KAB. JEPARA, wartaintegritas.com – Sedih sekali membaca berita seorang sopir truk pengangkut lele yang teruknya terguling di tengah sawah. Sedih karena diberitakan dan di video terlihat sopir truk yang bernama Edi menangis, sambil menyeka air matanya dengan kaos yang dikenakannya di pinggir sawah.
Sedih lagi karena membaca dan melihat videonya juga masyarakat sekitar yang beramai-ramai menjarah ikan lele yang berhamburan di tengah sawah. Sopir truk tengah membawa ikan lele dari Cirebon dan truk terguling di Jalan Randusari, Subang Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Arti kata terkikis, empati, dan simpati
Kata “terkikis” berasal dari kata kata kerja kikis yang berarti mengerik, menghapuskan . Kikis sebagai kata benda berarti hilang atau habis (KBBI, h. 439).
Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain atau kelompok lain (KBBI, h. 228).
Simpati adalah rasa kasih, rasa setuju, rasa suka. Bersimpati menaruh kasih, ikut serta merasakan perasaan orang lain (KBBI h. 841).
Jelas masyarakat yang menjarah lele di atas tidak bisa bersimpati dan berempati dengan turut merasakan kesedihan Edi si sopir naas. Mereka malah sebaliknya membabi buta menjarah lele meski si pemilik berada di depan mata mereka.
Penyebab terkikis
Ada beberapa penyebab simpati dan empati terkikis. Antara lain perekonomian yang sulit sehingga menyebabkan masyarakat hanya memikirkan kebutuhan perut dari pada etika.

Selain itu semakin hari sensitivitas masyarakat menjadi tumpul karena kemungkinan seringnya mendengar bencana di mana-mana. Apalagi masyarakat juga sedang kesulitan dengan penghidupan diri mereka sendiri. Hal ini menyebabkan rasa tidak pedulinya masyarakat terhadap penderitaan masyarakat lain yang lebih menderita sebenarnya.
Perkuat empati dan simpati
Jemaat Tuhan akan menjadi kokoh kalau simpati dan empati antarjemaat semakin menguat. Misal ada salah seorang diantara kita yang sakit, kemudian kita berupaya untuk menengok dan mendoakan. Jangan sampai terjadi peristiwa sudah jatuh tertimpa tangga pula, seperti yang dialami sopir truk pengangkut lele di awal alinea.
Perintah Tuhan melalui Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dan jemaat dewasa ini: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15)
Hal ini dapat menunjukkan persekutuan yang baik dalam kekristenan, penuh empati dan simpati dan dapat menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama Tuhan.
Oleh: Suyito Basuki










