Nusantara Konferensi Doa 2026 Satukan Ribuan Pemimpin Kristen: Keesaan Gereja, Ketahanan Keluarga, dan Api Doa bagi Bangsa

Uncategorized89 Dilihat

BALIKPAPAN – wartaintegritas.com –  Ribuan pemimpin gereja, hamba Tuhan, tokoh Kristen, serta peserta dari berbagai daerah di Indonesia bahkan sejumlah negara mengikuti Nusantara Konferensi Doa – Seminar Hari Doa Nasional 2026 yang diselenggarakan di Bukit Doa Nusantara, Balikpapan, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan gereja, membangun keluarga yang tangguh, serta mengobarkan kembali semangat doa dan penginjilan bagi Indonesia dan bangsa-bangsa.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber nasional yang telah lama melayani dalam bidang kepemimpinan gereja, antara lain Pdt. Dr. Gomar Gultom, Pdt. Dr. Ronny Mandang, Pdt. Tommy Lengkong, Pdt. Dr. Darwin Darmawan, Pdt. Hanok Pailit, dan Dr. dr. Cissie Nugraha, M.Sc., M.A.R.S. Berbagai materi yang disampaikan menekankan pentingnya doa sebagai fondasi kehidupan gereja, kepemimpinan Kristen, dan transformasi bangsa.

Salah satu sesi yang mendapat perhatian besar adalah pembahasan mengenai “Keesaan Gereja di Nusantara” yang menghadirkan perwakilan dari PGLII, PGI, dan PGPI. Dialog tersebut memperlihatkan semangat kebersamaan antarorganisasi gereja untuk terus membangun relasi yang saling mengasihi, menghormati, dan bekerja sama dalam melayani masyarakat Indonesia.

Para narasumber menegaskan bahwa keberagaman denominasi bukanlah penghalang untuk menghadirkan kesaksian Kristus di tengah bangsa. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekayaan yang memperkuat pelayanan gereja dalam menjawab tantangan zaman.

Pada sesi mengenai “Kesehatan dan Keluarga Kristen”, Pdt. Dr. Audi Luntungan, Ketua PW PGLII, mengajak gereja untuk memperkuat pelayanan keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa. Menurutnya, keluarga yang sehat secara rohani akan melahirkan generasi yang memiliki karakter Kristus dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sementara itu, sesi yang paling banyak diikuti peserta adalah pemaparan Dr. dr. Cissie Nugraha, M.Sc., M.A.R.S. bertajuk “Kesehatan Mental dalam Ketahanan Keluarga”. Dalam paparannya disampaikan bahwa persoalan kesehatan mental telah menjadi tantangan global.

Ia memaparkan bahwa secara global sekitar 1 dari 8 orang mengalami gangguan kesehatan mental. Di Indonesia, diperkirakan 1 dari 10 penduduk mengalami gangguan kesehatan mental, sementara 1 dari 3 remaja menghadapi persoalan kesehatan mental dengan berbagai penyebab yang perlu mendapat perhatian bersama.

Menurutnya, keluarga yang sehat secara mental dan kuat secara rohani akan menjadi benteng utama dalam menghadapi tekanan hidup. Ia mengutip Matius 7:24–25, yang mengajarkan pentingnya membangun kehidupan di atas dasar yang kokoh, yakni firman Tuhan.

Dr. Cissie menawarkan dua langkah utama untuk membangun ketahanan mental keluarga Kristen.

Pertama, menjaga “asupan” yang baik. Berdasarkan kajian neuroscience, manusia saat ini menghadapi information overload, sehingga perlu memilih informasi yang benar, membangun, dan bermanfaat. Ia mengaitkan hal tersebut dengan Filipi 4:7–8, yang mengajak setiap orang memenuhi pikiran dengan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, manis, dan patut dipuji. Praktiknya diwujudkan melalui membaca Firman Tuhan, membangun kehidupan doa, mengembangkan pikiran positif, dan menjalin pergaulan yang membangun.

Kedua, berdiam di dalam Tuhan. Neuroscience menunjukkan bahwa manusia tidak dirancang untuk hidup sendirian. Karena itu, relasi dengan Tuhan dan komunitas iman menjadi kebutuhan mendasar. Ia mengingatkan janji Tuhan dalam Ibrani 13:5 bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya, serta pentingnya hidup sebagai satu tubuh Kristus sebagaimana diajarkan dalam 1 Korintus 12:12.

Semangat yang terus bergema sepanjang konferensi adalah bahwa “Api Doa dan Penginjilan Terus Menyala dari Keluarga ke Bangsa-Bangsa.” Pesan tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan yang mengajak gereja terus menjadi terang bagi Indonesia dan dunia.

Pada malam harinya, ribuan umat Tuhan kembali memadati lokasi untuk mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung selama dua hari. Pelayanan firman dibawakan oleh Ps. Marcel Kanon dari New Zealand dan Ps. Choi Tay Hyuep dari Korea Selatan.

Kesaksian mengenai karya Tuhan, termasuk pengalaman kesembuhan dari penyakit kanker stadium lanjut yang dialami Ps. Choi Tay Hyuep, semakin menguatkan iman para peserta akan kuasa doa. Suasana ibadah dipenuhi penyembahan, doa syafaat, dan pengharapan akan karya Allah bagi Indonesia.

KKR semakin semarak melalui pelayanan Korea Mission Choir yang beranggotakan sekitar 25 penyanyi. Mereka mempersembahkan pujian dalam Bahasa Korea, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, menghadirkan suasana penyembahan yang khusyuk sekaligus menyatukan peserta dari berbagai latar belakang. Pelayanan pujian juga didukung oleh BFOG Worship & Peace Ministry, yang semakin memperkuat atmosfer penyembahan sepanjang konferensi.

Melalui penyelenggaraan Nusantara Konferensi Doa – Seminar Hari Doa Nasional 2026, para peserta kembali diteguhkan bahwa persatuan gereja, ketahanan keluarga, kesehatan mental, doa, dan penginjilan merupakan fondasi penting bagi terwujudnya Indonesia yang semakin diberkati Tuhan. Semangat kebersamaan yang terbangun di Balikpapan diharapkan terus menyala, membawa dampak bagi gereja, masyarakat, bangsa Indonesia, hingga bangsa-bangsa di dunia.

(Purwoto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *