Lilia Kumala Dewi dan Bara Brahmana Arumbinang Wajdi Wakili SMA N 1 Ambarawa Raih Juara I pada Lomba Proyek Biofest Competetion UKSW Salatiga

Pendidikan791 Dilihat

SALATIGA, wartaintegritas.com – Ternyata limbah bonggol sawi dan bonggol kubis merupakan limbah sayuran yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan biofoam ramah lingkungan.  Dikombinasikan dengan talas kimpul maka limbah tersebut bisa dijadikan sebuah polybag untuk menanam sayuran dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Kandungan serat dan selulosa di dalamnya menjadikan kedua limbah ini, bonggol sawi dan bonggol kubis berfungsi sebagai bahan penguat alami. Dalam 100 gram sawi terdapat serat sebesar 1,2 gram. Sementara itu, kubis diketahui mengandung sekitar 18,80% serat dengan kandungan selulosa alami yang berpotensi dikembangkan menjadi nanokristalin selulosa sebagai bahan penguat kemasan,” demikian urai Lilia Kumala Dewi (18) dan Bara Brahmana Arumbinang Wajdi (18) siswi kelas XII.1 SMA N 1 Ambarawa yang mengikuti lomba Proyek Biofest Competetion di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga,di Balairung UKSW Kamis 2 Oktober 2025 yang baru lalu.

Saat presentasi di hadapan dewan yuri (Foto: Erna Widyaningsih)

Selanjutnya kedua siswi ini menerangkan bahwa untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan biofoam yang dihasilkan, diperlukan bahan pengikat tambahan. Dalam hal ini, tepung talas kimpul menurut mereka berperan penting karena memiliki kandungan amilosa sebesar 15,4% dan amilopektin sebesar 81,5%, yang memungkinkan penggunaannya sebagai perekat alami pada pembuatan biofoam.

“Kombinasi bonggol sawi, bonggol kubis, dan tepung talas kimpul dapat menjadi formulasi alternatif dalam menghasilkan biofoam polybag ramah lingkungan yang biodegradable sekaligus memanfaatkan limbah pertanian secara optimal. Dengan mengombinasikan limbah bonggol sawi, bonggol kubis, serta umbi talas kimpul yang kaya pati, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan biofoam polybag yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mudah terurai, mendukung kesuburan tanah, dan berkontribusi terhadap pengurangan pencemaran plastik di sektor pertanian,” demikian penjelasan Lilia Kumala Dewi Dan Bara Brahmana Arumbinang Wajdi di hadapan para yuri.

Menjawab pertanyaan para yuri lomba (Foto: Erna Widyaningsih)

Proses persiapan panjang

Penelitian yang mereka lakukan selama bulan September penuh dengan aktivitas yang menyita perhatian dan waktu mereka selaku siswa.  Selain mereka tetap aktif mengikuti pelajaran di sekolah, mereka juga berusaha mengumpulkan bonggol-bonggol sawi dan kubis, merajang, menjemurnya hingga kering.  Mereka dengan dibantu guru pembimbing mengumpulkan bonggol-bonggol tersebut di tempat penjual tahu campur yang menggunakan kubis sebagai sayuran untuk membuat makanan tahu campur  itu.

Mereka juga berburu bahan kimia yang digunakan di Semarang seperti natrium bisulfit, polivinil alcohol (PVOH), magnesium stearat, air, pupuk cair EM4, dan kitosan.  Dari toko kimia satu ke toko kimia yang lain, dengan guru pembimbing mereka, mereka sambangi hingga petang hingga berhasil mendapatkan bahan kimia yang mereka harapkan.  Kadang mereka harus pulang agak lambat.  Sementara rekan-rekan mereka sudah bercengkerama dengan keluarga di rumah, mereka masih harus mempersiapkan dan melakukan penelitian mereka.

Hasil uji biodegradasi

Dari hari ke hari selama bulan September kedua siswi  lakukan apa yang mereka sebut sebagai  uji biodegradasi.  Hasil uji yang mereka lalukan memperlihatkan bahwa potongan biofoam polybag dari berbagai komposisi formulasi mengalami perubahan nyata selama periode penguburan di dalam tanah. Pada hari ke-0, sampel masih terlihat utuh dengan tekstur padat, kaku, serta belum menunjukkan adanya tanda-tanda pelapukan. Memasuki hari ke-5, struktur biofoam mulai melembek dan permukaan sampel tampak lebih kasar akibat kontak dengan kelembaban tanah. Pada hari ke-7, degradasi semakin jelas terlihat melalui adanya penyusutan ukuran, berkurangnya kekokohan struktur, serta munculnya bagian yang rapuh dan mudah hancur ketika disentuh. Selanjutnya, pada hari ke-21, hampir seluruh sampel telah menyatu dengan tanah sehingga sulit dipisahkan dari media uji, menandakan bahwa material mengalami penguraian secara alami oleh aktivitas mikroorganisme tanah.

Polybag hasil olahan paduan bonggol sawi, bonggol kubis, dan tepung talas kimpul (Foto: Erna Widyaningsih)

Lilia Kumala Dewi yang biasa dipanggil Lilia dan Bara Brahmana Arumbinang Wajdi yang biasa dipanggil Bara, selanjutnya menyimpulkan bahwa Hasil uji kuat tarik menunjukkan bahwa formulasi 50% bonggol kubis : 50% tepung talas kimpul memiliki daya kuat tarik tertinggi (5,85185 kPa) dengan rata-rata mampu menahan beban hingga 2,63 kg. Formulasi 25% bonggol sawi : 25% bonggol kubis : 50% tepung talas kimpul berada di posisi menengah (4,96732 kPa; 2,53 kg), sedangkan 50% bonggol sawi : 50% tepung talas kimpul terendah (3,53742 kPa; 1,73 kg). Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik serat, di mana serat kubis yang lebih padat dan kaku menghasilkan ikatan lebih kuat dibandingkan serat sawi yang halus dan longgar.

Tampil percaya diri

Saat tampil di hadapan para yuri, mereka hanya berdua, sementara perwakilan dari sekolah-sekolah yang lain ada yang tiga, bahkan sampai lima orang.  Tetapi dengan penguasaan materi yang mantap, setelah lolos seleksi, mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan para yuri dengan taktis dan meyakinkan. 

Akhirnya saat diumumkan, Lilia Kumala Dewi  yang biasa dipanggil Lilia dan Bara Brahmana Arumbinang Wajdi yang biasa dipanggil Bara hasil penelitiannya meraih Juara I.  Juara II diraih oleh siswa perwakilan SMA Kristen Satya Wacana Salatiga.  Juara III diraih oleh siswa perwakilan SMA N 1 Cawas Klaten, sedang Juara Harapan dicapai oleh siswa perwakilan SMA N 1 Teras Boyolali.

Bersama pembimbing dan polybag hasil karya penelitian (Foto: Erna Widyaningsih)

Atas keberhasilannya ini maka Lilia dan Bara mendapatkan penghargaan berupa piala, sertifikat dan uang pembinaan 2 juta rupiah. 

Lilia dan Bara  saat dimintai komentarnya karena berhasil menjadi Juara I itu keduanya merasa senang karena sebelumnya  tidak menyangka kalau menang. 

“Sempat agak takut karena persiapan untuk presentasi waktunya nggak banyak.  Sempat minder juga melihat peserta yang lain.  Tetapi saat  melihat mereka hanya baca info di power point saat menjawab, kami menjadi optimis,” demikian Bara menjelaskan.  Mereka menurut Bara menjawab langsung pertanyaan yuri seperti berdialog, tanpa mereka melihat ke layar LCD dimana mereka tampilkan power pointnya. 

Keduanya baik Lilia yang ingin kuliah di Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta dan Bara yang ingin kuliah di Kedokteran Gigi UNDIP Semarang, berharap bisa mengikuti lomba sejenis di tingkat nasional. 

Mohon dukungannya (Adertorial: Pewarna Jateng)

Erna Widyaniningsih (56)  selaku guru pembimbing berharap selanjutnya bisa lebih ditingkatkan lagi prestasi keduanya.

“Semoga Lilia dan Bara bisa melakukan penelitian-penelitian yang baru.  Semoga juga bermanfaat untuk studi lebih lanjut karena mereka ingin kuliah di kedokteran,” demikian Erna Widyaniningsih yang kesehariannya mengajar siswa mata pelajaran Fisika di SMA N 1 Ambarawa.

Selamat kepada Lilia Kumala Dewi dan Bara Brahmana Arumbinang Wajdi dan SMA N 1 Ambarawa, ke depan semoga lebih lagi bisa berprestasi!

Oleh: Suyito Basuki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *