Hari Wayang Nasional, Wayang Kulit dan Katarsis Orang Jawa

Seni Budaya89 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki*)

AMBARAWA, wartaintegritas.com – Wayang kulit Jawa telah diakui sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga oleh UNESCO 7 November 2003.

Berdasarkan pengakuan dan penghargaan UNESCO itulah maka tanggal 7 November diusulkan dan kemudian berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018 ditetapkan menjadi Hari Wayang Nasional.  Apa yang bisa dipelajari dari pertunjukan wayang?

Wayang bagi orang Jawa tidak saja sekedar sarana hiburan, tetapi sesungguhnya sudah menjadi alat katarsis pembersih jiwa bagi penontonnya.  Oleh karena itulah seringkali ada istilah wayang itu sebagai tontonan sekaligus sebagai tuntunan.  

Katarsis sebuah Penyucian Diri

Katarsis adalah istilah yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud  yang kemudian populer dalam dunia filsuf Yunani kuno yang merujuk pada pembersihan diri atau penyucian diri.  Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian katarsis adalah kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.

Dalam masyarakat Yunani Kuno katarsis dapat dilakuan dengan menikmati karya seni sehingga penyucian emosi dengan cara  pengamatan estetis.  Aristoteles memiliki pendapat bahwa seseorang yang melihat pementasan teater akan mengalami penyucian dalam dirinya. 

Dalam dunia psikologi, katarsis dipahami sebagai upaya pelampiasan emosi yang positif agar seseorang merasa lebih lega dan bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan perasaan yang lebih baik.  Bentuk pelampiasan secara positif itu antara lain: bercerita atau curhat dengan teman; berolah raga; bernyanyi; berteriak; dan menulis. Dengan demikian perasaan yang membebani seperti kemarahan, putus asa, merasa bersalah dapat tersalurkan melalui aktifitas-aktifitas tersebut sehingga kemudian didapatkan ketenangan dan kepuasan batin.

Wayang Seni Pertunjukan Multi Dimensi

Wayang adalah seni pertunjukan yang didukung dan bisa dilihat dari berbagai dimensi.  Dari dimensi olah vokal maka jelas terlihat bagaimana seorang dalang yang bercerita dan berdialog berusaha membangkitkan suasana pertunjukan dengan olah vokalnya.  Dalang juga bernyanyi dengan suluk, kombangan, ataupun tembang-tembang yang dibawakannya.  Dalam dialog anak-anak wayangnya, dalang menggunakan suara yang bervariasi sesuai karakter anak-anak wayangnya untuk kemudian digunakan menghidupkan dramaturginya. dan anak-anak wayangnya.  Para sinden yang seringkali disebut swarawati itu pun, dalam bernyanyi dengan berbagai lagu atau tembang, juga termasuk bagian dari olah vokal itu.

Dari dimensi musik, bisa dilihat alunan gendhing-gendhing sejak awal pementasan sampai akhir pagelaran.  Mulai gending yang rancak hingga gending yang setengah rancak, bahkan gending yang berirama halus pun dimainkan.  Gending Sampak, Srepeg adalah contoh gending rancak itu.  Sementara gending Karawitan yang di dalam seni Pedalangan Mataraman, sering digunakan sebagai back sound atau latar dalang dalam mendeskipsikan sebuah kerajaan di awal cerita adalah salah satu contoh gending dengan irama lembut itu.

Dari dimensi musik, para penabuh yang disebut, niyaga atau panjak ini seperti pemain orkestra.  Dari awal hingga akhir pertunjukan mereka memainkan alat musik yang menjadi tanggung jawab mereka masing-masing.  Sejatinya mereka bermain harus menghadapi notasi musik, tetapi karena sudah hafal, mereka memainkan tanpa catatan notasi musik di hadapannya.  Alat musik yang bernama gamelan itu antara lain: gender, slenthem, kendang, rebab, seruling, siter, bonang, saron, kempul, gong dan lain-lain.  Penguasaan para niyaga terhadap notasi berbagai macam gending dan lagon adalah suatu hal yang menakjubkan.

Dari dimensi seni rupa, bisa terlihat dari jenis anak wayang yang dibuat, mulai dari yang berbentuk kecil seperti wayang Dewa Ruci hingga wayang yang berukuran besar seperti wayang raksasa yang disebut Bathara Kala misalnya.  Bentuk wayang dengan segala kerumitannya akan disaput dengan pewarna, baik muka, tubuh maupun pakain dan pernik-perniknya.  Warna muka kadang menunjukkan karakter anak wayang tersebut.  Misalnya untuk raksasa atau ksatria yang berwatak keras, pemarah, seperti Cakil, Baladewa dan lain-lain, bermuka merah. Sedang ksatria seperti Arjuna, Gatotkaca bermuka hitam atau emas.  Meski pewarnaan muka tokoh tidak harus seperti itu, tetapi hal tersebut menunjukkan kerumitan dalam pewarnaan, dan itulah dimensi seni rupa atau sungging wayang.

Dari segi seni ukir atau seni tatah, juga bisa dilihat dari berbagai anak wayang yang dibuat.  Tidak semua wayang memiliki bentuk muka dan mata yang sama.  Ada yang matanya berbentuk gabahan, kedondongan, kedhelen, dan lain-lain.  Perbedaan karakter dan suara wayang menyebabkan pembuatan bentuk hidung wayang yang berbahan dasarkan kulit kerbau atau lembu itu juga berbeda.  Ada bentuk hidung bentulan, wali miring, wungkal gerang dan lain-lain. Bentuk muka raksasa dengan kesatria juga berbeda, belum bentuk pakain dan pernik-perniknya.  Semua itu membutuhkan kejelian dalam penatahan wayangnya.  Butuh ketelatenan dan ketelitian dalam pekerjaan supaya dihasilkan anak wayang yang halus dan bagus saat dipergunakan dalam pertunjukan atau sekedar pajangan di sebuah ruangan.

*) Penulis tinggal di Ambarawa Kab. Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *