Lestarikan Tradisi Leluhur, Ratusan Warga Bayat Gelar Upacara Sakral Sadranan

Peristiwa318 Dilihat

​BAYAT, KLATEN – wartaintegritas.com – Ratusan warga Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, kembali menggelar upacara sakral Sadranan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ajang silaturahmi antarumat beragama. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dipusatkan di kawasan Makam Panembahan Menangaseh, Dusun Konang.

​Ketua Panitia sekaligus Kepala Dusun 1 Desa Kebon, Heru Kusnadi, menjelaskan bahwa rangkaian acara telah dimulai sejak hari Jumat dengan tradisi kerja bakti membersihkan makam (besik-besik). Puncak acara ditandai dengan pembagian ratusan gunungan hasil bumi yang merupakan simbol rasa syukur masyarakat atas melimpahnya rezeki.

​Simbol Toleransi dan Kebersamaan

​Salah satu hal unik dalam Sadranan kali ini adalah keterlibatan aktif berbagai elemen lintas agama. Heru menjelaskan bahwa acara ini merangkul penganut agama Islam, Kristen, hingga Katolik.

  • ​Kegiatan Keagamaan: Umat Katolik dari Paroki Santo Mikael turut mengadakan doa bersama di Desa Kebon.
  • ​Zikir dan Tahlil: Dilaksanakan di Gedung Inten dan Masjid Konang bersama warga RW 01.
  • ​Kembul Bujono: Makan bersama di pelataran makam sebagai simbol kesetaraan tanpa memandang status sosial.

​”Kami merangkul semua agama karena tokoh yang disemayamkan di sini adalah milik semua warga. Sadranan ini bukan hanya milik satu golongan, tetapi seluruh masyarakat,” ujar Heru Kusnadi usai acara.

​Potensi Destinasi Wisata Budaya

​Pemerintah desa berharap kegiatan Sadranan yang menelan dana sekitar Rp25 juta dari swadaya murni masyarakat ini dapat menjadi ikon wisata budaya baru di Kabupaten Klaten.

Dengan target peserta mencapai lebih dari 600 orang, acara ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan masyarakat.

​Silsilah makam yang terkait dengan Sunan Pandanaran juga menjadi daya tarik sejarah (cagar budaya) yang kuat bagi wisatawan maupun peziarah dari luar daerah.

​Harapan Generasi Tua

​Antusiasme juga datang dari sesepuh desa, salah satunya Simbah Sastro Martono yang kini berusia 89 tahun. Meski telah lanjut usia, ia tak pernah absen mengikuti tradisi ini setiap tahun.
​”Harapan saya, semua anak cucu diberikan kesehatan, kekuatan, dan murah rezeki. Tradisi ini harus terus dijaga agar tidak hilang,” ungkap Simbah Sastro dengan penuh harap.

​Rangkaian upacara Sadranan di wilayah Bayat akan berlanjut hingga tanggal 28 (hitungan tanggal jawa) mendatang, yang rencananya akan digelar di Dusun Serut dengan kemeriahan yang serupa.

(Benyamin Hadinagoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *