GKI Surya Utama Menanam Harapan di Bukit Kendeng: dari Penghijauan hingga Penyediaan Air Bersih

Peristiwa384 Dilihat

PATI – wartaintegritas.com – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surya Utama Jakarta melakukan kunjungan pelayanan ke Dusun Pedak dan Gower, Kabupaten Pati, pada tanggal 28–29 Juli 2026. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan sukacita bagi masyarakat, tetapi juga membawa harapan baru melalui dukungan terhadap program penghijauan dan penyediaan air bersih di kawasan pegunungan Kendeng tersebut.

Kunjungan merupakan bagian dari program Field Trip Bukit Pedak-Gower: Layanan Diakonia Gereja, Lingkungan, dan Masyarakat yang bertujuan memperkuat kolaborasi antara gereja dan masyarakat dalam membangun ekosistem yang lestari sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Peserta berfoto bersama di depan kantor kopbas dan KTH Pedak (Foto: Sheila Rebeca)

Program ini merupakan kelanjutan dari pendampingan Muria Damai Sentosa (MDS) Indonesia sejak tahun 2023, yang sekarang bekerjasama dengan Koperasi Bukit Asri Sentosa (Kopbas) dan Kelompok Tani Hutan dalam merespons kerusakan hutan di kawasan Bukit Pedak-Gower akibat penebangan liar yang memicu krisis air bersih, banjir bandang, serta menurunnya produktivitas pertanian. MDS Indonesia bersama masyarakat menargetkan penanaman 10.000 pohon produktif di lahan seluas sekitar 100 hektare hingga pada tahun 2027.

Menanam Harapan bagi Kendeng

Sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan, rombongan GKI Surya Utama menanam 15 pohon di kawasan perbukitan Kendeng sekitar Dusun Pedak-Gower. Penanaman ini menjadi langkah awal dari rencana penanaman ratusan bibit pohon lainnya yang akan dilakukan pada musim penghujan agar tingkat keberhasilannya lebih tinggi.

Gerakan penghijauan ini diharapkan mampu memulihkan kawasan hutan yang telah mengalami degradasi sekaligus meningkatkan daya resap air tanah, mengurangi risiko banjir, serta memperbaiki keseimbangan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat sekitar.

Dukungan Air Bersih bagi Masyarakat

Selain penghijauan, GKI Surya Utama juga memberikan dukungan berupa bantuan pengeboran sumur sebagai upaya meningkatkan ketersediaan air bersih bagi warga Pedak dan Gower yang selama ini menghadapi tantangan serius pada musim kemarau.

Peserta berfoto di fosil kura-kura purba (Foto: Sheila Rebeca)

Peletakan batu pertama pembangunan tempat tandon air dilakukan secara simbolis oleh Pdt. Yolanda Pantauw, Gembala Jemaat GKI Surya Utama Jakarta. Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan oleh Tony, Pdt. Paulus Hartono, dan Pdt. Madi Utomo. Selanjutnya seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa bagi lokasi yang akan menjadi titik pengeboran sumur.  Momentum ini memperlihatkan  bahwa pelayanan gereja juga perlu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

Belajar Diakonia Transformatif di Tengah Alam Kendeng

Selama dua hari satu malam, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang padat namun penuh sukacita. Mereka diajak mengenal lebih dekat praktik diakonia transformatif yang dikembangkan MDS Indonesia melalui pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Peserta juga mengunjungi berbagai lokasi menarik di kawasan Kendeng, antara lain Kedung Prahu, fosil kura-kura purba; menyusuri Goa Lawa; hingga menikmati panorama dari Bukit Layang-layang. Dari puncak bukit tersebut peserta dapat menyaksikan bentang alam bekas Selat Muria, yang dahulu memisahkan Pulau Muria dengan Pulau Jawa sebelum mengalami sedimentasi berabad-abad yang lampau.

Meneladani Jejak Mbah Sastro Ngajiman

Perjalanan spiritual peserta juga diwarnai dengan kunjungan ke makam Mbah Sastro Ngajiman, salah seorang bagian dari komunitas Samin yang ada di Pati yang kemudian menjadi Kristen.   Ia memiliki peranan besar dalam sejarah pertumbuhan gereja di  Gower.  Saat ini di Gower terdapat Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) dan Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI). 

Pdt madi Utomo menceritakan sejarah mbah Sastro Ngajiman (Foto : Sheila Rebeca)

Pdt. Madi Utomo menjelaskan bahwa pelayanan mbah sastro Ngajiman juga dalam hal mengembangkan Pendidikan, “Beliau mengajari anak-anak muda yang ada di Pedak dan Gower untuk belajar membaca dan menulis, setiap malam, setiap sore.  Setelah ada yang pintar maka mereka bergantian mengajari adik-adiknya“.  Proses belajar mengajar tersebut terus berkembang hingga diadakan di gedung gereja GITJ dan kemudian terus berkembang menjadi Sekolah Dasar Inpres (Instruksi Prsiden). Iajuga menginisiasi pembangunan jalan penghubung dusun Pedak–Gower dan jalan-jalan lain di sekitar Pedak dan Gower.

Lalu pada tahun 1983, Ia bersama lebih dari separuh warga dusun Pedak Dan Gower mengajukan transmigrasi ke Teluk Nangka, Kalimantan Barat.  Disana Ia mempunyai banyak murid yang akhirnya menjadi pendeta.  Komunitas rintisannya tersebut kemudian bergabung ke Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Teluk Nangka.  Sedangkan di Gower, Pdt.Madi Utomo (GPIBI) dan Pdt.Sumarlan (GITJ) termasuk hasil pemuridan dari mbah Sastro Ngajiman.

Kolaborasi Gereja dan Masyarakat untuk Masa Depan

Kunjungan GKI Surya Utama menunjukkan bahwa pelayanan gereja dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Penghijauan, penyediaan air bersih, pendidikan, serta pelestarian sejarah dan budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan diakonia yang holistik.

Seorang peserta remaja putri bernama Caliska mengungkapkan kesan mendalamnya, “Pengalaman selama disini beda banget dengan di Jakarta, khususnya, tempe mendoannya juga enak banget”. ungkapnya disambut dengan gelak tawa peserta lainnya. 

Peserta bekerjabakti memindahkan batu untuk pondasi penampungan air (Foto : Sheila Rebeca)

Sedangkan seorang peserta yang sudah berusia senior bernama Widarso mengatakan, “Saya terkesan dengan penyambutannya yang luar biasa…terimakasih untuk hospitalitynya”

Semangat kebersamaan yang terbangun selama kunjungan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi gereja-gereja lain atau komunitas umum lainnya untuk turut ambil bagian dalam merawat bumi dan memberdayakan masyarakat. Di tengah tantangan krisis lingkungan dan perubahan iklim, aksi kecil seperti menanam pohon dan menghadirkan akses air bersih dapat menjadi benih harapan bagi masa depan Pegunungan Kendeng yang lebih hijau, lestari, dan sejahtera.

(Iwan Firman Widiyanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *