SALATIGA, wartaintegritas.com – Mennonite Diakonia Service Indonesia/Muria Damai Sentosa Indonesia (MDSI) bekerja sama dengan Center for Development and Culture (CDC), dengan dukungan Wijna dan Mennonite Central Committee (MCC), menyelenggarakan Program SALT (Sharing and Learning for Transformation) pada tanggal 25–29 November 2025.
Program ini dirancang untuk memperlengkapi peserta – para pendeta, aktivis, dan pemimpin komunitas – dengan wawasan ekumenis, kepedulian lingkungan, serta perspektif kerakyatan. Kegiatan SALT bertujuan mempersiapkan pelayan gereja untuk merespons isu-isu krusial seperti intoleransi, krisis lingkungan, dan ketidakadilan sosial.
Belajar Perdamaian dan Pemulihan di Solo
Dua hari pertama kegiatan berlangsung di Solo, dengan fokus pada isu keadilan, perdamaian, pemulihan trauma kekerasan, mediasi, dan rekonsiliasi. Peserta juga menonton film dokumenter Unexpected Peace, yang mengisahkan pengalaman pengampunan radikal, perjumpaan lintas identitas, dan terbangunnya perdamaian sejati bahkan di antara pihak-pihak yang pernah bermusuhan.

Salah satu momen penting terjadi ketika peserta berkunjung ke Markas Laskar Hizbullah Divisi Sunan Bonang, dan diterima oleh Komandan Yanni Rusmanto. Dengan terbuka, Yanni berkisah tentang masa lalu kelompoknya – dari semangat membela agama hingga keterlibatan dalam konflik Ambon, penutupan gereja, dan aksi sweeping orang asing.
Titik balik terjadi saat ia dipertemukan dengan Paulus Hartono, Pendeta Gereja Kristen Muria Indonesia sekaligus Direktur MDSI. Hubungan yang pada awalnya tegang berubah menjadi persahabatan yang erat, bahkan membawa keduanya bekerja bersama dalam operasi kemanusiaan saat Tsunami Aceh 2004 dan Gempa Jogja 2006.

“Dulu Pak Paulus di mata saya darahnya halal karena dia itu orang Kristen, pendeta, sekaligus beretnis ‘Cina’. Artinya dia itu orang kafir,” ujar Yanni di hadapan peserta. “Tapi karena keteguhannya mau bertemu dan membangun hubungan, sekarang saya menyebut beliau itu ‘kafir yang baik’.” Pernyataan ini disambut tawa hangat para peserta, sebagai simbol transformasi relasi dan runtuhnya prasangka.
Belajar Lingkungan di Pegunungan Kendeng
Tiga hari berikutnya, peserta bergerak menuju kawasan pegunungan Kendeng, Pati Selatan, tepatnya di Dusun Pedak dan Gower. Mereka diterima oleh pengurus dan anggota Koperasi Bukit Asri Sentosa, sebuah lembaga ekonomi rakyat yang mengusung visi kesejahteraan melalui pertanian berkelanjutan dan penghijauan kembali kawasan Kendeng yang kian gundul.

Melalui program live in, peserta mendalami kehidupan para petani hutan yang setiap tahun berhadapan dengan risiko banjir di daerah hilir serta kekeringan panjang saat kemarau akibat rusaknya ekosistem pegunungan. Pengalaman lapangan ini membuka mata peserta tentang keterkaitan langsung antara kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut para peserta juga melakukan penanaman pohon bersama masyarakat dan melakukan aktivitas jelajah alam dengan mengunjungi tempat-tempat atraksi alam yang menarik seperti Kedung Prau, Gua lawa, juga melihat situs kura-kura purba.

(Foto: Iwan Firman W)
Selain itu, peserta juga berdialog dengan tokoh masyarakat serta tokoh agama Islam setempat. Beberapa ustad – di antaranya Ustad Suparmin, Kyai Surasno, dan Gus Sulhan – memberikan perspektif keagamaan tentang tanggung jawab menjaga bumi sebagai amanah Tuhan. Peserta juga diajak berkunjung dan berdialog dengan tokoh.
Fasilitator yang mendukung program ini adalah Pdt. Em. Josef Purnama Widyatmadja, Pdt. Paulus Hartono, Pdt. Em. Sri Mariani Gunawan, Pdt. Sugianto, Pdt. Lanny, Pdt. Em. Mulyadi, Pdt. Rudiyanto, Pdt. Madi Utomo, dan Pdt. Iwan Firman Widiyanto.
Sedangkan para peserta yang terlibat dalam program ini berasal dari gereja, lembaga dan organisasi Kristen seperti Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), Jemaat Kristen Indonesia (JKI), Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Wijna, dan Universitas Petra.
Membangun Kerukunan – Mematahkan Prasangka
Program SALT memberikan ruang dialog dan perjumpaan lintas iman yang hangat, jujur, dan transformasional. Para peserta mengaku mendapatkan pengalaman berharga dalam membangun pemahaman bersama, meruntuhkan stereotip negatif, serta memperkuat kerukunan di tengah keragaman.

Dengan semangat berbagi dan belajar untuk transformasi, SALT menjadi bukti bahwa kerja sama lintas agama, organisasi, dan komunitas dapat menghasilkan perubahan nyata – baik dalam cara pandang, relasi, maupun kepedulian terhadap lingkungan, dan kemanusiaan.
Program ini diharapkan menjadi model pembelajaran lintas iman yang mampu membentuk pelayan gereja yang peka, inklusif, dan siap terlibat dalam pemulihan kehidupan bersama di Indonesia.
(Iwan Firman Widiyanto)











betalovin@gmail.com
Seperti makanan tanpa SALT, Garam, Uyah, akan terasa Hambar. Program SALT membuat kehidupan ada rasa kedamaian hidup rukun meski dlm perbedaan.