MCC dan Wijna Tanam Lima Puluh Pohon Mangga di Perbukitan Kendeng, Dukung Pemulihan Hutan Pedak-Gower

Berita107 Dilihat

PATI — wartaintegritas.com — Upaya pemulihan kawasan hutan di Pegunungan Kendeng Kapur Utara terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Selasa (22/9/2026), sekitar sembilan orang dari Mennonite Central Committee (MCC) dan Yayasan Wahana Wijna Murti (Wijna) mengunjungi kawasan perbukitan Dusun Pedak-Gower, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Rombongan tersebut berasal dari beberapa negara, antara lain Kanada, Kenya, dan Filipina. Kunjungan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap upaya reboisasi dan pemulihan lingkungan yang dilakukan oleh Muria Damai Sentosa/Mennonite Diakonia Service Indonesia (MDSI) bersama Koperasi Bukit Asri Sentosa (Kopbas), komunitas petani hutan di Dusun Pedak-Gower.

Kedatangan rombongan disambut Ketua Kopbas, Herman, bersama sejumlah anggota koperasi. Herman menyampaikan kegembiraannya atas kehadiran MCC dan Wijna yang turut memberikan perhatian terhadap kondisi hutan di kawasan Kendeng.

Menurutnya, dukungan berbagai pihak menjadi penyemangat bagi masyarakat yang selama ini berupaya mengembalikan tutupan vegetasi di kawasan perbukitan yang mengalami kerusakan.

Pdt.Iwan Firman Widiyanto memberikan gambaran pelayanan MDSI dan konteks kerusakan hutan Kendeng (Dokumentasi : Herman)

Direktur Wijna, Adi Nugroho, menyampaikan apresiasinya atas sambutan dan penerimaan masyarakat Pedak-Gower selama kunjungan berlangsung.

“Terima kasih untuk Kopbas dan MDSI dan rekan-rekan semua atas hospitality-nya,” ujar Adi.

MDSI: Pemulihan Hutan Sekaligus Penguatan Ekonomi Masyarakat

Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Iwan Firman Widiyanto dari MDSI menjelaskan mengenai pelayanan MDSI sekaligus konteks kerusakan lingkungan di Pegunungan Kendeng Kapur Utara.

Ia menjelaskan, MDSI memiliki beberapa fokus pelayanan, yaitu respons terhadap bencana, pembangunan perdamaian lintas agama, pengembangan masyarakat, serta pemulihan lingkungan.

“MDSI bersama masyarakat telah mulai melakukan penanaman pohon sejak tahun 2022,” jelas Iwan.

Peserta antusias melakukan penanaman meskipun ditengah teriknya matahari (Dokumentasi: Herman)

Pohon buah dipilih sebagai salah satu jenis tanaman yang dikembangkan karena memiliki fungsi ekologis sekaligus potensi ekonomi. Selain diharapkan mampu membantu mengembalikan fungsi kawasan hutan, hasil buah pada masa mendatang juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang mengelola lahan.

Iwan menjelaskan, kawasan perbukitan Kendeng Kapur Utara pada masa lalu dikenal sebagai kawasan hutan jati. Namun, perubahan sosial-politik pasca-Reformasi 1998 turut membawa dampak terhadap kondisi hutan. Penjarahan hutan yang terjadi dalam kurun waktu sekitar satu dekade menyebabkan sebagian kawasan menjadi gundul.

Lahan yang kemudian terbuka banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menanam jagung. Namun, kondisi tersebut menimbulkan persoalan ekologis yang lebih luas.

“Gundulnya hutan Kendeng mengakibatkan banjir di wilayah Pati bagian bawah dari tahun ke tahun semakin besar, dengan wilayah terdampak yang semakin luas. Pada musim kemarau, wilayah perbukitan Kendeng juga mulai mengalami kekeringan air,” ungkapnya.

Selain persoalan banjir dan kekeringan, berkurangnya tutupan hutan juga berdampak terhadap keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

Arthur Mann: “Saya Melihat Ada Harapan”

Arthur Mann, Direktur MCC untuk kawasan Asia, mengungkapkan keprihatinannya setelah melihat kondisi hutan di kawasan Kendeng. Namun, ia juga melihat adanya harapan dari semangat masyarakat dan MDSI dalam melakukan pemulihan lingkungan.

Pasangan Kanada, Phyllis dan Arthur usai melakukan penanaman (Dokumentasi : Herman)

“Saya sedih dengan hutan yang gundul, namun saya senang melihat MDSI dan komunitas di sini bersemangat menanami kawasan ini dengan pohon kembali. Jadi, saya melihat ada harapan,” ujar Arthur.

Arthur bersama istrinya, Phyllis Mann, berasal dari Kanada. Phyllis juga menyampaikan harapannya agar pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya berdoa untuk pohon yang ditanam supaya bertumbuh, juga berdoa untuk orang yang akan memakan buahnya,” ungkap Phyllis.

Remaja Lintas Negara Ikut Menanam Pohon

Kegiatan tersebut juga diikuti oleh dua remaja putri, Anna dari Kanada dan Lavender dari Kenya. Keduanya sedang mengikuti program pertukaran pemuda dan turut ambil bagian dalam kegiatan penanaman pohon.

Lavender mengaku memiliki pengalaman yang menarik selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya tidak menyukai hiking. Namun hiking untuk menanam pohon saya sangat suka. Jadi, nanti kalau ada kegiatan seperti ini lagi jangan lupa undang saya lagi,” katanya.

Para peserta melepas lelah sejenak di kawasan sungai Kedung Perahu (Dokumentasi : Herman)

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kegiatan pemulihan lingkungan tidak hanya menjadi kegiatan ekologis, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan perjumpaan lintas negara bagi generasi muda.

Tanam Lima Puluh Pohon Mangga di Tengah Terik Matahari

Di bawah terik matahari yang menyengat, rombongan bersama masyarakat melakukan penanaman sebanyak lima puluh pohon mangga di kawasan Pedak-Gower.

Pemilihan pohon mangga merupakan bagian dari strategi penghijauan berbasis tanaman buah. Dalam jangka panjang, pohon-pohon tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi lingkungan sekaligus memberikan hasil yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pengelola lahan.

Untuk menjaga keberlangsungan tanaman, pengelola lahan juga merencanakan pembangunan sistem hidran yang akan digunakan untuk mengambil air dari sungai guna mengairi pohon-pohon yang telah ditanam, terutama pada musim kemarau.

Direktur MCC Indonesia, Regina, turut menegaskan komitmen lembaganya untuk terus mendukung pelayanan MDSI dan komunitas masyarakat di kawasan perbukitan Kendeng.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja bersama antara lembaga internasional, organisasi masyarakat, gereja, koperasi petani, dan komunitas lokal dalam memulihkan kawasan yang mengalami kerusakan lingkungan.

Setelah menyelesaikan kegiatan penanaman, rombongan meninggalkan kawasan Pedak-Gower sekitar pukul 11.30 WIB untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi lainnya sebelum kembali ke Salatiga.

Kegiatan penanaman lima puluh pohon mangga tersebut menjadi bagian kecil dari proses panjang pemulihan kawasan Kendeng. Bagi masyarakat Pedak-Gower, setiap pohon yang ditanam bukan hanya simbol penghijauan, tetapi juga sebuah harapan bagi ketersediaan air, keanekaragaman hayati, pengurangan risiko bencana, dan kehidupan ekonomi masyarakat di masa mendatang.

(Iwan Firman Widiyanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *