KAB. SEMARANG – wartaintegritas.com – Bertempat di Wisma Elika, Bandungan Kabupaten Semarang, Jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Semarang Wilayah A dan E, Minggu 19 Juli 2026 adakan ibadah padang. Pada ibadah padang tersebut, Christdian A. Masihoroe pencipta lagu rohani berbahasa Jawa diundang untuk mengisi renungan dan memberi testimoni proses kreatifnya dalam mencipta lagu-lagu rohani berbahasa Jawa.
Beberapa lagu yang dinyanyikan bersama oleh Christdian A. Masihoroe pencipta lagu serta jemaat GITJ Semarang Wilayah A dan E, dalam acara Ibadah Padang tersebut antara lain adalah: Ana Gusti Yesus, Kabeh Disyukuri, dan Aja Rewel.
Lirik lagu Kabeh Disyukuri, pada bagian refrein terasa memberi inspirasi dan semangat supaya pendengar lagu tidak mengeluh tetapi tetap bersyukur dan menjalani kehidupan dengan keyakinan iman. Oleh karena itu saat jemaat GITJ Semarang menyanyikan lagu itu, terasa sekali semangatnya.
Kabeh disyukuri, kabeh dilakoni/ Apa sing jarene Gusti/ Kudu mbok turuti/ Apa anane Gusti Yesus saged memberkati.
Selain itu sebuah lagu yang dinyanyikan bersama-sama, memberi pesan kepada pendengarnya bahwa dalam situasi yang sulit jangan hanya diam saja, tetapi tetaplah melangkah, melakukan apa yang bisa dilakukan. Selain itu lagu yang berjudul Dilakoni Wae ini juga memberi motivasi supaya dalam melakukan apa saja hendaknya diserahkan kepada Tuhan yang maha kuasa. Karena Tuhan yang mahakuasa itu tahu terhadap kesulitan hidup yang dirasakan manusia.
Lirik lagu itu sebagai berikut:
Yen abot uripmu/ rasa nyesek njroning dhadha/ rasane ra kuat marga kasunyatan donya/ ra ana sing ngerti larane atimu/ Mung ana, tangis lan kuciwa// Urip iku abot ja digawe abot/ Kowe bakal bisa meski urip ki rekasa/ Ning kowe kudu percaya, uga sregep donga/ pasraha aja nggresula
Dilakoni wae, Gusti mboten sare/ Gusti wis ngendika yen ra pernah ninggalke kowe/ Yen abot rasane aja meneng wae/ Gusti bakal ngeki ayem tentrem marang kowe// Dipasrahke wae, marang Gusti Yesus/ Opo sing tok rasakake Gusti wes ngrasakake/ percaya marang Firmane, Percaya marang janjine/ dilakoni wae.
Christdian yang semula tinggal di Malang Jawa Timur, saat ini sudah sekitar dua tahun ini tinggal di Salatiga. Dia berharap karya-karya lagunya bisa berkembang dan diminati oleh masyarakat Jawa Tengah. Di hadapan jemaat GITJ Semarang, Minggu 19 Juli 2026 di Wisma Elika Bandungan, dia berkisah tentang proses kreatifnya dalam penciptaan lagu.
Christdian mengaku bahwa lagu-lagunya yang bisa didengar melalui YouTube dan Tiktok, berawal dari pergumulan hidupnya pribadi. Meski lagu-lagunya bisa digolongkan lagu rohani Kristiani, tetapi yang menyanyikan tidak saja umat Kristiani. Mereka yang dari umat non Kristiani, ada yang minta ijin untuk ikut menyanyikan lagu ciptaannya. Frase “Gusti mboten sare” dalam lagu Dilakoni Wae rupanya ada di hati orang Jawa yang sudah terbiasa dengan frase tersebut, sehingga lagu itu disukai banyak kalangan.
Ichsanudin (73), salah seorang peserta kegiatan menyebutkan bahwa penyampaian renungan oleh Christdian AM sangat baik. “Ayat-ayat yang disampaikan sangat bagus, memimpin kami, domba-domba-Nya kepada Sang Gembala,” demikian Ichsanudin yang pernah menjadi Ketua sebuah Yayasan Pendidikan universitas yang terkenal di kota Salatiga.
Lebih lanjut, Ichsanudin yang juga pemerhati bahasa dan budaya Jawa mengatakan bahwa dia sempat menyampaikan masukan terkait lirik-lirik lagu berbahasa Jawa. “Sesudah acara, kami berbicara bersama dengan Pak Christdian, bercakap-cakap tentang lagunya, khususnya kata-kata bahasa Jawa yang ia gunakan, yang menurut saya kurang tepat pemakaiannya. Dan Pak Christdian menerima masukan-masukan saya.” Demikian Ichsanudin memberikan penjelasan.
Memang kalau dilihat lirik-lirik lagu yang diciptakan Christdian, khususnya lagu “Dilakoni Wae” ada kata-kata “ngeki” (memberi) oleh Tuhan kepada manusia, agak aneh bagi orang Jawa Tengah. Christdian sendiri mengakui bahwa lirik-lirik lagunya memang dipengaruhi oleh bahasa Jawa Timuran. “Saya menggunakan kata ‘mari’ yang berarti ‘sudah’, padahal di Jawa Tengah kata ‘mari’ tersebut berarti ‘sembuh’” demikian urainya. Di samping itu, alkitab yang dia baca terkait dengan proses kreatifnya dalam mencipta lagu adalah alkitab bahasa Jawa terbitan negara Suriname.
(Suyito Basuki)










