Gedung Stadstuin, Saksi Kekejaman Jepang dalam Pertempuran Lima Hari Semarang

Peristiwa154 Dilihat

SEMARANG, wartaintegritas.com – Bangunan yang saya pasang gambarnya ini sudah tak ada. Namun dulu pada era 1970-90an saya masih sering memasukinya untuk bermacam urusan.   Tanpa saya sadari sebelumnya, ternyata bangunan itu memiliki peran sejarah dalam rangkaian Pertempuran Lima Hari di Semarang. Maklum ketika dulu saya ke tempat itu masih sekolah.

Dari buku Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang, saya langsung teringat dengan foto ini karena dulu sering diajak orang tua saya ke Jomblang dan masuk di dalamnya. Pada masa perang, para pemuda menjadikannya tempat berkumpul. Mereka yang berkumpul adalah Angkatan Moeda Repoeblik Indonesia (AMRI).

Namun dalam pertempuran bangunan  ini direbut oleh serdadu Jepang. Karena kalah persenjataan, para pemuda pejuang kalah dan terjebak di dalamnya.  Tak pelak lagi serdadu Kekaisaran Jepang menjadikan ruangan sebagai tempat penyiksaan. Para pemuda dihabisi tanpa ampun. Bahkan para pemuda pejuang yang ditangkap dari daerah sekitarnya diseret ke dalam gedung di Jomblang itu. Terutama ke dalam bangunan utamanya.   Para serdadu menghilangkan nyawa puluhan pemuda tidak dengan tembakan melainkan dengan cara lebih kejam yaitu dengan bendo babi. Ini dituliskan pada buku sejarah.

Tentu saja banjir darah di dalam ruangan. Dan menambah marahnya pemuda pejuang di tempat lain yang mendengarnya. Maka tidaklah heran bila pemuda pejuang menjumpai serdadu atau orang Jepang geram dan langsung dihabisi. Bangunan ini sebelum perang, pada era Belanda disebut sebagai Stadstuin atau gedung pertunjukan. Dan pernah menjadi gedung bioskop Luna.

Mohon dukungannya (Advertorial: Pewarna Jateng)

Setelah era Jepang, mungkin sekitar tahun 1950-an dibeli oleh missi gereja. Menjadi tempat ibadah sampai tahun 1975. Kemudian gedung dijual karena gereja pindah ke tempat lain yang lebih besar.   Bangunan dibeli pengusaha di Semarang menjadi bioskop Metro dan bangunan tambahan sayap kanan dijadikan toko Metro.  Areal parkir ada di lahan belakangnya.

Entah pastinya kapan kemudian semua tutup dan  dibongkar menjadi pertokoan seperti yang sekarang bisa kita lihat.  Foto ini adalah tampilan setelah menjadi gereja pada  saat itulah diberi tambahan bangunan sayap kanan. Sebab pada era Belanda dan Jepang belum ada bangunan tambahan.

Stadstuin adalah gedung tempat hiburan era Belanda. Biasa ditampilkan tonil dan sebagainya. Di Kota Semarang ada sedikitnya tiga Stadstuin.   Sedangkan Pertempuran Lima Hari berlangsung pada 14-19 Oktober 1945. Pada 14 Oktober biasanya diadakan upacara peringatan di Tugu Muda Semarang.

Oleh: J. Christiono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait