Oleh: Suyito Basuki *)
SALATIGA, wartaintegritas.com – Watak rendah hati adalah obsesi yang dimiliki oleh semua manusia di dunia. Dalam budaya Jawa, obsesi itu digambarkan dalam budaya pewayangan, ada watak ksatria dan ada pula watak raksasa. Watak ksatria adalah watak yang mau merendahkan diri, mengalah, dan tidak sombong serta serakah. Sedangkan sebaliknya watak raksasa adalah watak yang sombong, semena-mena, serakah dan suka merugikan pihak lain.
Seringkali Arjuna merupakan simbol watak kstaria dan buta cakil dan rekan-rekannya adalah lambang watak angkara murka tersebut. Dalam perang kembang, terjadi peperangan antara Arjuna atau kstaria yang lain, sesuai dengan lakon cerita melawan para raksasa. Pemenangnya adalah Arjuna atau kstaria tersebut. Sebuah simbol bahwa kebaikan, kerendahhatian akan memenangkan watak yang penuh angkara tersebut.
Dalam Perjanjian Baru watak orang yang negatif dapat dilihat dari kehidupan orang Farisi. Pada nas ini, orang Farisi menyatakan dirinya: bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Mereka berkata,”Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku (Lukas 18: 11-12)
Tetapi inilah yang dikatakan Tuhan Yesus terhadap orang Farisi: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” (Matius 23:23)
Watak rendah hati dapat dilihat dalam nas ini pada hidup pemungut cukai. Diceritakan tentang pemungut cukai: berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Lukas 18: 13)
Kehidupan Zakheus menunjukkan kehidupan pemungut cukai: “Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.” (Lukas 19:2), “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Lukas 19:5), “Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.” (Lukas 19:6) “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Lukas 19:8)
Komentar Tuhan Yesus terhadap orang Farisi dan pemungut cukai: “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14)
Marilah memiliki hidup yang rendah hati di hadapan Allah, karena: 1. Tuhanlah yang memilih kita menjadi orang percaya. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16) 2. Mencapai hidup seperti Tuhan Yesus yang telah merendahkan diri. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7)
*) Penulis tinggal di Ambarawa, pelayanan jemaat di GITJ Winong Pepanthan Salatiga
















