Seminar Bedah Buku “Dari Megachurch ke Pelipatgandaan” Disambut Antusias Peserta

Peristiwa447 Dilihat

SEMARANG – wartaintegritas.com – Seminar bedah buku bertajuk “Dari Megachurch ke Pelipatgandaan” sukses digelar di Gereja Isa Almasih Dr. Cipto, Kota Semarang, pada Senin (2/3) mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.

Kegiatan seminar dan bedah buku yang membahas isi, latar belakang penulisan, serta relevansi buku “From Megachurch to Multiplication” yang ditulis oleh Chris Galanos.

Acara yang di moderatori oleh Dr. Darto Sachius, M.Th. dan Pdt. Dr. Samuel Basri ini menghadirkan 4 orang narasumber yaitu ketua STTII Yogyakarta Pdt. Dr. Sumbut Yermianto, M.Th., Gembala Sidang GIA Dr. Cipto Semarang yang juga  Dosen STT Abdiel Ungaran Pdt. Dr. Gunawan Susanto, M.Div., Gembala Sidang dan Dosen STTII Yogyakarta Pdt. Dr. Paulus K. Baskoro, M.Th., serta Ketua Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Jawa Tengah Pdt. Em. Drs. Suyito Basuki, M.Div, Th.M. Seminar ini diikuti 100 peserta yang terdiri dari Gembala sidang wilayah Semarang Raya dan sekitarnya, alumni STTII Yogyakarta, mahasiswa, dan umum.

Pdt. Dr. Sumbut Yermianto, M.Th. sebagai pembicara awal menyebutkan bahwa dalam pengembangan gereja, jangan alergi dengan cara-cara baru yang barangkali bisa lebih baik.  Tugas utama gereja menurutnyaadalah mengejar dan menyelesaikan perintah Amanat Agung Tuhan Yesus.  Metode-metode bisa digunakan untuk melakukan hal itu, termasuk metode DMM atau Gerakan Pemuridan yang diurai dalam buku Chris Galanos yang dibedah hari itu.

“Tugas kita, bukan hanya mengejar namun menyelesaikan. Jika kita tidak ikut untuk menyelesaikan, berarti tidak taat amanat agung(menjadikan semua bangsa murid Yesus,” demikian tandas Ketua STTII Yogyakarta itu di hadapan para peserta.

Menurut Pdt. Dr. Gunawan Susanto, M.Div, jangan sampai ada rasa Fomo (fear of missing out) atau takut ketinggalan tentang suatu tren yang sedang terjadi khususnya dalam menghadapi trend megachurch dan pelipatgandaan ini.  Kesemuanya dalam konteks Indonesia ungkap pendeta senior di GIA Dr. Cipto Semarang ini, sangat baik untuk dijalankan bersama-sama.

Megachurch diperlukan untuk memberi dampak sosial.  DMM sangat diperlukan, berjalan bersama dengan penanaman gereja baru dan penumbuhan gereja yang sudah ada dijalankan bersama-sama, bukan perombakan total, tapi reorientasi struktur.  Bukan megachurch ormultiplication, tapi megachurch andmultiplication,” demikian ujar Pdt. Gunawan.

Menurut Pdt. Dr. Paulus K. Baskoro, M.Th., buku karya Chris Galanos ini menjelaskan konsep baru menjangkau yang belum terjangkau dengan baik. “Buku ini memberikan pemaparan penting dari megachurch ke pelipatgandaan, bagaimana mengoptimalkan murid yang dihasilkan dan memberikan konsep penting dari doa,” ujar Kunto Baskoro yang juga gembala sebuah gereja di Semarang ini.

Pdt. Em. Drs. Suyito Basuki, M.Div, Th.M, memberi info bahwa beberapa kota di Kalimantan Selatan sangat cocok untuk program DMM ini dikembangkan yang berfokus pada pendirian gereja rumah.  Berdasar pengalaman Ketua Persatuan Wartawan Nasrani Jawa Tengah ini saat berada di Kalimantan Selatan, ia mendapat cerita dari seorang percaya bahwa di sana pendirian jemaat sulit sehingga jemaat baru khususnya, malah lebih merasa aman beribadah di persekutuan-persekutuan yang diadakan dari rumah ke rumah.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh alumni STTII Yogyakarta yang berada di Semarang Raya yang dengan Ketua Panitia Pdt. Natanael Didik Priyanto, S.Th. ini digelar bertujuan untuk berbagi pengalaman penulis Chris Galanos melalui bukunya dalam pelayanan pelipatgandaan yang dalam sepuluh lahun pelayanan dapat menjangkau 10.000 orang lebih di Lubock Texas Amerika. Para pembicara menjabarkan metoda Disciple Making Movement (DMM) atau Gerakan Pemuridan dan efektifitasnya dalam pengembangan pelayanan, buku ini juga memberikan pemaparan penting dari megachurch ke pelipatgandaan.

Pdt. Abednego utomo Prasetyo, M.Th. memberikan tesimoni bahwa ia memiliki seorang  jemaat yang berpelayanan dengan metode DMM bekerja sama dengan sebuah lembaga misi di Jakarta. Jemaat ini sebelumya melayani di kalangan TKW di Hongkong, yang memberitakan Injil sehingga para TKW tersebut mengenal Kristus. “Setelah pulang ke Indonesia melakukan pelayanan dengan metode DMM di lingkungan dengan basis non-Kristen yang kuat,” jelas yang melayani di GITJ Cindewuluh Pati.

Salah satu peserta, Evi Kristiana dari Salatiga, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan ini.

“Isi buku ini mengajarkan kita untuk menjangkau yang tidak terjangkau dengan cara sederhana, yaitu membentuk kelompok-kelompok kecil yang bertujuan untuk membentuk kualitas. Sehingga ketika kualitas telah terwujud, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan kuantitas,” demikian ujarnya.

(Yahya Kumarawangi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *