa Vita.
“Oh, kamu Vi, dari mana?” Fitri bertanya, sambil mempersilakan Vita duduk.
“Dari jalan-jalan, bosen di kos-kosan. Eh, kamu udah ngerjain komposisi tari klasikmu belum?” Kata Vita sambil meraih majalah wanita yang lain.
“Baru setengah jadi, belum matang. Mau neruskan masih malas,” jawab Fitri.
“Eh, jadi nggarap tema peperangan Srikandi dengan Bisma? Wah kalau jadi hebat lho, tari heroik biasanya mendapat tanggapan yang luar biasa,” tanya Vita semangat.
“Entahlah, rasanya berat untuk merampungkannya,” agak malas Fitri menjawab.
Vita agaknya tahu sumber persoalan,”Ah, sudahlah masalah Bramastho jangan membuat duniamu berhenti berputar. Terus dong proaktif. Eh, tahu nggak kamu, jika komposisimu itu terbagus di antara teman-teman sekelas, maka kamulah yang akan dikirim ke Bangkok semester depan.”
Fitri menyahut,” Tahu apa sih kamu tentang misi ke Bangkok itu?”
Vita membisikkan kata ke telinga Fitri,”Ssstt…Sedikit saja, dari nguping pembicaraan dosen kita Pak Eko Supendi dengan Pak Sardono. Konon pengiriman mahasiswa sekolah tinggi seni kita ke Bangkok, punya makna strategis, selain memperluas jaringan wisata Indonesia, juga merupakan kesempatan mempelajari tari Thailand. Wah ini pasti bagus untuk memperkaya khasanah komposisi tari kita di masa depan. Dan yang penting Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata serta seni mendukung penuh perjalanan ke Bangkok ini. Jangan buang kesempatan ini.” Fitri mendengar dengan serius. “Oh ya,” demikian katanya.
“Eh, siapa tuh yang lagi semangat latihan ndhalang? Adikmu ya?” tanya Vita.
“Bukan, siswa bapak. Dia belajar kelompok dan privat karawitan dan pedhalangan sejak 7 bulan yang lalu,” jawab Fitri, ada rasa sungkan di hatinya.
“Hei, kamu ada apa…Lihat yuk,” ajak Vita.
Fitri menjawab,”Ngapain sih perlu ‘nglihat segala?”
“Ya Cuma ‘nglihat aja, kadang-kadang seneng lho lihat orang main wayang; sering komposisi tari tercipta karena lihat hal-hal semacam itu,” Vita memberi alasan.
Mereka beranjak, berjalan ke ruang latihan karawitan dan pedhalangan.
“Eh, kok sepi… Ibu mana?” Vita bertanya karena sedari tadi tidak melihat Nyi Sutejo yang biasanya begitu ia datang, Nyi Sutejo akan segera menyongsongnya.
“Nggak tahu tadi, mungkin belanja di warung sebelah,” Fitri menjawab sambil menggandeng tangan Vita.
Mereka berdiri melihat Bagas yang sedang latihan sabetan wayang alusan. Bagas merasa ada orang yang datang, ia menghentikan latihannya, mengusap peluhnya dengan handuk dan menengok ke belakang, agak kaget dia melihat Fitri menggandeng seorang gadis.
“Eh, maaf, mas, ini temanku Vita, ngajak ‘nglihat latihan…Ayok Vi, kenalan.” Bagas dan Vita bersalaman, masing-masing menyebut namanya. Lalu Fitri dan Vita duduk berhadapan dengan Bagas.
“Wah, sudah bagus ya sabetannya,” Vita memuji membuka percakapan.
“Ah, masih banyak kekurangannya kok,” Bagas merendah.
“Sudah berapa lama mas belajar pedhalangan?” Vita masih bertanya.
“Baru dua tahun mbak. Belum bisa apa-apa,” kembali Bagas merendah.
“Sambil kerja ya mas?” Vita belum juga berhenti bertanya.
“Begitulah, supaya tetap hidup,” ucap Bagas tersenyum kecil sambil memperhatikan Fitri yang masih diam.
Vita yang penasaran terus bertanya,”Ngomong-ngomong kerja di mana sih.”
Bagas menjawab seadanya,”Cuma buruh kok mbak, ya kerja seadanya.”
Fitri menarik tangan Vita, membisikkan kata,”Awas jangan macem-macem lho Vi, mas Bagas ini dosen dan wartawan freelance sebuah majalah Jakarta.”
Bagas menatap Fitri lembut,”Ah, mbak Fitri terlalu membesar-besarkan.”
Fitri juga menatap Bagas sambil tersenyum,”Lha kenyatannya begitu kok.”
Vita menatap Bagas dengan kagum,”Wah top markotop,” ujar Vita.
“Eh, ini wayang Srikandi ya,” tanya Vita sambil memegang wayang Srikandi.
“Ya dan ini Bisma,” jawab Bagas sambil memegang wayang Bisma.
Fitri menatap heran,”Lho mas Bagas kok…”
Bagas tahu arah pertanyaan Fitri,”Ya, saya tahu dari Danang, mbak Fitri katanya lagi mempersiapkan tari klasik Srikandi – Bisma. Ini tadi saya cari wayangnya dan mencoba memainkannya…, ehm kebetulan saya juga lagi mikir sebuah lakon untuk pertunjukan. Boleh ya pakai lakon Srikandi – Bisma?”
Vita berseru,”Wah lha ini, namanya baru cocok.”
Fitri menyentil telinga Vita.
Bagas bertanya kepada Fitri,”Kok mbak nggarap komposisi tari perang Srikandi – Bisma, tahu mbak Fitri cerita itu?”
Fitri menjawab,”Kalau tidak salah, itu kan salah satu episode perang Baratayuda ya? Srikandi sebagai perwira perang Amarta berperang mengalahkan Bisma yang berpihak pada Kurawa?”
“Konon kata pak dhalang dulu ada seorang putri bernama Dewi Amba yang dikecewakan oleh Raden Dewabrata, bahkan akhirnya mati di tangan pemuda pujaan hatinya. Konon Dewi Amba berwasiat, bahwa dalam jaman yang akan datang, Dewi Amba melalui seseorang akan menagih kematian pada Raden Dewabrata atau Bisma. Srikandi itulah yang dipakai sarana oleh Dewi Amba,” lanjut Fitri.
Vita berseru,” Woooii, anak dalang jelas paham dong cerita wayang.” Vita menjerit saat Fitri mencubitnya dengan keras.
(Bersambung)
*) Penulis tinggal di Ambarawa
*) Foto ilustrasi dari Radar Madiun







