Cerbung: Lelaki Pengayun Kapak (3)

Peristiwa192 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki*)

Perihal dia ingin kaya, mungkin semua orang ingin, tetapi Herdi sangat pengin itu segera tergapai.   Bagaimana tidak?  Herdi sejak kecil hidup dengan neneknya yang serba kekurangan.  Sehari tidak mesti makan tiga kali sebagaimana layaknya anak-anak.  Kalaupun toh makan, itupun tidak tentu makan nasi.  Kadang nasi jagung, kadang nasi tiwul, seringkali makan bubur putih asin dengan santan kelapa.

Setamat SMP dia harus menghidupi dirinya sendiri.  Pernah dia menjadi pelayan di sebuah restoran cina di tengah kota.  Atas ajakan seorang temannya, menjadi pencuci mobil dan motor di daerah Solo pun pernah dia lakukan.  Kemudian ia balik ke kotanya, belajar membuat meubel dan mengukir.  Kebetulan di kota kami lagi ramai-ramainya pekerjaan meubel.  Kayu jati jarahan begitu mudahnya didapat dengan harga yang sangat murah.  Pesanan dari luar negeri mengalir deras.  Herdi segera saja betah menerjunkan dirinya pada pekerjaan di tempat tetangga yang memiliki usaha meubel yang diharapkan dapat melambungkan masa depannya.

Ibu herdi, Hesti namanya, setelah Herdi dan adiknya usia SD, segera menikah dengan seorang lelaki, dan kemudian tinggal di Pati.  Bagaimana bapak Herdi?  Sampai saat ini Herdi tidak tahu siapa bapaknya.  Menurut cerita tetangga, Hesti ketika masih muda, sebagaimana wanita-wanita muda di kota kami, mencari penghasilan di Jakarta.  Ada yang jadi pelayanan toko, pengamplas, pedagang, dan banyak yang jadi pelacur.  Orang desa tidak tahu Hesti bekerja menjadi apa, tetapi pulang dari kota metropolitan itu, ia membawa dua orang anak kecil, yakni Herdi dan adiknya.  Setelah menitipkan kepada ibunya, Hesti, kembali ke kota besar.  Tak berapa lama, Hesti pulang dengan seorang pria, Madun namanya.  Apakah itu bapak Herdi, orang tidak banyak yang tahu, karena sesudahnya Hesti pulang dengan laki-laki lain, Kilung namanya.  Lain waktu, wanita yang konon berwajah rupawan itu pulang lagi dengan laki-laki lain, Lengkis namanya.

Herdi pernah mengimpikan punya rumah tingkat dengan halaman yang luas.  Di belakang rumah terdapat sebuah bedeng tempat membuat meubel.  Di bedeng itu siang malam tidak pernah berhenti suara gergaji dan ketam bermesin menghaluskan perabot-perabot rumah tangga yang dipesan oleh buyers asing.  Ada lusinan tukang, baik itu pembuat meubel, pemlitur, pengamplas, dan manol-manol kayu.  Di depan rumah berkubik-kubik kayu jati ngendon siap untuk digergaji. Mobil kijang kapsul dan sebuah lagi mobil pick up berada di garasi rumah yang luas.  Istri cantiknya menyapu rumah dan halaman, dibantu oleh anak putri remajanya yang menginjak SMA.  Sedangkan anak lelakinya yang masih usia SMP usai pergi memancing, bermain bola dengan teman-temannya di halaman rumahnya yang luas dengan pohon jati sebagai pagar hidupnya.

Tetangga-tetangganya kalau kekurangan selalu datang ke rumahnya.  Sekedar pinjam uang, beras, atau keperluan rumah tangga lainnya.  Tangannya tidak pernah mencengkeram, tetapi selalu terbuka untuk membantu sesama.  Sehingga nama Herdi menjadi harum.  Maka tak pelak, ketika ada pencalonan kepala desa, Herdi dicalonkan.  Tentu saja Herdi dengan sikap khas jawanya, dengan berdalih siapakah dirinya yang tidak memiliki latar belakang yang menguntungkan, tidak memiliki pendidikan tinggi, sebab ia hanya tamat SMP, tidak memiliki apa-apa, walau ia kaya, ia kemudian menolak.  Tetapi justru dengan penolakannya itu, orang-orang kampung malah semakin semangat mendukungnya.

(Bersambung)

*) Pernah dimuat di Mingguan Suara Merdeka Semarang dalam bentuk Cerpen

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *