Memori Banjir Besar Semarang Tahun 1976

Peristiwa217 Dilihat

SEMARANG, wartaintegritas.com – Salah satu kliping koran tua Suara Merdeka yang saya simpan memotret peristiwa banjir di Kota Semarang dan daerah tetangga di Demak, serta Kendal pada tahun 1976.

Banjir itu terjadi karena hujan deras berkepanjangan. Banjir melanda di hampir semua bagian Kota Semarang.

Pada waktu itu jalan protokol seperti Jalan Pandanaran, Simpang Lima, Jalan Raden Patah, dan Pengapon merupakan titik genangan banjir. Perkampungan di banyak titik di Semarang, termasuk kawasan Pecinan pun, tidak luput dari banjir. Ketika itu belum ada pemekaran wilayah.

Ketika itu banjir bukan hanya menyebabkan air menggenang di jalan atau permukiman, melainkan menyebabkan putusnya jalan raya utama menuju Demak, Kendal, hingga ke arah Ungaran.

Banjir sangat dengan genangan air tinggi juga terjadi di jalan menuju Demak, utamanya di Genuk dan Sayung. Ketika itu Genuk masih masuk wilayah Demak. Jembatan di dekat Kaliwungu ambrol waktu itu. Waktu itu belum tersedia pompa atau pintu air di muara kali seperti sekarang. Jadi semuanya masih serba terbatas.

Pada bagian lain, banjir menyebabkan longsornya jalan tanjakan di Gombel dan rusaknya turunan Gombel lama kelongsoran – hingga jalur transportasi ke Ungaran, Solo, dan Yogyakarta pun harus dialihkan melalui jalur alternatif. Penumpang diturunkan di dua sisi berbeda daerah longsor kemudian berganti kendaraan lain. Hal itu setidaknya berlangsung selama sepekan.

Akibat banjir, karena di Semarang belum banyak ada bangunan besar, maka warga memerlukan daerah aman untuk berteduh dan istirahat karena rumahnya kebanjiran. Wali Kota Semarang, Hadijanto, menyiapkan gedung Balai Kota sebagai tempat pengungsian, sekaligus sebagai tempat tujuan warga yang mencari sanak famili dalam pengungsian. Sebagai catatan telepon sebagai sarana komunikasi belum banyak dimiliki warga.

Semarang mengalami banjir bukan sekali dua kali. Dari catatan saya, untuk skala besar pada tahun 1976 dan 1990 (banjir  bandang/banjir terbesar di Semarang). Sementara itu, tahun 2000 banjir hanya terjadi di daerah tepi aliran Banjir Kanal Barat. Waktu itu tanpa hujan daerah Tanah Mas banjir dengan air tinggi akibat jebolnya tanggul Banjir Kanal Barat.

Di kawasan Kaligawe banjir besar terjadi pada 1976, 1990, 2003, dan 2020 (Pandemi Covid-19). Banjir paling lama surut terjadi sekarang, 2025. Hingga hari ini kawasan Kaligawe saja sudah sebelas hari dilanda banjir.

(J. Christiono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *