Antara Pengamen dan Kepekaan Hati: Refleksi Kasih dalam Penutupan BKSN 2026 Jebugan

Berita22 Dilihat

KLATEN — wartaintegritas.com — Rangkaian Sarasehan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2026 di Lingkungan St. Yusup Jebugan resmi berakhir pada Selasa malam (29/9/2026). Bertempat di kediaman Puja, pertemuan gabungan keempat ini dihadiri sekitar 60 umat dari lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga umat dewasa dan lanjut usia.

​Berbeda dari tiga pertemuan sebelumnya yang digelar di lingkup kelompok kecil, sarasehan penutup yang mendalami tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup Kekal” ini tampil segar. Pasalnya, seluruh dinamika acara dari awal hingga akhir digerakkan sepenuhnya oleh Orang Muda Katolik (OMK) setempat.

​Angel tampil memimpin ibadat sekaligus mengarahkan diskusi pendalaman, Palma memandu lagu-lagu pujian, Deo bertugas melantunkan Sabda Firman, sementara Theo menghidupkan suasana lewat permainan interaktif yang disambut gelak tawa seluruh umat.

​Angel menyampaikan bahwa keterlibatan aktif kaum muda dalam BKSN ini menjadi ruang belajar sekaligus ajang pembuktian peran OMK di tengah umat.

​”Kami ingin membawa suasana pendalaman Kitab Suci yang runut namun tetap hangat dan inklusif. Diskusi kelompok dibuat interaktif agar seluruh elemen umat, baik yang muda maupun yang tua, bisa saling membagikan pengalaman imannya secara lepas,” ujar Angel.

​Dalam permenungan Kitab Suci, umat diajak membedah perumpamaan Yesus mengenai pemisahan domba dan kambing.

Menurut Angel dalam membedah perumpamaan Yesus mengenai pemisahan domba dan kambing. Domba melambangkan pribadi yang setia dalam tindakan kasih dan berhak atas hidup kekal di surga, sedangkan kambing menggambarkan sikap yang mengabaikan kepedulian terhadap sesama.

​Sesi diskusi bergulir dinamis ketika salah seorang umat, Darman, melontarkan pertanyaan reflektif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mengenai relasi sosial masyarakat.

​”Ketika ada pengamen datang ke rumah lalu saya memilih menutup pintu dan tidak memberi, apakah tindakan seperti itu sudah tergolong sebagai dosa?” tanya Darman.

​Pertanyaan kontekstual tersebut kemudian ditanggapi oleh Fx. Pardiman. Ia menegaskan bahwa moralitas suatu tindakan sangat ditentukan oleh motif dan kepekaan batin, bukan sekadar respons fisik luar.

​”Tidak bisa secara instan kita sebut itu dosa. Harus dilihat mendasar apa alasannya. Menutup pintu karena alasan keamanan, keterbatasan rezeki, atau pertimbangan bijak lainnya tentu bukan dosa. Yang menjadi dosa adalah jika tindakan itu didasari rasa jijik, meremehkan, dan menutup hati sama sekali bagi sesama,” tegas Pardiman.

​”Sesuai ajaran Yesus tentang hidup kekal, tolok ukurnya adalah perbuatan kasih. Tuhan tidak menghitung berapa nominal rupiah yang kita keluarkan, melainkan apakah hati kita masih peka. Jika belum bisa memberi materi, kita tetap bisa membagikan kasih lewat sapaan santun, mendoakan mereka dalam hati, dan tetap konsisten beramal di kesempatan lain,” lanjutnya Pardiman.

​Kegiatan yang berlangsung hangat selama hampir dua jam tersebut ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah dalam suasana kebersamaan antarumat.

(Fx. Pardiman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *