Oleh:Suyito Basuki *)
Tetapi rupanya itu hanya mimpi. Kenyataan yang sedang terjadi adalah bahwa Ong Tek Khian kalah judi di sebuah tempat di Jakarta. Rupanya sudah dua tahun ini Ong Tek Khian kembali kepada kubangannya dahulu. Ada pepatah, bukankah babi akan jatuh ke kubangannya juga? Itu terjadi juga pada Ong Tek Khian. Asal mulanya Ong Tek Khian hanya menerima sebuah sms dari seorang teman wanita di Jakarta. Kebetulan HP-nya sedang dibawa istrinya. Tentu saja istrinya bertanya dengan nada cemburu. Tidak tahan dengan kecemburuan istrinya, Ong Tek Khian yang dikenal Bondan memiliki sikap suka menantang, justru menjawab dengan jawaban yang memanas-manasi istrinya. Kontan menjadi ramai. Saat mereka bertengkar, justru ketika hari weekend, dimana banyak pelanggan roti antre membeli roti mereka untuk dibawa ke puncak atau hanya untuk persediaan piknik mereka ke berbagai tempat wisata. Untunglah Bondan tanggap, meski pekerjaannya adalah menjadi kepala pembuatan roti, tetapi, sejak papa Ong Tek Khian masih hidup, ia dipercaya mengawasi penjualan di bagian depan. Bondan langsung membantu kelancaran pembeli mendapatkan pesanannya sambil matanya berkerjap-kerjap ke arah Ong Tek Khian, mengisyaratkan supaya pertengkaran berakhir karena malu diketahui oleh para pelanggan.
Entah bagaimana proses selanjutnya, Bondan kurang tahu. Yang ia mengerti kemudian adalah Ong Tek Khian kemudian sering bepergian ke Jakarta. Kalau ia bertanya, Ong Tek Khian hanya menjawab penjajagan prospek membuka cabang toko di Jakarta. Tetapi itu sesungguhnya hanya kamuflase, karena sesungguhnya yang Ong Tek Khian lakukan adalah memang benar-benar menemui perempuan yang sms kepadanya. Yang kemudian lebih parah lagi adalah, ia kembali bertemu dengan teman-teman judinya dahulu, dan kembalilah ia pada kebiasaan lamanya. Istri Ong Tek Khian sudah mencium gelagat itu, makanya sering marah-marah kepada sang suami. Tetapi sebagaimana umum terjadi, sangat sulit mengendalikan seseorang yang sedang mabuk bukan? Maka sampailah pada suatu malam, ketika Ong Tek Khian kalah melulu dalam taruhan, maka ia pertaruhkan tokonya yang ada di Tasikmalaya, Sumedang, dan yang dipusatnya Bandung! Ternyata ia kalah! Temannya yang bernama Rasa Utama Bakerylah yang menang dan berhak memiliki aset seluruh perusahaan dan toko roti Mandiri Bakery malam itu, ya malam yang belum lama lewat!
Bondan yang tinggal di mess pemondokan karyawan yang terletak di belakang toko segera saja tahu apa yang terjadi. Ketika jeritan dan umpatan dari istri Ong Tek Khian, ditambah tangisan-tangisan yang menyayat dari ibu Ong Tek Khian yang sudah tua, juga anak-anak Ong Tek Khian, maka menjadi maklumlah Bondan akan sesuatu besar yang telah terjadi.
Suara mesin pengaduk adonan masih meraung lemah. Sementara Bondan masih juga tercenung. Impiannya untuk pindah ke Yogyakarta seolah menjadi kabur. Yang kemudian menjadi prioritas pemikirannya adalah bagaimana kalau ia keluar saja dari perusahaan ini? Apakah tidak mungkin mewujudkan impiannya dengan kekuatannya sendiri?
(Selesai)
*) Penulis tinggal di Ambarawa
Bandung, November 2008








