Cerbung: Pertarungan Srikandhi-Bisma (7)

Peristiwa517 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Bramastho mendekati Fitri memandang mesra,”Fit, malam ini kita keluar yuk.”

Fitri membuang muka,”Nggak ah, aku lagi nggak enak badan.”

Bramastho merajuk sambil memegang tangan Fitri,”Ayolah Fit.  Ada pertunjukan teater bagus.  Emha Ainun Najib mau mainkan naskah WS Rendra cerita “Kereta Kencana”.  Rugi lho kalau nggak lihat.  Terus pulangnya kita mampir ke warung soto kesukaan kita.”

Fitri mengibaskan tangannya,”Sori, aku lagi nggak pengin ke mana-mana.”

Bramastho berkata agak jengkel,”Fitri, kamu kenapa?  Ada apa denganmu?  Setiap aku ajak keluar, akhir-akhir ini kamu selalu beralasan tidak enak badan; lagi sibuk dengan latihanlah, dengan inilah, dengan itulah….”

“Sudahlah aku mau pulang dulu…. Yuuk Vi, kita pulang,” Fitri menggandeng tangan Vita.  Bramastho mengejar Fitri.

Bramastho berteriak,”Hai aku antar, aku bawa mobil!”

Fitri menyahut,”Nggak usah repot-repot, aku sama Vita mau mampir ke rumah teman dulu.” Fitri dan Vita segera bergegas ke tempat parkir sepeda motor.  Bramastho bersama dengan Gembrot dan Kapuk memandang kepergian kedua gadis itu dengan tatapan yang jengkel.

Ruang gandhok joglo, gamelan lengkap, layar wayang terbentang, wayang-wayang yang tengah diisis atau diangin-anginkan, tergantung berjejer rapi di beberapa kawat , malam hari.Bagas sedang berlatih privat sabetan wayang pada Ki Sutejo.  Bagas sedang memainkan perang cakilan.  Ki Sutejo menunggui di belakang Bagas dengan penuh perhatian.

Ki Sutejo mengamati dan berkomentar, ”Coba tubrukannya diulang lagi mas.  Usahakan tubrukan tidak menggoyangkan layar.  Keprakan harus kuat.  Wayang gaya Jogja memang kekuatannya pada kemantapan sabetan.  Ini bisa kita dapatkan dengan kuat dan tepatnya keprakan serta tepatnya cepengan.

Bagas mengulangi lagi khususnya di bagian tubrukan dilanjutkan dengan gendiran, tapi masih juga terasa belum sempurna.

“Bagus, Cuma perlu lebih halus.   Mari saya beri contoh sedikit,” Ki Sutejo memberikan contoh.  Sementara itu Fitri masuk ke ruang latihan dengan 2 gelas teh tubruk di nampan.  Fitri meletakkan gelas di depan Bagas.  Bagas melihat Fitri, mereka bertatapan.  Fitri agak gugup mendapatkan tatapan Bagas; Bagas tersenyum.

Fitri berkata kepada ayahnya juga Bagas,”Rama, ini tehnya.  Mas mari diminum.”

”Ya…ya, taruh saja di situ ndhuk,” Ki Sutejo menjawab sambil tetap memainkan wayang.

Bagas menjawab pelan,”Terima kasih mbak.”

Fitri beranjak pergi.  Bagas memperhatikan kepergian Fitri, tidak sadar bahwa Ki Sutejo telah selesai memainkan wayang dan melihatnya.

Ki Sutejo melirik Bagas, berkata,”Ehm, ayo diminum dulu tehnya mas Bagas, mumpung masih hangat.”

“Eh ya trimakasih Pak,” jawab Bagas agak gugup.

Ki Sutejo meminum teh, memegang wayang Cakil, menjelaskan,”Mengulang ke masalah perang cakilan, perang ini adalah jenis cepeng sabet yang tersulit sekaligus terindah dalam khasanah peperangan dalam pedhalangan.  Oleh karena itu ada yang menyebut perang ini adalah perang kembang.  Karena jika dhalang dapat memainkan perang ini dengan baik, dapat mengharumkan kepiawaian dhalang.  Perang ini sebetulnya secara teknik merupakan klimaks perang alus-alus, gagah-gagah yang pernah mas Bagas pelajari.”

“Saya masih merasakan kesulitan memainkannya pak,” jawab Bagas jujur.

“Percayalah, dengan membiasakan diri di rumah berlatih dan keyakinan penuh bahwa kita akan bisa, pasti kesulitan itu akan dapat diatasi.   Silakan berlatih sendiri, boleh cakilan atau perang gagah-gagah, terserah.  Saya akan pergi dulu, Gusti Yuda ngersakke saya matur masalah rencana wayangan di Gembiraloka pekan depan.”

 “Inggih pak, matur nuwun,” ucap Bagas menyalami Ki Sutejo.  Ki Sutejo bergegas ke belakang, pamit istri.  Bagas melanjutkan latihan sabetan.  Terdengar deru motor, Ki Sutejo sudah keluar halaman rumah.

(Bersambung)

*) Penulis tinggal di Ambarawa

*) Gambar ilustrasi dari Radar Madiun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *