SEMARANG, wartaintegritas.com – Melihat sebuah karya film memang perlu dipandang dari beberapa sudut. Orang bisa menilai sisi alur ceritanya. Orang juga bisa menilai aspek kualitas pembuatan. Bisa pula menilai sisi grafis pengolahannya. Lalu bisa pula menilai kemana arah tujuan pembuatan film itu, apakah sekedar hiburan atau memiliki misi tertentu.
Gereja Setan, menurut pandangan saya memiliki nilai yang layak diamati pada sisi arah tujuannya. Mengapa saya katakan demikian karena film ini memiliki aspek kerohanian. Film ini pada jalan ceritanya membawa nama Yesus. Tentu tak bisa dianggap sebagai hiburan biasa.
Tentang alur, saya anggap biasa saja. Namanya juga sebuah film tentu memiliki plot-plot cerita yang harus dibuat ramai atau landai.
Tetapi menyangkut nilai rohani, saya menganggapnya sudah berada pada alur alkitabiah. Saya katakan berdasarkan alkitabiah karena kuasa Illahi mengalahkan kekuatan roh jahat. Ini yang penting.
Sekalipun pada jalan cerita menyebut atau memuja Setan itu tak masalah karena memang harus ada penampilan seperti itu sesuai dengan judulnya. Ada salib dipasang terbalik, tak soal. Demikian pula ada simbol-simbol roh jahat lainnya.
Namun yang terpenting, nama Yesus tetap dipermuliakan di dalamnya. Film ini berdasarkan pengalaman Mongol, seorang bintang sinetron yang pernah terjerat dalam kegiatan Gereja Setan. Mongol mencurahkan pengalamannya di film ini dan ia berperan sebagai aktor utamanya.
Saya mlihat, umumnya adalah umat Katholik dan Kristen yang masuk ke ruang bioskop. Saya tak melihat adanya penganut agama lain. Entah jika mungkin pada jam pemutaran lain.
Dari sisi kualitas pembuatan menurut saya kurang bagus. Pengolahan grafisnya kasar. Akting pemainnya juga masih bisa ditingkatkan. Saya bagaikan menonton sinetron televisi tetapi bukan di ruang bioskop.
J. Christiono










