Film “Unexpected Peace” Tunjukkan Jalan Damai Tanpa Kekerasan

SURAKARTA, wartaintegritas.com – Pemutaran film dokumenter Unexpected Peace di Sekretariat Bersama Surakarta, Sabtu (13/9/2025), menghadirkan suasana haru dan refleksi mendalam. Film produksi Doftel Production, karya Jonathan Bornman, dengan produser Michael Hostetler, mengajak publik merenungkan bahwa selalu ada jalan alternatif menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Kisah pertama membawa penonton ke komunitas Amish di Pennsylvania, Amerika Serikat. Usai tragedi penembakan sekolah yang merenggut nyawa anak-anak, keluarga korban justru memilih untuk mengampuni pelaku. Sikap ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang sudah diwariskan lintas generasi: membalas kekerasan dengan kasih dan pengampunan. Bagi komunitas Amish, jika mereka menaruh dendam, mereka sama saja dengan pelaku yang hidupnya dipenuhi kebencian dan dendam.  Pengampunan justru membuka relasi baru yang lebih baik antara keluarga korban dan keluarga pelaku.

Cerita berikutnya berasal dari Harlem, New York. Ketika para pengemudi taksi dari komunitas Muslim Murid sering menjadi korban pembunuhan, komunitas ini juga memilih jalan nonkekerasan. Mereka yang merupakan pendatang, memperkuat solidaritas dengan warga setempat, menjadikan pengampunan sebagai wujud iman sekaligus strategi hidup damai.  Apa yang mereka lakukan mentransformasi kawasan yang dulunya dipenuhi dengan kekerasan dan ketakutan.

Dari kiri ke kanan Jonathan Bornman, Yani Rusmanto,Nurul Mustofa, Michael Hostetler dan Paulus Hartono (Foto : Iwan Firman Widiyanto/wartaintegritas.com) 

Sementara di Indonesia, film ini menyoroti persahabatan tak terduga antara Paulus Hartono sebagai pendeta Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) dan Yani Rusmanto, Komandan Laskar Hizbullah di Surakarta. “Awalnya, saya bahkan menolak bertemu dengan pak Paulus. Sebagai pendeta, Kristen, dan Tionghoa, darahnya halal bagi saya,” kenang Yani. Namun Pdt. Paulus dengan sabar membangun hubungan personal. Dari pertemuan yang akhirnya terjalin, lahirlah “dialog karya”, mengajak Yani dan pasukannya terlibat dalam pelayanan kemanusiaan Bersama komunitas Kristen bagi korban tsunami Aceh dan gempa Yogyakarta. Dari sana, persahabatan mereka semakin erat, hingga kini keduanya sering didaulat menjadi saksi hidup perdamaian.

Paulus menyatakan bahwa perjumpaan lintas agama akan membuahkan relasi yang damai diantara yang berbeda.  Sebagai pendeta Kristen Ia sering menghimbau pendeta-pendeta Kristen yang lain untuk tidak takut bersilaturahmi kepada pemimpin-pemimpin Islam bahkan yang keras sekalipuin, khususnya saat momentum Hari Raya.  Karena interaksi dengan yang berbeda itulah yang akhirnya menghasilkan perdamaian yang sejati.

Produser Michael Hostetler menegaskan bahwa inti film ini adalah perjumpaan. “Perdamaian lahir saat kita mau berjumpa dan mendengar. Dari mendengar maka  tumbuh kepedulian.”

Pemutaran film di Solo menjadi awal tur ke Yogyakarta, Salatiga, Semarang, dan Jepara. Dari tragedi Amish, Harlem, hingga Solo, Unexpected Peace mengingatkan dunia: kekerasan bukanlah takdir. Selalu ada jalan lain tanpa kekerasan—jalan pengampunan, jalan damai.

Oleh : Iwan Firman Widiyanto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *