Oleh: Suyito Basuki *)
Menurut penuturan Soedjono Harsosoedirdjo seorang pendeta di jemaat GITJ Margorejo Tayu, yang masih memiliki kedekatan hubungan dengan keturunan Tunggul Wulung, dalam buku Tata Injil di Bumi Muria, hal. 27, Tunggul Wulung masih memiliki silsilah keturunan bangsawan istana Puro Mangkunegaran Solo. Nama kecilnya R. Tondo, lahir sekitar tahun 1800-an dari seorang selir.
Setelah dewasa bekerja di Kediri sebagai seorang demang dalam pemerintah kolonial Belanda dengan nama Raden Mas Demang Padmodirdjo. Antara tahun 1825-1830 ikut melibatkan diri dalam melawan Belanda dengan bergabung dalam perjuangan Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro dipatahkan perlawanannya oleh siasat Jendral Hendrik Marcus de Kock, kemudian menghilang dan mencari penghidupan di desa Ngalapan Juwana Jawa Tengah. Berganti nama Amat Dullah menurut pengakuannya kepada misionaris Pieter Jansz di Jepara atau Ngabdullah menurut pengakuannya kepada Residen Jepara.
Bertapa dan Temukan Identitas Baru
Kesuksesan hidupnya tidak membawa sejahtera. Oleh karena itu dia kemudian mencari ketenangan batin dengan memberi harta kekayaannya kepada orang yang membutuhkan. Suatu hari dengan membawa peti uangnya yang sudah kosong, di kota Juwana dia bertemu dengan tukang kuda kontrolir, pembantu sahabatnya. Kemudian dengan dalih meminjam kuda itu, akhirnya kuda itu dilarikan ke arah Semarang. Di desa Lo-Ireng daerah Semarang Timur inilah, Amat Dullah belajar kekristenan dari seorang pendeta yang bernama Bruckner dan kawan-kawannya dari misi NZG. Belum lama tinggal di Semarang dan belajar kekristenan Amat Dullah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dijatuhi hukuman dengan dibuang ke Sulawesi.
Di tengah perjalanan menuju Surabaya yang rencananya kemudian ke Sulawesi, Amat Dullah berhasil melarikan diri, menghilangkan jejak menuju daerah Kediri dan naik ke Gunung Kelud. Dia berganti nama Tunggul Wulung. “Tunggul “ merupakan nama bendera yang sering dikeramatkan, “wulung” adalah warna hitam keungu-unguan atau jenis burung buas biru hitam sekerabat dengan elang. Nama ini merupakan mitos penunggu kawah api Gunung Kelud. Nama ini juga menunjuk nama pahlawan kerajaan Kediri masa pemerintahan Prabu Joyoboyo lebih kurang 1150 M.
Pertemuan Tunggul Wulung dengan Endang Sampurnawati terjadi di tempat pertapaan di Gunung Kelud. Endang Sampurnawati adalah puteri dari Bupati Kediri yang senang melakukan pertapaan. Terjadi perdebatan di antara mereka. Teka-teki yang diajukan oleh Endang Sampurnawati: Ana kemiri tiba saiki, kena dijupuk dhek wingi. Teka-teki dari Tunggul Wulung: Ratu Adil mertamu, tamu mbagekake kang didhayohi, sebiting tanpa sangu. Kedua teka-teki ini sama jawabnya yakni: Yesus Kristus. Akhirnya mereka sepakat untuk berdiri sama tinggi, duduk sama rendah sebagai suami istri.
Di dalam pertapaan itu, Tunggul Wulung menemukan secarik kertas dengan ayat-ayat kitab suci yang berisi 10 perintah Allah. Kemudian Tunggul Wulung belajar kekristenan pada misionaris J.E. Jellesma, utusan NZG di Mojowarno. Saat Jellesma mengajar, Tunggul Wulung datang dengan aji panglimunan, sehingga tidak diketahui oleh orang banyak. Namun saat jemaat pulang, Jellesma mendekatinya dan menegurnya. Tunggul Wulung merasa ngelmunya telah dikalahkan. Adapun Tunggul Wulung datang ke rumah Jellesma karena sinar ajaib yang ternyata bersumber dari rumah Jellesma. Ternyata sinar ajaib itu berasal dari kitab yang tengah dibaca oleh Jellesma.
Ciri-ciri fisik Tunggul Wulung, menurut kesaksian S.E. Harthoorn, seorang misionaris yang lain yang bekerja di Jawa Timur: “Luar biasa untuk generasinya, terutama rupanya. Orangnya tinggi perawakannya dan ramping tubuhnya, dengan rupa yang memukau, pemandangan tajam serta hidung yang tajam. Tentunya orangnya kuat dan pemberani.”
Selesai belajar selama dua bulan, terutama tentang Hukum Sepuluh Perintah Allah, Pengakuan Iman Rasuli, dan Doa Bapa Kami, Tunggul Wulung mengabarkan Injil. Mula-mula ke desa Belum dekat Ngoro, distrik Kertosono Karesidenan Kediri. Kemudian ke Pelar, desa terpencil di Malang, kemudian ke Dimoro (Kepanjen), Jenggeri (Malang) dan di Junggo (Pandakan). Malahan ada yang berpendapat Tunggul Wulung melakukan perjalanan keliling ke Kediri, Banyumas, Kudus, Rembang dan sekitarnya. Bahkan ada sumber yang mengatakan sampai juga ke Salatiga, Semarang, Jepara, dan Kayu Apu (Kudus). Tahun 1854 Tunggul Wulung diminta oleh Sem Sampir, pembantu misionaris di Jepara yang berasal dari Jawa Timur untuk membantunya mengabarkan Injil di Jepara dan sekitarnya.
Menolak Tawaran Pieter Jansz
Pieter Jansz missionaris Belanda dari DZV, saat bertemu dengan Tunggul Wulung, memberi tawaran untuk menjadi pembantunya, tetapi diharuskan belajar lagi untuk beberapa bulan hingga setahun. Pieter Jansz menilai, pemahaman kekristenan Tunggul Wulung masih dangkal.
Tunggul Wulung menolak tawaran bergabung dan belajar pada Pieter Jansz. Alasannya, Pieter Jansz lebih muda sekitar 10 tahun, sementara Tunggul Wulung adalah bangsawan dengan segudang pengalaman, termasuk pengalaman menjadi pejuang Pangeran Diponegoro. Lagi pula, visi pelayanan Tunggul Wulung adalah pedesaan, bukan perkotaan seperti visi Pieter Jansz. Babad alas, seperti tradisi orang Jawa, dan itu dilihatnya di Jawa Timur, adalah tradisi orang Jawa membuka lahan baru, penghidupan baru. Orang desa menurut Tunggul Wulung masih polos, beda dengan orang kota.
Jansz tidak setuju dengan pendapat Tunggul Wulung sepenuhnya, karena orang Kristen hendaknya menjadi garam dan terang dunia di mana pun mereka berada. Untuk memperdalam kekristenan, Tunggul Wulung kemudian kembali ke Mojowarno, belajar lebih lanjut kepada Jellesma sehingga kemudian dibaptis pada bulan Mei 1855 dengan tambahan nama baptis Ibrahim.
Babad Alas hingga Ditegur Wedana
Saat Tunggul Wulung babad alas di Ujung Jati, wilayah Bondo, maka dipanggil oleh Wedana Banjaran (Bangsri?) karena tidak ijin. Tetapi Tunggul Wulung tidak mau datang, sehingga Wedana sendiri yang datang ke Ujung Jati. Ketika ditanya kenapa melanggar aturan cara berpakaian orang Jawa yang dilarang meniru berpakaian Eropa, maka Tunggul Wulung berkelit: “Yang melanggar siapa? Sebab saya membeli. Kalau begitu yang menjual saja yang tuan anggap melanggar, sebab ada yang menjual juga ada yang membeli.”
Akhirnya karena Wedana kebingungan, maka dilaporkanlah kepada Bupati Jepara. Akhirnya Bupati Jepara memanggil Tunggul Wulung, sehingga setelah dipahami oleh bupati, maka Tunggul Wulung akhirnya diberi ijin. Sejak itu timbul pameo di Bondo:”Bondo, bandha bondhan tanpa ratu, ngetepeng tanpa tinandur.” Yang artinya kurang lebih: orang hidup yang dihormati, tanpa dikuasai atau menguasai orang lain, tiba-tiba menjadi orang pandai tanpa guru.
Metoda Jagongan
Pengajaran yang dilakukan dengan cara jagongan, waktu malam menjelang tidur dengan bersantai sambil melepas lelah. Ini yang membedakan dengan cara penginjilan Pieter Jansz. Setelah penginjilan Jansz tidak memelihara domba-domba dengan cara khas Jawa seperti ini, sehingga terkesan domba-domba tersebut kurang pemeliharaannya.
Dari Ujung Jati kemudian pindahlah jemaat ke Bondo. Hanya saja, Endang Sampurnawati tidak mau pindah, karena kecintaannya dengan desa Ujung Jati. Sehingga Tunggul Wulung kemudian tinggal serumah dengan janda pak Kalimin, di mana dia memimpin jemaat dengan didampingi oleh Karno Daniel, anak almarhum Laut Gunawangsa. Untuk membedakan dengan jemaat asuhan Pieter Jansz, maka menyebut jemaat Bondo sebagai “Kristen Jawa”, sedangkan orang Kristen yang dipimpin misionaris asing disebut “Kristen Londo”.
Untuk mengabarkan Injil, tidak perlu petugas khusus, seperti para misionaris; semua cukup dari kesadaran pribadi. Tunggul Wulung tidak perlu menjadi petugas penginjil resmi apalagi harus di bawah kuasa bangsa asing. Pembantu-pembantunya tetap disekolahkan sebagaimana mestinya, tetapi dalam bekerja tidak ada gaji. Hidupnya tergantung dari perbuatan dan pekerjaannya. Caranya, tidak perlu harus seperti misionaris dengan ceramah dan “pembodohan”, dengan menganggap orang-orang yang diinjili sebagai orang yang tidak tahu apa-apa tentang keselamatan dan Juru Selamat.
Tunggul Wulung sadar bahwa lapangan kerjanya tidak seperti itu. Orang Jawa sudah mengenal apa itu keselamatan dan Juru Selamat, biarpun menurut pengertiannya sendiri. Karenanya dia tidak mau bekerja mengikuti cara-cara misionaris bekerja. Dia memilih cara-cara yang biasa berlaku di Jawa untuk mengabarkan Injil Kristusnya. Jagongan, cerita-cerita sambil melepas lelah sehabis kerja, atau melalui perdebatan ngelmu dan sebagainya.
Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) mewarisi hasil pekerjaan Tunggul Wulung dan Pieter Jansz dan beberapa tokoh lokal lainnya. Keunikan gereja dengan berbasis budaya Jawa yang berkembang di sekitar Gunung Muria ini adalah jemaat desa yang guyup kehidupannya yangmemiliki kebersamaan dalam membangun sinode dalam rangka bersaksi kepada masyarakat dan bahkan dunia. (Disarikan dari berbagai sumber)
*) Penulis menyelesaikan studi S1 di FKIP UNS Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan S2 Master of Divinity serta Magister Theologi di STII Yogyakarta






