Unggah-Ungguh dan Tata Krama, Akankah Sirna?

Pendidikan74 Dilihat

Oleh: J. Christiono *)

SEMARANG, wartaintegritas.comOh ibu dan ayah selamat pagi/Ku pergi belajar sampaikan nanti/ Selamat belajar ‘nak penuh semangat/ Rajinlah s’lalu tentu kau dapat/ Hormati gurumu sayangi teman/ Itulah tandanya kau murid budiman

Ini lagu Ibu Soed dengan judul Berangkat Belajar.  Masihkah ingat lagu itu? Generasi anak kelahiran 1970-an mungkin masih sangat ingat dengan lagu ini. Lagu yang mengajarkan budi pekerti, unggah-ungguh dan tata krama melalui lirik-liriknya.  Masih ada banyak lagu anak-anak lain yang berisi ajaran etika. Ajakan menghormati orang tua. Mencintai alam permai dan menumbuhkan cinta bangsa dan negara.

Budaya unggah-ungguh dan tata krama Jawa sudah merupakan kepribadian sejak jaman dahulu.  Sejak jaman kerajaan-kerajaan. Tengok saja tradisi di lingkungan keraton yang tentunya merupakan gambaran warisan masa lalu. Dan itu terbawa pada keluarga-keluarga rakyatnya.

Rasanya pendidikan formal yang mulai muncul pada era kolonial juga mengajarkan hal itu. Guru adalah sosok yang dihormati. Contoh pada foto yang terdokumentasikan di National Archifes Holland ini pernah dilansir Info Sejarah. Diperkirakan dibuat tahun 1900an pada sekolah Bumiputera/Pribumi.

Mereka menilai budaya jalan menunduk di depan gurunya adalah hal yang unik sehingga didokumentasikan. Tanda penghormatan secara fisik. Memang akhirnya sekarang tak perlu berlebihan seperti itu, namun tetap hormatilah guru. Ada standar tata krama yang perlu diberikan. Apalagi kepada orang tua sendiri. Bukankah gambaran kehidupan di rumah akan terekspresikan ke luar rumah ketika kita berinteraksi dengan dunia luar.

Sapaan sopan sebelum bicara (Foto: Kabar Handayani)

Bicara dengan orang lebih tua ada sikap menghargai, permisi minta waktu, bukan asal nyerocos.  Dalam budaya Jawa ada kata-kata halus dan sopan…..nyuwun sewu…  Bertemu papasan dengan orang lebih tua memberikan sapaan lebih dahulu. Mau makan sampaikan ucapan mari makan. Mau meninggalkan ruangan, permisi. Dan ada budaya sungkem.  Bahkan ketika makan, jika orang tua atau tuan rumah belum selesai makan, menanti semuanya selesai dahulu baru bangkit dari kursi.

Sekarang?  Entah mulai kapan, kelunturan itu terjadi. Erosi budaya menghormati guru dan orang tua dan orang lebih tua terjadi.  Jalan papasan cuek saja. Mendahului makan langsung santap. Bicara dengan orang tua langsung nyerocos. Ketika ada orang tua sedang bicara langsung dipenggal. Dan guru kalau perlu diajak berbantah. Guru cuma sosok figur pengajar. Kalau perlu diajak berkelahi. Diajak adu jotos. Orang tua murid, ini realitanya, juga memusuhi guru yang menegur anaknya dengan peringatan. Ya memang beda masa dulu dan sekarang.

Degradasi moral etika melanda anak-anak dan murid sekolah.  Saya terharu ketika saya mendengar cerita dari satu sekolah menengah negeri di Semarang. Ada satu murid setiap kali papasan dengan guru menyapa selamat pagi atau siang. Dan selalu bertanya baru selesai mengajar dari mana Pak/Bu. Selalu itu dilakukan pada gurunya. Sapaan yang sama dan pertanyaan yang sama. Dan itu sangat jarang dilakukan murid lain.

Tiba saatnya kelulusan, sang guru cerita di akun medsosnya tentang pengalaman itu. Ada alumni yang membaca. Dan alumni ini sudah sukses. Diam-diam diusahakan bea siswa untuk murid yang rajin menyapa itu. Guru itu bukan gila hormat, namun memang selayaknya menerima penghormatan.

Tatakrama berjalan di depan orang yang lebih tua (Foto: SMPN 4 Karanganyar)

Iseng-iseng saya bertanya pada beberapa guru, apakah murid pada masa sekarang ini masih mengucapkan kata-kata ….nyuwun sewu…atau ….permisi, oh tidak pernah …… Namun di sisi lain saya masih mendengar kebiasaan tata krama itu ada, di lingkungan asrama. Semoga saja, budi pekerti tak luntur.

Satu hal baik ketika sekarang saya mendengar bahwa di dalam sekolah mulai ditonjolkan masalah etika perilaku siswa. Jika dahulu ya termasuk dalam pelajaran budi pekerti, sedangkan ilmu itu menyertai.

Intinya dengan orang yang lebih tua atau dituakan ada tata krama. Menjaga perilaku dan juga tutur kata. Semoga saja apa yang diangankan terwujud meski agak terlambat. Apakah apa yang saya sampaikan ini sudah ketinggalan zaman atau hal yang usang dan kolot? Entahlah.

*) Penulis mantan wartawan harian Suara Merdeka, saat ini bergiat di media sosial, tinggal di Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *