Membangun Organisasi hingga Berdampak

Ekonomi Kreatif66 Dilihat

Oleh: Pedro Mahendra Aristanto*)

SALATIGA, wartaintegritas.com – Sebuah bunga yang dirawat dengan penuh kesungguhan akan mekar indah, memancarkan harum semerbak, dan menarik lebah untuk berdatangan. Begitu pula dengan organisasi. organisasi yang dirawat hingga sehat, akan menghadirkan anggota-anggota baru yang mau bergabung. Fondasi yang kuat akan menentukan seberapa tinggi sebuah organisasi mampu berdampak. Karena itu, pengembangan organisasi harus dimulai dari internal sebelum menjangkau ke luar.

Menurut Merriam Webster Dictionary, organisasi adalah sekelompok orang yang bersatu: seperti sekelompok orang dengan karakteristik atau minat yang sama yang tinggal bersama dalam masyarakat yang lebih besar. Lalu Cambridge  Dictionary mendefinisikan sekelompok orang yang memiliki minat, agama, dll. yang sama. Sementara Oxford Learners Dictionary memberikan pengertian yaitu sekelompok orang yang hidup bersama dan semuanya memiliki dan berbagi apa yang mereka miliki secara setara. Dari berbagai definisi itu, kita bisa merangkum bahwa unsur organisasi adalah kumpulan, kesamaan, kebersamaan, dan keberbagian—empat “K” yang menjadi inti sebuah organisasi. Jadi, organisasi adalah kumpulan orang yang memiliki suatu kesamaan yang bersama-sama menjalankan agendanya dimana masing-masing orang mengambil bagian tertentu. 

Sebuah organisasi perlu visi. Dengan visi, organisasi dapat memberi dampak. Tanpa visi, organisasi hanya menjadi tempat berkumpul untuk kesenangan sesaat. Pembuatan visi menurut Ilmu Manajemen haruslah mengikuti kaidah SMART: 

  1. Specific: Memiliki kekhususan;
  2. Measurable: Mempunyai ukuran berdasarkan indikator tertentu;
  3. Achievable: Mampu dicapai sesuai dengan sumber daya yang dimiliki;
  4. Reasonable: Membertimbangkan rasio sehingga masuk akal;
  5. Time Period: Menggunakan batas waktu.

Sebagai contoh, anggap saja ada suatu organisasi literasi di Kota Salatiga-Jawa Tengah bernama SSB (Salatiga Suka Baca). Berikut adalah visinya berdasarkan kaidah di atas: Menjadi organisasi literasi yang inklusif dengan target 50 anggota tetap pada tahun 2026.

Formation dan value diperlukan dalam organisasi selain visi (Foto: Kitapunya.net)

Berikut analisa dari visi diatas, 

  1. Specific: “organisasi literasi inklusifi”;
  2. Measurable: “50 anggota tetap”;
  3. Achievable: Asumsinya target “50 anggota tetap pada tahun 2026” sesuai dengan sumber daya yang dimiliki SSB;
  4. Reasonable: Asumsinya target “50 anggota tetap pada tahun 2026” sesuai dengan sumber daya yang dimiliki SSB;
  5. Time Period: “Tahun 2026”.

Visi saja tidak cukup dalam mengembangkan organisasi. Maka diperlukan formation dan value. Formation menyangkut struktur, analisis pekerjaan, spesifikasi personel, dan deskripsi tugas dan wewenang—bukan tentang kekuasaan, melainkan otoritas yang jelas. Values adalah nilai-nilai yang dengan komitmen bersama dijalankan dalam suatu organisasi. Maka dalam organisasi, jika memiliki vision, formation, dan value sudah cukup menjadi modal yang baik.

Selanjutnya keterampilan sosial menjadi kunci. Komunikasi yang efektif dan pengaruh yang berkelanjutan menjadi penting. Dale Carnegie pernah menyampaikan dalam bukunya “How to Win Friends and Influence People” bahwa masalah terbesar yang dihadapi orang-orang kemungkinannya adalah terkait dengan urusannya dengan orang lain. Maka dari itu, menjadi perlu dipertimbangkan apa yang disampaikan John C. Maxwell dalam bukunya “Equipping 101”, yaitu:

“Kebenaran utama dari kehidupan adalah orang-orang akan selalu mendekat ke siapa pun yang meningkatkan mereka dan menjauhi orang yang tidak menghargai mereka.”

Lebih lanjut Maxwell memberikan masukan bagaimana semestinya sikap seorang pemimpin yang adalah mentor untuk mengembangkan organisasi. Berikut hal-hal yang kita bisa pelajari bersama:

  • Menghargai anggota tim secara profesional;
  • Menghargai hal-hal pribadi yang penting bagi anggota tim;
  • Menambahkan nilai pada potensi anggota tim;
  • Menjadi inspirasi bagi anggota tim.

Semua itu berpuncak pada simpati, empati, dan interpati—tiga sikap hati yang menjembatani hubungan dan menguatkan ikatan. Pada akhirnya, pembangunan organisasi bukan hanya tentang membangun sebuah kelompok, melainkan membangun manusia di dalamnya. Karena dari manusia yang bertumbuhlah, lahir organisasi yang berdampak.

*) Penulis adalah seorang Sarjana Ekonomi manajemen sumber daya manusia yang bekerja sebagai Tim Rekrutmen suatu perusahaan multinasional di Salatiga  yang memiliki minat dalam organization development, talent management, dan counseling.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *