MDSI Hadirkan Pelayanan Lintas Iman di Lopian, Air Bersih hingga Penguatan Spiritual Redam Trauma Bencana

Peristiwa444 Dilihat

TAPANULI TENGAH, wartaintegritas.com – Sejak awal tahun ini (Januari 2026) Muria Damai Sentosa Indonesia/Mennonite Diakonia Service Indonesia (MDSI) menghadirkan pelayanan tanggap bencana yang holistik dan berperspektif perdamaian di wilayah terdampak banjir bandang Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Pelayanan ini dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan relasi sosial dan membangun hubungan lintas agama, menjangkau komunitas Kristen maupun Muslim secara setara.

Di kawasan terdampak, MDSI memberikan berbagai bentuk bantuan, mulai dari bantuan perlengkapan untuk pengungsi, bantuan makanan, pengeboran air bersih, distribusi alat filter air layak minum, pelayanan psikososial, hingga penguatan mental-spiritual.
Di komunitas Kristen, pelayanan kerohanian dan psikososial dilaksanakan di GPdI Pelita Family dan Gereja BNKP Badiri. Dalam ibadah hari minggu di GPdI Lopian (18/1), Pdt.Iwan Firman Widiyanto menekankan untuk tidak putus asa dan menyerah dalam menghadapi situasi keterpurukan, mendorong jemaat membangun kembali mimpi-mimpi diatas puing-puing bencana. GPdI Lopian mempunyai mimpi mewujudkan pendidikan yang baik di daerahnya melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sedangkan Pdt.Paulus Hartono menyampaikan kotbah hari Minggu(25/1) di gereja BNKP Badiri menekankan pada upaya bersama memperbaiki Lingkungan Alam bagi kejahteraan masyarakat bersama.

Psikososial usai Pengajian ibu-ibu di Lopian (Foto: Iwan Firman Widiyanto)

Sementara itu, di komunitas Muslim, MDSI memfasilitasi kegiatan pengajian, mendistribusikan buku Yasin dan tuntunan sholat, serta memasang alat filter air di mushola dan masjid sesuai kebutuhan warga. Masrianti Hasibuan (44), pemimpin kelompok pengajian ibu-ibu di Lopian, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan tersebut. “Berterima kasih kepada MDSI yang telah memfasilitasi pengajian untuk menguatkan iman di tengah bencana. Kami senang bisa mengundang ustaz dari Batangtoru,” ujarnya. Hal senada disampaikan Kepala Lingkungan I, Ali Rahman Mendofa (48), yang berharap kegiatan pengajian mampu membantu mengurangi trauma para ibu pascabencana.
Seorang Ibu penyintas, Nurmilan Lubis (50) mengungkapkan, “Alhamdulillah, hati dan pikiran terasa lebih tenang setelah pengajian. Kami berterima kasih kepada MDSI.” Sementara Ustad Damratua Parlindungan Siregar (48) yang berkesempatan memberikan kotbah di pengajian tersebut memaknai bencana secara positif sebagai momentum memperkuat silaturahmi dan saling membantu. “Kami juga bersyukur ada terapi psikologis setelah pengajian. Terima kasih kepada MDSI yang memfasilitasi kegiatan ini,” katanya.

Di sektor air bersih, bantuan filterisasi dinilai sangat membantu warga. Syahrul (45), pengurus Mushola Al Muchlisin Lingkungan V, menyatakan bahwa alat air bersih layak minum yang diberikan akan bermanfaat bagi sedikitnya 33 kepala keluarga. Sedangkan Doni Manjaloho (45), sebagai Hatobangun atau penatua lingkungan, menambahkan bahwa sebelumnya warga harus berjalan hingga satu kilometer dan mengantre air. “Sekarang sangat terbantu. Terima kasih atas dukungan MDSI dan GKY,” ujarnya.

Pdt.Iwan Firman (kiri) dan Ustad Damratua Parlindungan Siregar (kanan) usai pengajian (Foto: Iwan Firman Widiyanto)

Pelayanan pelayanan yang dilakukan oleh MDSI dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga dan gereja. Pdt. Paulus Hartono (59) menjelaskan bahwa pada Januari 2025, MDSI bersama mitra menyalurkan bantuan filter air di tujuh titik strategis, mencakup gereja, masjid, mushola, puskesmas, dan lokasi terdampak lainnya.

MDSI bekerja sama dengan Wijna–MCC memulai kerjasama dengan asesmen awal, selanjutnya memberikan bantuan untuk perlengkapan warga di pengungsian, sembako, dan psikososial; dengan Gereja Kristen Yesus (GKY) dalam distribusi tujuh unit filter air; serta dengan Yayasan Christoperus Semarang melakukan pengeboran air di GPdI Lopian dan perbaikan fasilitas ruangan serta toilet. GPdI Lopian sendiri sempat menjadi lokasi pengungsian hingga 500 orang selama hampir satu bulan.

Selain itu, MDSI juga menggandeng Pelkesi, sebuah lembaga pelayanan Kristen untuk kesehatan Indonesia dan Rumah Sakit Mardi Rahayu untuk menyelenggarakan layanan pengobatan gratis di sejumlah wilayah terdampak di Tapanuli tengah hingga tapanuli Utara.
Pdt. Amalan Hati Zebua (45) gembala Jemaat dari BNKP Badiri menyampaikan apresiasinya atas kepedulian MDSI terhadap jemaat dan masyarakat luas. Hal yang sama juga dinyatakan gembala GPdI Lopian, Pdt.Jun Mendrof, “Puji Tuhan, kualitas air bersih yang diberikan sangat baik,”

Kolaborasi MDSI, Pelkesi dan RS.Mardi Rahayu dalam pelayanan Kesehatan di Sumut (Foto: Yudi)

Melalui pendekatan lintas iman dan kolaboratif ini, MDSI menegaskan komitmennya membangun pemulihan yang berkelanjutan, damai, dan inklusif di tengah krisis kemanusiaan.

Selain pelayanan air bersih dan penguatan psikososial, MDSI juga melakukan pendampingan pemulihan ekonomi warga terdampak. Salah satunya kepada Sukaryadi, warga Lopian yang tempat usahanya roboh akibat banjir bandang. MDSI memberikan dukungan tenaga kerja melalui relawan, Yudi (52), untuk membantu proses pembangunan kembali tempat usaha tersebut agar dapat segera beroperasi.
Nastiro Boru Hombing (53), anggota keluarga Sukaryadi, menjelaskan bahwa usaha tersebut memproduksi berbagai jenis keripik yang selama ini disetorkan ke grosir. “Tempat usaha kami membuat berbagai macam keripik untuk disetor ke grosir. Kami berharap tempat ini segera selesai dibangun sehingga bisa mulai produksi sedikit demi sedikit lagi, apalagi untuk persediaan Lebaran,” ujarnya. Ia Juga berharap mendapatkan tambahan bantuan modal kerja, khususnya dalam waktu dekat ini untuk menyambut hari raya lebaran yang biasanya usaha makanan mulai ramai.

Pendampingan ini menunjukkan bahwa pelayanan MDSI tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga pada pemulihan jangka menengah dengan menguatkan kembali sumber penghidupan warga. Melalui keterlibatan relawan dan pendekatan berbasis kebutuhan nyata masyarakat, MDSI berupaya membantu penyintas bangkit secara bermartabat pascabencana.

(Iwan Firman Widiyanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *