Pesparawi Sinode GITJ Tahun 2026: Kontingen GITJ Cindewuluh Juara I

Berita195 Dilihat

PATI – wartaintegritascom – Pujian merupakan bagian penting dalam ibadah Kristen. Dalam pujian ada otoritas kuasa Tuhan berkarya, karena pujian mengandung ungkapan syukur dan kerendahan hati umat-Nya di hadapan Tuhan. Di atas pujian Tuhan bersemayam dan di sanalah Tuhan bekerja. Setiap lirik lagu pujian telah mengalami pergumulan rohani serius yang mengandung makna mendalam pada keimanan bagi penggubah lagu pujian dan bagi kita yang menyanyikannya. Demikian khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Theofilus Tumijan, S.Th., pada kebaktian pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tingkat Sinode Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) yang digelar di kampus Sekolah Tinggi Agama Kristen Wiyata Wacana (STAKWW) Pati pada 25 Agustus 2026 yang lalu. Pesparawi tersebut dengan tema “Aku Hendak Memuji Tuhan pada Segala Waktu.” (Mazmur 34: 2a).

Ketua Umum Sinode GITJ Pdt. Ch. Teguh Sayoga, S.Th., M.A., M.Pd.K. dalam kata sambutan pada upacara pembukaan perhelatan tersebut mengatakan bahwa akhir-akhir ini gereja-gereja (GITJ) lebih suka menyanyikan lagu-lagu kontemporer yang tidak terikat pada aturan lagu notasi dan lirik yang njlimet. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang penting menyenangkan, walaupun mungkin makna teologisnya kurang mendalam, bahkan dipertanyakan. Di bagian selanjutnya dikatakan: “Jangan sampai Pesparawi sebagai tradisi gereja diakui oleh pihak lain, sebagai tradisi milik mereka.. Hal ini hendaknya menyadarkan kita, warga GITJ, untuk instropeksi diri dan kembali mencintai Pesta Paduan Suara Gerejawi sebagai gereja Mennonit yang ikut memiliki.” Mengakhiri sambutannya Gembala Jemaat GITJ Puncel tersebut juga berpesan: “Bagi para kontingen Pesparawi yang akan ‘berkompetisi’ berharap bukan semata-mata ingin meraih juara, melainkan lantunkanlah dan kumandangkanlah pujian dengan kesungguhan dan ketulusan hati, ‘Tuhan akan bertahta di atas pujian.’ Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya di tengah-tengah umat yang menaikkan pujian dan menyembah-Nya.”  

Sementara itu Ketua Panitia Pesparawi tersebut Andrik Agusta Prajabawa, M.Pd., mengatakan bahwa Festival Paduan Suara ini bukan sekedar ajang kompetisi atau perayaan seni semata. Lebih dari itu, kegiatan ini lahir dari kerinduan bersama untuk mengembangkan kapasitas musik dan vokal warga gereja dalam rangka memperkaya peribadahan kita melalui liturgy of awareness, progresive liturgy, dan contextual liturgy di lingkungan Sinode GITJ. Melalui pujian dan nada, kita diajak untuk memperdalam pembinaan mental spiritual, moral dan etika, sebagai perwujudan nyata iman Kristen, baik dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara yang berdasarkan Pancasila.

Pesparawi diselenggakan dengan 7 (tujuh) peserta dari gereja-gereja seantero Sinode GITJ yang telah terseleksi secara alami. Pesta yang mengundang tiga orang juri: Eriyani Tenga Lunga, Natalis Sidanta dan Samuel Arif B.S. Ketiga juri yang berkapasitas internasional tersebut memaparkan, bahwa power suara dalam paduan suara bukan satu-satunya yang dapat dinilai, tetapi ada faktor lain, seperti kenyamanan dan kepaduan suara yang nyaman didengar. Faktor lain yang mempengaruhi keindahan suara adalah teknik, intonasi, dan warna suara. Demikian juga kerja sama antara iringan piano dan penyanyi, keseimbangan antara melodi dan pengiring sangat mempengaruhi keselarasan suara.

Kontingen yang berhasil meraih juara pada Pesparawi tersebut adalah:

  • Juara I: GITJ Cindewuluh
  • Juara II: GITJ Ngablak, GITJ Sobat Setia, Ngawen dan GITJ Dukoh (gabungan).
  • Juara III GITJ Banyutowo.
  • Juara Harapan I: GITJ Margorejo Pati
  • Juara Harapan II: GITJ Sumberrejo, GITJ Sumberrejo Pepanthan Gadu, GITJ Beru Jrahi dan GITJ Karanganyar (gabungan)
  • Juara harapan III: GITJ Pati.

Juara I mendapat piala bergilir Sinode GITJ dan piala tetap, untuk juara lainnya mendapat piala tetap. Sedangkan piala apresiasi diberikan kepada kontingen GITJ Kudus. Disamping mendapat piala, para juara juga mendapat uang pembinaan dari panitia sesuai dengan tingkat kejuaraannya masing-masing. 

Pesparawi tingkat Sinode GITJ terakhir diadakan tahun 2016 yang lalu, terkait dengan hal tersebut, beberapa personal kontingan dan pemirsa dari warga GITJ yang berhasil dihubungi Warta Integritas mengharapkan bahwa perhelatan serupa bisa diselenggarakan dua atau tiga tahun sekali, untuk meningkatkan makna pujian di gereja, meningkatkan kualitas pujian serta meningkatkan keakraban dan persaudaraan di antara warga jemaat di lingkungan Sinode GITJ.

(Iskandar MZ)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *