Entrepreneurship Potensi Dahsyat Majukan Negara

Ekonomi Kreatif102 Dilihat

Oleh: Darto Sachius *)

SEMARANG, wartaintegritas.com – Pada saat orang mendengar kata ini banyak hal yang terbayang dalam benaknya, beberapa orang berpikir bahwa kata entrepreneurship sama dengan bisnis atau sama dengan dagang atau ada yang berpikir ilmu tentang jual beli dan ilmu mencari untung belaka sehingga entrepreneurship tak perlu dipelajari atau bertentangan dengan Alkitab.

Tapi apa sebenarnya entrepreneurship yang sesungguhnya,  dia lebih dari ilmu bisnis dan dagang. Seorang entrepreneur Indonesia bernama Ciputra mengatakan bahwa entrepreneurship adalah jiwa dan keahlian seseorang yang dapat mengubah sampah menjadi emas. Jadi tak heran Ciputra selalu mencari tanah yang tidak laku lalu diubah menjadi tempat hiburan seperti Ancol dan banyak kota besar yang lain,  membangun perumahan mewah dari tempat tempat yang dahulu tidak laku atau yang dulunya tanah itu tempat pembuangan “anak Jin”. Menurut Ciputra inti dari entrepreneurship adalah seorang yang mampu menciptakan kreativitas, inovasi dan berani mengambil resiko dalam memutuskan setiap perkara. Ir Hendro dosen entrepreneurship di Universitas Bina Nusantara Jakarta membuat rumusan mengenai entrepreneurship adalah seseorang yang mampu menjual keahliannya (Sell Skill) atau mungkin entreprenership adalah sebuah profesi, ilmu, kepribadian, keahlian, kemampuan, pengetahuan,  naluri alamiah, cita-cita perorangan, serta pilihan hidup.

Sebuah negara akan disebut maju kalau di dalam negara itu lebih dari 20 persen masyarakatnya adalah orang-orang yang memiliki jiwa entrepreneur, misalnya seperti Amerika, Jepang dan Korea, namun negara Indonesia menurut survei hanya 0.2 persen orang yang memiliki jiwa entrepreneur. Makanya tidak heran negara ini sulit untuk diajak maju karena negeri ini sedikit orang kreatif, berinovatif dan berani mengambil resiko dalam mengambil keputusan.  Apakah indonesia bisa menjadi negara maju. Jawabanya bisa kalau jumlah entrepreneurnya terus bertambah dengan jalan melatih banyak anak-anak muda dan para pemimpinnya mengenai jiwa entrepreneur tersebut.

Kata entrepreneur hari ini sekarang menjadi istilah populer dan menjadi tren baru dalam dunia modern ini. Sehingga dalam dunia kampus dibagi menjadi tiga hal  yaitu pertama: kampus yang hanya memberikan informasi sebanyak-sebanyaknya kepada mahasiswanya, hal ini tergolong kampus yang jadul. Kelompok kedua adalah kampus yang mengajarkan mahasiswa untuk mengadakan survei dan penelitian dalam berbagai ilmu di lapangan, dengan tujuan  untuk pembelajaran secara obyektif sehingga lulusannya sangat tajam dan kreatif. Kelompok ketiga adalah kampus yang mengajarkan dan menciptakan  entrepreneurship kepada mahasiswa sehingga lulusannya menjadi entrepreneur sejati dalam berbagai bidang kehidupan setelah mereka lulus dari kampus.

Kata entrepreneurship sekarang berkembang dengan cepat seperti Social Entrepreneur yang dilakukan oleh Roma Mangun di Kali Code dan Mother Theresia di Calkuta yang memberkati masyarakat ribuan orang miskin untuk mengenal Tuhan dan memiliki sosial yang lebih baik.  Technology & Art Entrepreneurship seperti yang dilakukan oleh Microsoft dalam menciptakan tehnologi komputer yang canggih dan banyak contoh yang lainnya dalam bidang tehnologi informatika yang ada digenggaman kita sekarang berkat para techno entrepreneur. Contoh ketiga adalah government  entrepreneurship ini dilakukan oleh presiden kita Jokowi seorang government  entrepreneurship  yang mengubah negara ini dan membuat perubahan dengan kreatif dan inovatif dan berani mengambil resiko. Contoh lain seperti Wali kota Surabaya Risma mengubah wajah Surabaya menjadi kota yang asri dan hijau serta elegan dan Wali Kota Semarang Hindrat menciptakan kota Semarang berbenah sehingga semarang mengalami transformasi sosial.

Tujuan perkuliahan belajar ilmu entrepreneurship: Pertama mendidik generasi ini untuk mempunyai pengetahuan tentang ilmu dan skills entrepreneurship. Kedua melatih generasi ini untuk mempunyai jiwa entrepreneurship dan mampu bertindak sebagai entrepreneur sesuai bidangnya masing-masing. Ketiga mengenal dan mentrasformasi diri yang disebut entrepreneurial process  dalamMindset & Paradigm.  Keempat  menciptakan generasi yang memiliki inspirasi, kreativitas dan ide atau out of the box. Kelima mempelajari  hubungan antara entrepreneurship dan teologi ekonomi serta kepemimpinan entrepreneurship di dunia usaha atau bisnis, sosial, pemerintah; dan hal-hal lainnya seperti inspirasi, menciptakan ide, hidup dalam kreativitas, berinovasi dalam segala keahlian, berani mengambil resiko dalam banyak hal, maka seseorang akan menjadi manusia yang baru yang menjadi cahaya terang di tengah gelapnya dunia hari ini. Jadi entrepreneurship adalah sell skill. Kemampuan seseorang menjual keahliannya.

*) Penulis menyelesaikan S3 teologi di ABTS ( Asia Baptis Theology Seminari Hongkong, saat ini selain menggembalakan gereja di GBIS UI Semarang juga mengajar di Universitas Semarang dan STT Abdiel Ungaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *